Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 86


__ADS_3

Ibunda Ardi meminta Thalia mendekat. Ia ingin memeluk Thalia yang dikenalkan Ardi sebagai calon istrinya. Thalia menatap Ardi dengan bingung, dan Ardi hanya memberinya kode mendekat.


Gila kali ni orang, pake acara bohong ke ibunya! Ini namanya pemaksaan!


Ardi mendekati Thalia yang masih belum mau mendekat. "Please, ikutin aja ok?!" bisik Ardi.


"Kamu gila apa gimana? Kenapa pake acara bohong sih?" Thalia membalas bisikan Ardi.


"Demi ibuku, please Thalia. Berbuat baik sama orang tua dapat pahala lho?" Ardi tetap memaksa Thalia.


"Ini namanya bohong bukan berbuat baik!" 


"Nyenengin orang tua kan berbuat baik juga beb?!" Ardi tidak mau kalah.


"Tapi nggak gini juga kali, kamu bikin saya …" Thalia kesal karena Ardi bertingkah seenaknya.


"Kalian kenapa? Thalia sini, ibu mau peluk kamu boleh?!" Ibu Ardi meminta Thalia mendekat.


"Just do it Thalia, please!"


"You have to pay for this!" Thalia geram.


Dengan senyum yang dipaksakan, Thalia mendekati ibunda Ardi. Wanita tua itu memeluk Thalia dengan erat. Thalia serba salah, sesekali ia melirik ke arah Ardi yang tersenyum pada Thalia. Ia merasa menang.


Siang itu adalah siang terpanjang dan menyiksa bagi Thalia. Ia harus berpura pura tersenyum pada Ibunda Ardi. Dan Ardi membuatnya semakin kesal karena dengan seenaknya memeluk Thalia di depan ibundanya.


Akhirnya hari itu selesai sudah, Thalia lega karena itu adalah enam jam terpanjang dalam sejarah hidupnya menjadi aktris sinetron di kehidupan nyata. Sepanjang jalan Thalia diam, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Ardi sesekali melirik Thalia yang memilih membuang wajahnya jauh keluar. Ia kecewa.


Ardi memutuskan menepikan mobilnya di tepian jalan yang aman. Ia harus bicara dengan Thalia.


"Thalia …"

__ADS_1


Thalia masih belum bergeming, ia hanya melirikkan matanya sekilas. Thalia malas bicara dengan Ardi. Tapi ia tahu ini harus diselesaikan dengan segera. Thalia tidak ingin terlibat lebih jauh. Tidak sebelum hatinya benar-benar yakin ia siap membuka diri. 


"I'm sorry, aku cuma mau bikin senang ibu. Maaf harus melibatkan mu sampai sejauh ini." Ardi membuka percakapan.


"Kamu marah?" tanyanya lagi 


"Masih nanya tentang itu?"


"Aku tahu kau marah, tapi aku cuma …"


"Berbohong padanya bukan pilihan yang tepat! Kamu hanya akan bikin masalah baru. Dan sialnya kamu libatin aku dalam kebohongan kamu!" Thalia memotong perkataan Ardi. Seketika ia emosi.


Thalia mengesampingkan para penjaga yang terbangun saat dirinya emosi. Rasa sakit itu kembali menyerang dirinya. Thalia tidak peduli, ia hanya ingin meluapkan emosinya pada Ardi.


"Maaf." Ardi menatap Thalia dan meraih tangannya.


"Bisakah aku mendapatkan maaf itu dari kamu, please."


"Tell me something, kamu berbohong untuk sebuah pernikahan yang kamu sendiri juga takut untuk melakukannya. How can? And tell me kenapa fobia kamu bisa baik-baik saja saat bicarakan pernikahan dengan ibumu tadi? Apa ini lelucon?"


Ardi terdiam, ia merogoh kantongnya dan mengambil botol effexor miliknya, lalu menunjukkan pada Thalia. "Apa perlu aku jelasin lagi ke kamu?" 


Thalia menghela nafas dengan berat, "You crazy Ardi, aku menyerah buat nanganin kamu. Ini sudah melanggar etika ku. Mulai besok file kamu aku kembalikan ke prof Budi." 


"Dan aku akan cabut semua investasi ku di rumah sakit itu. Apa itu yang kamu mau?" Ardi mengancam.


"Terserah kamu?! Terus apa hubungannya denganku? Itu urusan bisnismu!"


"Benarkah, setahuku orang tuamu juga punya saham atas rumah sakit itu. Kamu tahu akibatnya kalau aku cabut investasi di sana?" Ardi kembali menekan Thalia.


"Kamu mengancamku?"

__ADS_1


"No, cuma kasih tahu kamu aja resiko jika kamu berani nolak aku dan mengembalikan aku ke prof Budi!" Ardi menatap Thalia tajam. Ia benci penolakan dari siapapun tidak terkecuali Thalia.


"Kamu, bener-bener ya!" Thalia geram, para penjaganya bersiaga dan mereka kembali berbisik.


Haruskah kami membereskan dia?!


Haruskah kami membunuhnya?!


Thalia sontak menjawab dalam hatinya,


No, jangan campuri urusanku! Jangan pernah menyentuh takdir kematian manusia, aku ingatkan pada kalian. Diam dan tetaplah pada tempat kalian!


Thalia mengontrol emosinya, ia hanya takut para penjaganya akan melukai Ardi dari sisi lain. "Ok, fine. Forget that. Tapi jangan paksa aku untuk berbuat seperti tadi lagi. Aku bukan boneka milikmu! Ingat itu."


Ardi masih menatap Thalia. "Jadi kamu maafin aku?!"


"Nggak, belum! Bawa aku pulang, aku capek."


"No, sebelum aku dapat jawaban dari kamu." sahut Ardi tegas 


"Ardi please, jangan begini. Aku beneran capek." Thalia berusaha meminta Ardi untuk mengakhiri perdebatan mereka.


"Than answer me!"


"Oke, aku maafin kamu! Puas?!"


"Good girl, meski aku belum puas sama jawaban kamu. But enough for this day."


Thalia benar-benar dibuat kesal oleh Ardi. Hari ini ia merasa dikerjai habis-habisan olehnya. Belum lagi cara Ardi yang memaksanya untuk tetap menangani fobianya, membuat kepala Thalia pusing tujuh keliling.


Ini lebih mirip drama Korea terbaru … A Business Proposal, ketimbang dunia nyata!

__ADS_1


__ADS_2