Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 66


__ADS_3

Thalia berjalan ke area parkir, ia tiba-tiba sangat merindukan Erick. Kejadian hari ini sangat menguras perhatiannya membuat ia melupakan Erick sejenak. 


"Hai, lagi ngapain?"


"Baca-baca"


"Seharian baca terus?" tanya Thalia


"Nggak juga"


"Boleh aku pinjam bahu kamu? Rasanya hari ini sedih banget."


"Boleh, kenapa nih?"


Thalia tidak bisa bercerita lagi, ia menangis didalam mobilnya. Kehilangan Qiara benar-benar membuat Thalia terluka. Andai Thalia memiliki kekuatan untuk bisa menolongnya, andai Thalia bisa kembali meramalkan kematian seseorang Qiara pasti selamat.


"Are u ok? " tanya Erick


"No, I'm not but thanks for asking that." jawab Thalia dengan berderai airmata.


"What happened, tell me?!"


"Saya kehilangan seseorang yang sangat berarti."


"Who? Your boyfriend or someone else?"


Thalia kembali menangis, ia memutuskan untuk tidak bercerita dan menyalakan mesin mobilnya. Ia ingin segera pergi, membersihkan dirinya dari sisa kenangan Qiara dan tidur.


Selama perjalanan Thalia menangis, ia benar-benar tidak habis pikir di dunia ini ada ayah yang sekejam itu pada anaknya. Setibanya dirumah Thalia segera melepas pakaiannya yang sempat terkena tubuh Qiara, memasukkan dalam keranjang cucian dan segera mandi.


Membiarkan air hangat mengalir dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya, melepas semua kenangan mengerikan yang menjadi pengalamannya hari ini.


Cukup sudah, ini takdir Qiara … aku cuma bisa doain dia sekarang …,


Thalia merebahkan tubuhnya, ia lelah dan tertidur. Bayangan Qiara terus berkelebatan di memorinya. Tatapan mata Qiara dan perkataan terakhirnya seolah enggan menghilang dari ingatan Qiara.


Thalia menangis dalam tidurnya. Ia meringkuk dan memeluk erat dirinya sendiri, menenangkan jiwanya yang sedikit terguncang.


Sebuah suara seolah berbisik dan memanggil namanya dalam alam bawah sadarnya.


Thalia …,


Thalia tersentak bangun dari tidurnya. Suara itu kembali, entah apa yang mendorong Thalia untuk segera mengambil ponselnya dan menghubungi Erick.


"I Miss you." Thalia menuliskan pesan tanpa berfikir.


Erick hanya membalasnya dengan emoticon lucu.


"Saya mimpi ketemu kamu, dan bilang kalo kamu kangen saya? Aneh ya?" Thalia mencoba memberitahu Erick tentang mimpi yang selalu mengusiknya.

__ADS_1


Oh ya? Kamu sering ngalamin gitu? ..., tanya Erick.


"Maksudnya?"


Mimpi yang menjadi kenyataan, atau sesuatu yang kamu mimpikan jadi kenyataan?


"Sering, dulu malah bisa lihat kematian orang." jawab Thalia


Serius? Itu namanya kekuatan pikiran.


"Memang ada ya kekuatan seperti itu?" tanya Thalia heran


Erick hanya membalas dengan emoticon lucu lagi, seperti biasa.


"Saya kan nggak paham seperti itu, cuma tahu itu sebuah gift untuk saya."


"Kamu sudah up hari ini?" tanya Thalia lagi.


Udah


Thalia mengakhiri percakapannya dengan Erick dan kembali membuka aplikasi baca novel gratisnya. Ia lupa menjadikan novel terbaru Erick favorit, empat bab baru sudah diterbitkan rupanya.


Thalia mulai membacanya perlahan, percakapan antara dua tokoh utama itu membuat Thalia terhanyut dalam lamunan. Ia merasakan kecewa, sedih dan cemburu yang tiba-tiba saja hadir memenuhi hatinya.


Kok rasanya cemburu gini sih, inikan cuma cerita? Kenapa jadinya kayak nyata gini, parah deh si Erick bikin cerita kayak nyata gini …, 


Thalia mencoba memejamkan matanya, merasakan setiap kalimat yang tertulis disana. 


Cerita ini hidup karena ditulis sepenuh hati, emosi yang aku tangkap jelas sekali. Dia memasukkan keinginan, hasrat, kekuatan pikirannya, everything that he have is in here.


Ini kunci kekuatan novelnya, amazing … dia bisa bikin sebuah karya sehidup ini meskipun ini hanya pikiran ngehalu.


Thalia membaca sebuah mantra yang diajarkan sang tokoh utama pada kekasihnya. Ia mengerutkan keningnya. Ini hampir mirip dengan mantra yang pernah ia pelajari dulu. Mirip tidak berarti sama.


Erick mengirimkan pesan pada Thalia. 


Sibuk ya?


"Nggak, ada apa?"


"Nothing"


"Up nya bagus saya bisa ngrasain soul kamu di dalamnya."


"???"


"Saya bisa ngerasain kamu, entah kenapa? Aneh."


"Kenapa bisa aneh?"

__ADS_1


"Badan saya seperti punya alarm kalo saat kamu mau ngirim pesan. Lucu ya?"


"Kamu nggak berpikir kalo kamu kena mantra pengendali pikiran kan?"


"Mantra? Maksud kamu, pengasihan?"


"Iya"


"Nggak mungkin, mana bisa gitu?"


"Kamu mikir saya terus kan?"


"Tunggu, kamu menuliskan mantra pengasihan di novel kamu … itu beneran?"


"Ya"


"Serius"


"Sangat"


"Astaga … jadi??"


"Mungkin kamu terkena juga"


"Kamu bercanda!"


"Saya cuma bilang kemungkinannya ada."


Thalia tidak percaya dengan apa yang disampaikan Erick, ia pun meminta penjelasan pada Erick dengan sejelas jelasnya. 


Erick kemudian bercerita awal mula niatnya menulis novel itu, ia juga bercerita tentang niatan baiknya untuk menjalin persaudaraan dengan sesama pemilik ilmu yang sama. Tapi ia lupa bahwa banyak orang sensitif diluar sana yang bisa terkena efek mantra.


Ia sendiri sudah melepaskan beberapa orang yang ia rasa terjerat mantra miliknya. Dan sepertinya Thalia bukan satu-satunya. Erick menyesali tindakannya karena itu juga membuatnya sedikit kewalahan. Thalia kecewa.


"Jadi ada lagi selain saya?"


"Iya, maaf … "


"Berapa banyak?"


Erick tidak menjawab hanya kembali memberi emoticon senyum.


"Wow!"


"Yang paling parah sepertinya kamu, tapi ada lagi jg yg lain. Sudah saya lepasin tapi dia ... sedikit sulit."


Thalia hanya bisa menatap layar ponselnya dengan ekspresi rumit. Antara sedih, marah, kecewa tapi juga cinta.


What the hell … saya berasa masuk dalam lingkungan keluarga besar Harem yang dia bentuk?! He's really crazy!

__ADS_1


__ADS_2