Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 55


__ADS_3

Langit menghampiri Thalia sambil berlari, ia tampak sangat ceria dan terus saja mengoceh tentang banyak hal pada Thalia. Sesekali Thalia menanggapi ocehan Langit dan sesekali juga mencatat hal penting yang Thalia analisa dari Langit.


Langit membutuhkan kedua orang tua untuk mengatasi masalahnya. Sayang sekali Vina dan suaminya malah menyerahkan urusan Langit pada kedua orang pengasuh.


"Tante dokter kok nulis terus, kita main yuk?!" ajak Langit pada Thalia.


Thalia tersenyum, "Ehm, mainan ya? Tante punya ide!"


Thalia mengeluarkan sekantong biji kacang hijau yang sudah disiapkan dari rumah. Langit memperhatikan apa yang dilakukan Thalia dengan serius. Thalia menuangkan biji kacang hijau ke dalam mangkuk plastik dipinjamnya dari dapur Vina.


"Tante mau bikin bubur buat Langit?" tanyanya penasaran.


"Langit suka bubur kacang hijau ya?" tanya Thalia sambil tersenyum.


"Sedikit, rasanya aneh Tante!"


"Iya memang tapi baik buat kamu sayang."


Thalia menyingkirkan benda yang ada di meja, dan meletakkan mangkuk berisi kacang hijau di tengahnya. Mangkuk kosong lain juga di letakkan Thalia secara bersebelahan.


"Kok ditaruh sini Tante?" tanya Langit


"Ini permainannya, Tante minta kamu hitung biji kacang hijau ini. Terus pindahin ke mangkuk kosong." 


"Oh gampang!" Langit dengan antusias langsung menuangkan semua kacang hijau ke mangkuk kosong membuat Thalia terkejut dan tertawa.


"Sudah selesai!" ujar Langit dengan menunjukkan barisan giginya.


"No sayang bukan begitu. Ulangi lagi, kamu harus hitung satu persatu biji kacang hijau ini. No cheating?!"  ( nggak boleh curang?!)

__ADS_1


Langit menggaruk kepalanya tapi ia menuruti perintah Thalia. Perlahan ia mulai menghitung satu persatu biji kacang hijau dan dipindahkan ke mangkuk kosong lainnya.


Ini terlihat sepele, tapi ini adalah salah satu terapi bagi anak penderita hiperaktif. Terapi ini membantu anak melatih fokusnya pada satu hal. Karena anak hiperaktif biasanya sangat energik, apa pun menjadi pusat perhatiannya membuat mereka kesulitan berkonsentrasi hanya pada satu hal.


Langit awalnya begitu antusias menghitung, Thalia memperhatikan dan mencatat perubahan sikap dan ekspresi Langit setiap menitnya. Lama kelamaan Langit bosan dan tepat di menit kelima ia pun berteriak.


"Udah Langit capek!"


"No, sayang ayo lanjutkan lagi pelan-pelan saja!" kata Thalia


Langit menurut dan melanjutkan kembali menghitung. Tapi tak berlangsung lama, ekspresi nya mulai menunjukkan perubahan emosi. Langit menatap Thalia dengan tajam.


"Tante aja yang hitung sendiri!" katanya kesal


"Langit, nggak mau lanjutin?"


"No!"


Thalia hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia meminta kedua pengasuh Langit untuk membereskan kekacauan yang dibuat oleh Langit.


Kesal berlarian dan berteriak Langit kembali mendekati Thalia.


"Sudah lari-larinya?"


"Sudah! Capek."


"Tante mau kasih hadiah. Langit mau, tapi dengan syarat?" tanya Thalia.


"Apa itu Tante dokter?!"

__ADS_1


"Langit harus hitung kacang hijau seperti tadi setiap hari. Semampu Langit. Kalau berhasil sesuai sama keinginan Tante, kamu Tante kasih hadiah."


"Apa dulu hadiahnya?"


"Rahasia dong nanti nggak surprise. Emang Langit suka apa sih? Tante mau tahu?!"


"Tante kan janji mau kasih Langit kucing!"


"Eeh, kucing?" Thalia berpikir sejenak.


Yang dimaksud dia kucing mana nih, kucing beneran apa kucing yang dia lihat kemarin di villa …,


"Iya, kuuuucing!" sahut Langit sambil berlari lagi.


"Ok, tapi dengerin Tante dulu, bisa berhenti dulu larinya?!" seru Thalia pada Langit.


Langit akhirnya mau berhenti, ia pun mendekati Thalia dan menatap dengan intens pada dokter cantik teman mamanya itu.


"Dengerin Tante, Langit harus nurut sama tante dan kerjain semua tugas dari Tante. Tante nggak bisa kesini setiap hari jadi kirimin video Langit untuk Tante ya? Kamu bisa kan sayang?!" tanya Thalia dengan mengusap lembut rambut bocah menggemaskan itu.


"Jadi Langit harus kirim video setiap hari buat Tante?" tanya bocah itu lagi.


"Iya, bisa kan?!"


"Siiiiaaap Tante …" Langit kembali berlari membuat Thalia pusing.


Tapi tak lama kemudian Langit tiba-tiba saja berhenti, ia seolah ketakutan dan berjalan mundur. Thalia menyadari Langit tengah melihat sesuatu, ia pun segera berjalan mendekati Langit dan mendapati sesosok makhluk yang ia kenal.


Amy …,

__ADS_1


 


__ADS_2