
Thalia meninggalkan pelataran hotel dengan perasaan yang campur aduk. Senang, sedih, dan galau menyatu menjadikan jiwa Thalia seolah terlepas dari raganya. Mimpi yang menjadi nyata, bertemu dengan Erick bukan bagian dari rencananya.
Thalia menepikan mobilnya, ia termenung mengingat perkataan Erick.
"Bagian tersulit dari mencintai seseorang adalah tahu kapan harus melepasnya dan tahu kapan harus mengucapkan selamat tinggal." Thalia mengulangi perkataan Erick, airmatanya meleleh kembali.
"Yup, ini adalah part terberat dalam hidupku Erick. Setelah Rendy dan sekarang kamu." Thalia menyandarkan kepalanya yang pusing.
Pikirannya rumit, Thalia belum bisa memisahkan ilusinya dan kenyataan yang dihadapinya. "Haruskah jalan ini aku pilih Erick, haruskah aku menanggalkan egoku sekarang?!"
Tangannya mengepal keras menahan rasa. "Bertemu denganmu bukanlah sebuah kesalahan Erick, aku nggak menyesalinya."
Untuk sejenak Thalia menenangkan diri dan menghapus airmatanya. Ia dikejutkan dengan panggilan ponselnya, Erick merasakan kegelisahan Thalia.
"Udah nyampe?"
"Ehm, udah barusan." Thalia berbohong pada Erick.
"No, kamu belum sampai. Aku tahu itu, don't mind me Thalia. Belajar meskipun sakit."
Thalia hanya diam dan mendengarkan, Erick bisa melihatnya dengan mata Thalia begitu juga sebaliknya. "Iya."
"Dah jalan lagi, udah larut banget bahaya dijalan sendirian."
"Ok." Thalia hanya menjawab singkat dan menutup panggilan itu.
Thalia menghela nafas panjang, kepalanya pusing memikirkan apa yang ia alami. "Kamu bisa, pasti bisa!"
Thalia kembali mengarahkan mobilnya ke jalan dan kembali ke rumah. Jam menunjukkan pukul satu dinihari, ini rekor buat Thalia. Sebelumnya ia tidak pernah pergi hingga selarut ini.
Lampu ruang tamu bahkan sudah dimatikan hanya tersisa lampu temaram diruang keluarga saja. Thalia berjalan dengan langkah berat, dan tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang menantinya di ruang keluarga.
"David?!"
David yang sedari tadi menunggu nya tersenyum melihat kedatangan Thalia.
"Pagi Thalia."
"Aah, iya pagi." Thalia menjawabnya dengan kikuk, ia merasa tertangkap basah pulang di waktu yang sangat larut.
"Maaf, aku nungguin kamu disini. Apa kamu keberatan?"
"Ehm, nggak. Tapi, kenapa? Dimana Sean?"
"Dia dah tidur. Thalia … ada yang mau aku bicarakan ke kamu." David menghampiri Thalia dan meminta Thalia untuk duduk.
"Ada apa ini? Kok saya jadi curiga sama deg-degan gini?"
David kembali tersenyum, "Nothing, aku cuma mau bilang sesuatu aja. Boleh aku mulai?!"
"..."
"Just listen to me, Thalia."
"Thalia, aku tahu ini terlalu cepat untuk kita tapi … aku merasa yakin dengan perasaanku."
"Maksudnya?" Thalia masih bingung.
"Thalia, I love you. Will you be my wife, one for all time."
Thalia terkejut dengan ucapan David yang begitu cepat dan tiba-tiba. "What?!"
"Aku serius Thalia, maukah kamu menerima aku disisimu … menemanimu dalam suka dan duka, selamanya?"
David menggenggam tangan Thalia erat, dan kini David telah berpindah posisi. Berlutut didepan Thalia dan mereka saling menatap. Ada keraguan di mata Thalia, bayangan Erick masih mengisi hatinya tapi takdir menginginkan mereka berpisah.
"David …"
"Kalo kamu ragu, nggak perlu jawab sekarang. Apa pun jawabanmu, aku siap."
Thalia menatap David, ia tidak percaya semuanya berubah begitu cepat. Its like a miracle.
"Ya, aku mau David. Aku mau jadi istri kamu."
"Sungguh? Kamu terima lamaran aku ini?"
