
Hari kepulangan Erick …,
Thalia tiba dirumah, tubuhnya terasa sakit setelah digunakan oleh Hans. Seharusnya ia tidak mengizinkan Hans menggunakan tubuhnya, karena itu akan membuatnya kehilangan cukup banyak energi.
Tapi Thalia tidak tega melihat Hans, dan juga tidak ingin dihantui olehnya.
"Berbuat baik sekali kali sama hantu, tapi kalo resikonya begini bikin kesel juga!" gerutunya sendiri.
Ia beristirahat sejenak memulihkan energinya yang hampir habis. Tanpa ia sadari Thalia terlelap hingga beberapa jam. Ia terbangun saat Sean menghubunginya.
"Thalia, are you ok?"
"Ya Sean, I'm ok? Kenapa?" jawab Thalia malas, tubuhnya belum pulih benar.
"I Feel bad. Is something happening?"
"No, aku nggak apa Sean cuma sedikit lelah."
"Kamu sakit?"
"Nggak, jangan khawatir aku baik-baik aja kok. Kamu pulang jam berapa?"
"Mungkin jam sepuluh, jangan ditunggu."
Setelah memastikan Thalia baik-baik saja Sean pun menutup ponselnya. Thalia kembali tertidur, ia benar-benar lelah. Ia bahkan melupakan janjinya pada Erick untuk menghubunginya.
"Thalia …,"
Suara itu terdengar begitu dekat di telinganya. Thalia masih belum bergeming, ia mengantuk.
"Thalia …, I Miss you!"
Suara itu kembali datang dan menggelitik telinganya. Thalia mulai terganggu, perlahan ia membuka matanya.
"Siapa yang memanggilku?"
"Thalia …" suara itu membuat Thalia meremang.
__ADS_1
"Erick?" Thalia mengenali suara itu, meski hanya bertemu sesekali lewat alam bawah sadarnya, ia ingat pemilik suara itu.
Thalia tertidur cukup lama, ia kesal karena melupakan janjinya pada Erick. Dan sekarang jam menunjukkan pukul dua dini hari. Erick pasti tertidur.
"Iiissh, bisanya aku tertidur. I'm sorry dear."
Thalia mengirimkan pesan singkat pada Erick berharap ia akan membacanya nanti. Untuk membunuh waktu, Thalia pun kembali membuat cerita untuk novelnya. Ia menuliskan kerinduannya pada Erick di episode itu. Hingga di akhir episode ia menuliskan kata-kata yang selalu Erick dan ia ucapkan,
"Miss me?"
Thalia tersenyum dan membayangkan dirinya bertemu dengan Erick. Pikiran gilanya kembali membayangkan ciuman panasnya bersama Erick.
Thalia yang kesepian, Thalia yang merindukan dekapan seseorang untuk menemani harinya harus rela memendam keinginannya untuk bertemu Erick.
Ia terus menulis hingga adzan subuh berkumandang. Matanya lelah, ia ingin segera tidur setelah menunaikan sholat subuh. Tapi sebuah kejutan dari Erick datang melalui pesan singkatnya.
Erick mengirimkan foto dirinya, hanya untuk Thalia seorang. Tak lupa emoticon lucu disematkan Erick.
"Erick …" Thalia melonjak kegirangan, ia tidak menyangka Erick mengirimkan foto dirinya.
Itu adalah obat rindu yang luar biasa baginya,
Foto Erick bagaikan pengantar tidur yang indah baginya. Thalia pun terlelap dengan senyuman, ia kembali memasuki alam bawah sadarnya dan bertemu Erick sekali lagi disana. Hanya itulah cara Thalia bertemu dengan penjaga hatinya.
******
Keesokan harinya, Thalia kembali menghubungi Erick. Matanya kembali berbinar saat melihat foto Erick di galerinya.
"Miss me?" Thalia mengirimkan pesan.
"I am."
"Maaf semalam ketiduran, apa kemarin banyak tamu?"
"Iya, beberapa teman datang jenguk."
"Rame dong kemarin."
__ADS_1
Erick hanya membalas dengan emoticon lucu. "So, gimana hari ini feel better?"
"Not bad, lumayan daripada di rumah sakit. Cuma tangan masih bengkak."
"Ada salepnya kan?"
"Iya, ada kok."
Obrolan panjang terjadi siang itu. Erick tidak banyak bercerita tentang sakitnya, tapi Thalia tetap memberinya semangat dan mendoakan yang terbaik baginya.
Thalia tergelitik untuk menanyakan sesuatu pada Erick, sebuah pertanyaan bodoh yang membuatnya menyesal.
"Kesayangan kamu nggak nemenin di rumah sakit?" Pertanyaan yang Thalia sudah tahu jawabannya.
Erick hanya membalas dengan senyuman, Thalia bisa merasakan perubahan emosi Erick.
"Jadi benar ya kamu sudah punya seseorang disana?" Thalia bertanya lagi dengan hati cemas.
"Iya, udah dua tahun." Erick menjawab singkat.
"Boleh aku tahu siapa namanya?"
"Marcella." Jantung Thalia seolah berhenti seketika. Itu adalah nama yang tertulis di novel terbaru Erick.
"Jadi benar, itu nama kekasihnya." Suara Thalia bergetar menahan tangis.
Thalia menghentikan pesannya, ada rasa cemburu dan marah yang bergemuruh di dalam dadanya.
"Maaf." Erick kembali mengirimkan pesan pada Thalia.
Thalia meletakkan ponselnya, ia termenung dan memaki dirinya sendiri yang telah nekat jatuh hati pada Erick.
"Seharusnya aku berhenti saat melihat nama itu. Dasar bodoh … bodoh sekali Thalia!"
Tangisnya pecah, ia menyesali keputusan yang sudah terlambat itu. Dirinya sudah terlalu jauh masuk ke dalam pikiran Erick. Keputusan bodoh Thalia telah membiarkan dirinya tersakiti.
Untuk kesekian kalinya, Thalia merasa dikhianati. Bayangan pengkhianatan Rendy kembali muncul ke permukaan, dan Thalia menyalahkan Erick atas kemalangan dirinya.
__ADS_1