Thalia mengangguk, David memeluknya dengan erat. Ia begitu bahagia. Penantiannya selama beberapa jam terbayar sudah dengan ucapan Thalia.
"Thank you, Thalia. I really love you!"
Berkali-kali David menciumi Thalia, ia tidak bisa lagi membendung rasa bahagianya. Lampu tiba-tiba saja menyala terang, dan sebuah tepukan tangan terdengar.
"Sean? Kamu belum tidur?"
"Of course not, mana mungkin aku lewatin adegan romantis begini. Apalagi tokohnya kalian berdua, Like in a romantic scene in a novel right?!"
__ADS_1
"Sean?!" protes Thalia
"Kenapa? Aku juga baca novel Thalia, ini udah kayak scene CEO yang kebucinan ngelamar bawahannya kan?" Sean menggoda Thalia.
"You read a novel? romance novels?" Thalia terkekeh.
"Kenapa? Bukan kamu aja kan yang suka baca, me to?! Haaaiish, forget that! David I'm proud of you bro?!" Sean menghampiri David yang memberinya selamat.
"Kamu bisa melunakkan hati wanita garang ini, luar biasa. Aku turut bahagia, and you Thalia … waktunya menata hidupmu lagi. You deserve to be happy." Sean memeluk Thalia erat.
"Be happy Thalia, dan jangan ulangi kesalahan di masa lalu. Lupakan yang sudah terjadi, lupakan dia. Your future is here." Sean memberikan nasehat seraya mengusap lembut punggung Thalia.
"I will Sean … i will, and thank you untuk semuanya."
Malam yang penuh kejutan bagi Thalia. Kesedihan itu berganti dengan kebahagiaan. Thalia mencoba untuk bangkit dan menaklukkan ikatan gaib yang membelenggunya. Dan itu akan dimulai dari pernikahannya.
...----------------...
Siangnya Thalia tiba di hotel tempat Erick menginap. Baru saja ia mau mengetuk pintu, Erick sudah membukanya.
"Hai." sapanya dengan senyuman.
"Waah, masih nyambung dengan baik ya?!" Mereka berdua tersenyum.
"Udah beres-beres?"
"Udah, nggak bawa apa-apa juga kan."
"Lunch?"
"Yuk dah laper juga perut."
Erick bersiap dan Thalia menunggunya sejenak. Ia menatap cincin indah yang kini telah melingkar di jari manisnya. Dari tempatnya Erick memperhatikan Thalia yang tampak gusar.
"Ada apa?" Erick bertanya dan menghampiri Thalia yang tengah menatap jauh keluar jendela.
"Nothing." Thalia menjawab tanpa melihat Erick.
"Nothing? Tapi ngelamun gitu, tell me what happened?"
Keberanian Erick menuntunnya untuk memeluk Thalia dari belakang, menyusuri leher jenjang Thalia dan memberinya kecupan basah disana.
"Erick, dangerous! Don't do that beb!" Thalia mengingatkan, ia takut hasrat itu muncul kembali.
"Just a little bite, no more." Pikiran nakal Erick mulai menguasainya. Beberapa kecupan kecil didaratkan lembut kembali.
Mereka saling menatap, "Erick, I will marry."
"I know that, I see that moment."
"Dia melamarku semalam."
"Who?"
"David."
Erick tersenyum dan merapikan rambut Thalia. "Kamu berhak bahagia Thalia. Aku ikut senang. Akhirnya kamu nemuin lagi jodohmu."
"Apa ini keputusanku yang terbaik?"
"Kenapa nanya ke aku, itu hidupmu Thalia. Tapi kalo kamu nanya pendapatku, iya itu yang terbaik. Kamu nggak mungkin selamanya sendiri kan, kamu butuh pendamping. Sesuatu yang nggak bisa aku lakuin buat kamu, kasih sayang yang sebenarnya."
"Yeah, you're right." sahut Thalia pelan.
"Sedih lagi? Face it Thalia. Aku tahu kamu kuat."
Thalia tersenyum, "Aku lapar, jadi makan?"
"Nah gitu, aku juga lapar. Turun yuk."
Mereka makan siang bersama, diselingi obrolan ringan dan candaan khas dari mereka berdua. "Abis ini coba kamu nulis horor, biar bisa semua genre."
"Ehm, ide bagus. Hidupku juga penuh dengan kehororan, kayaknya sanggup deh." sahut Thalia dengan senyuman.
"Penulis horor biasa agak-agak beb."
"Iya agak miring, kayak kamu."
Mereka kembali tertawa, Thalia mengintip jam di ponselnya. "Udah jam dua lebih aja nih, udahan yuk?!"
"Eh kok cepet?" Erick melihat jam di ponselnya juga.
"Kenapa, mau nginep lagi?"
"Nggak, saya takut lupa jalan pulang."
__ADS_1
Thalia tersenyum mendengar jawaban Erick, jika dulu ia merona setiap mendengarnya sekarang Thalia hanya menganggapnya gurauan.
Mereka kembali ke kamar Erick untuk segera check out dari hotel. Erick harus check in segera di bandara. Thalia mengenggam tangan Erick, for the last moment.
"We will never meet again, right." tanya Thalia saat memasuki lift.
"Maybe, why?" Erick menatap Thalia, wajah yang selama ini hanya ia bayangkan dalam imajinasinya.
"May I kiss you, for the last. One kiss no more." pinta Thalia.
"Sure, come close and open your lips."
"Erick, kita nggak lagi chat. Its real!" Gerutu Thalia yang disambut gigitan kecil dari Erick disudut bibirnya.
Ciuman hangat itu berlanjut dengan dalam dan semakin menuntut, dan hampir saja memanas jika saja tidak dihentikan secara sadar oleh keduanya. Erick mengusap bibir basah Thalia,
"I will miss you and all the good memories about us."
"Me too. I love you Erick."
"Udah kayak salah satu scene di novel kamu ya." Thalia tersenyum karena mengingat adegan ciuman di lift dalam novel Erick yang romantis.
"Eh, iya juga ya. Kamu inget scene itu?"
"Gimana nggak inget, pas scene itu aku cemburu berat, kesel banget bayanginnya."
"Itu kan cuma dalam novel, kenapa kebawa perasaan."
"Erick, kita dalam pengaruh ikatan apa kamu lupa?"
"Iya juga sih, dah jangan diingat lagi. It's over now."
Mereka tiba di bandara tepat saat panggilan untuk check in terdengar.
"Udah waktunya."
"Thanks for everything Erick."
"Thanks for everything too Thalia, don't mind me ok. Semoga kamu bahagia sama dia, doaku yang terbaik untuk kamu. Jangan lupa undangannya buat aku."
"Ok, so kita nggak ketemu lagi?"
"No, demi kebaikan kita bersama."
"I Will Miss you Erick."
"Kita masih bisa chat dan saling dukung kan? Kita saudara sekarang, dan itu lebih baik dari ikatan apa pun."
Thalia mengangguk dan tersenyum. "Can I hug you?"
"Sure." Erick memeluk Thalia dengan erat tak lupa juga memberikan kecupan perpisahan di kening Thalia, wanita yang selama ini telah mencuri perhatiannya.
"Aku pergi dulu, Thalia. Jaga dirimu baik-baik, jaga kesehatan, and kasih aku keponakan yang lucu oke?!"
Thalia melepas kepergian Erick dengan lapang dada. Setidaknya ada kepastian yang ia dapatkan dari pertemuan dengan Erick. Thalia sudah tidak lagi hidup dalam bayangan seseorang, Thalia tidak lagi menjadi yang kedua, dan Thalia tahu dia memiliki tempat dihati Erick meskipun Erick selalu mengingkarinya.
"I still love you Erick, ada atau tidaknya ikatan itu. Kamu akan selalu menjadi bagian dari hidupku. Thanks, sudah mengenalkan lagi aku pada cinta yang aku lupakan."
Pesawat yang ditumpangi Erick lepas landas, "Goodbye Erick, kamu akan ada dan selalu dihatiku."
...****************...
...Jika rindumu ada...
...Mengapa masih kau simpan untuk dia?...
...Jika cintamu hidup...
...Mengapa aku yang merasa redup?...
...Bilah Mu memotong rasa menjadi dua...
...Tapi sayang aku tidak akan ada di sana...
...Aku hanya pecinta...
...Pada canda penyembuh lara...
...Aku hanya perayu...
...Pada senyum pematri kalbu...
...Aku hanya janji...
...Pada hati yang terus mengingkari...
__ADS_1
^^^El. Z^^^