Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 117


__ADS_3

Hari pernikahan Thalia tinggal menghitung hari. Semuanya sudah matang dipersiapkan. Kedua orang tua Thalia juga sudah tiba dari seminggu yang lalu. Semuanya antusias menyambut pernikahan Thalia, termasuk Sean. Ia menjadi orang tersibuk yang menyiapkan semuanya.


Thalia menatap undangan pernikahan berwarna keemasan di tangannya. Untuk sesaat ia ragu, tapi kemudian Thalia memantapkan hatinya untuk mengirimkan undangan itu pada Erick. Rasa tidak nyaman itu menyerangnya lagi. 


Erick yang baru saja terbangun dari tidurnya dan memeriksa beberapa chat masuk terkejut melihat pesan dari Thalia.


"Undangan beneran? Kirain."


Perlahan ia membacanya, dan sekali lagi rasa itu menyerang mereka pada saat yang bersamaan. "Bagus deh, setidaknya sekarang ada yang nemenin kamu tidur Thalia. Nggak sendiri lagi, eh terus aku gimana?"


Erick mengingat hal konyol yang terjadi saat ia berdua dengan kekasihnya, Thalia bisa merasakan hasratnya. Dan sekarang Thalia akan menikah, bayangan tentang malam pertama Thalia memenuhi pikirannya, bisa ditebak selanjutnya apa yang akan dialami.


"Damn … besok aku harus jalan-jalan biar nggak kepikiran! Kapan dia nikahnya?" Erick kembali melihat tanggal pernikahan Thalia.


"Tiga hari lagi?!" Erick membalas pesan Thalia segera.


"Selamat untuk pernikahanmu, semoga bahagia dunia akhirat."


Thalia menerima pesan Erick dan tersenyum, meski ia tahu mereka berdua saat ini sedang merasakan sakit di tubuh masing-masing. 


"Thanks. Semoga kamu juga segera menyusul."  


"I hope so." Erick membalas.


"Erick, boleh nanya sesuatu? Kenapa ini masih terjadi? I can feel you, harusnya semua sudah selesai kan begitu mereka bersama?"


"Saya juga nggak tau, bingung. Mungkin mereka belum setuju kita pisah." Erick tersenyum membayangkan Thalia dan ...,


"Erick, what are you doing?" Thalia bisa merasakan pikiran kotor Erick padanya.


"Nothing." balas Erick dibarengi emoticon lucu.

__ADS_1


"Don't do that Erick, kamu tahu kita masih terhubung kuat."


"Cuma nebak aja apa yang terjadi sama kita saat malam pertama kamu besok." jawab Erick konyol.


Thalia tertawa membaca balasan dari Erick, "Erick, don't mind me ok?"


"Boleh pesen nggak?"


"Apaan?"


"Awas salah sebut nama sama suami kamu." Erick menuliskan pesan yang membuatnya tersenyum, ia bahkan membayangkan kejadian konyol itu.


Thalia terkejut dan tertawa, sama seperti Erick ia juga membayangkan hal yang sama, 


"Nggak usah diingetin kan bisa? Erick, awas kamu … aku nggak tanggung jawab besok?!" 


...----------------...


Di dalam kamarnya Thalia tampak anggun dengan kebaya dan riasan natural. Ia tidak ingin memakai macam-macam, ini pernikahan keduanya jadi Thalia lebih menginginkan pada kesakralan acara. 


Hati Thalia berdebar tidak karuan, rasa tidak nyaman menyerangnya. 


Tenang Thalia … tenang, iiissh Erick bisakah kamu nenangin penjagamu! 


Thalia mengumpat dalam hati karena para penjaga mereka tiba-tiba muncul di depannya. Mereka tampak memandang Thalia dengan sedih, mereka masih menginginkan tuannya bersatu.


"Dengar ini pilihan kami, sebaiknya kalian mengikuti perintah kami Ok!"


Para khodam penjaga itu menggeram, menghampiri Thalia. Ia mengusap kepala keduanya dengan lembut.


"Good boy, pergilah dan tenangkan tuanmu disana!" 

__ADS_1


Sean datang tak lama berselang setelah para penjaga Thalia pergi. "Apa kamu siap, David sudah menunggu di depan."


Thalia mengambil ponselnya, untuk terakhir kalinya ia menatap wajah Erick dalam galeri. Sean mendekati Thalia.


"Kau pasti bisa melupakannya, David orang baik. Dan kamu telah memilihnya dengan tepat Thalia."


Sean merasakan kegundahan hati Thalia. Ia tahu Thalia belum bisa melupakan Erick.


"Kamu benar Sean, dia hanyalah ilusi ku. Dan David adalah masa depan." Thalia mengusap wajah Erick dalam ponselnya dan menahan tangisnya.


Ini menyakitkan … sangat sakit, tapi aku harus kuat. Kisah kita cukup sampai disini, Erick.


Thalia memilih foto Erick dan menghapusnya dalam hitungan detik. Sean mengusap punggung kembarannya, menguatkan hatinya. "You can do it, Thalia."


Thalia tersenyum dan meletakkan ponselnya. Sean meraih tangan Thalia dan mengapitnya, membimbing Thalia berjalan menuju tempat David akan mengucapkan janji sehidup semati. Mengikat Thalia dalam ikatan suci yang sakral, satu untuk selamanya.


Thalia hadir di tengah ruangan yang sudah ramai dipenuhi para tamu undangan yang ingin menyaksikan pernikahannya. Wajah cantik Thalia merona saat David menatapnya membuat siapapun bergumam kagum dengan aura yang dipancarkan sang pengantin wanita.


Ayah Thalia menggenggam erat tangan David dan dengan mantap David mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan satu tarikan nafas. Thalia lega, begitu juga dengan semua yang hadir dalam ruangan itu.


Suasana haru menyelimuti ruangan setelah semua saksi mengatakan


 "SAH …"


Akhir dari perjalanan cintanya, berlabuh di hati seseorang bernama David. Cincin sebagai pertanda ikatan mereka disematkan di jari masing-masing. Acara dilanjutkan dengan berbagai macam prosesi adat Jawa. Semuanya dilakukan dengan sederhana namun sakral.


Kelebatan penjaga Thalia tampak hadir kembali dan kali ini mereka membawa tuannya, Erick.


Dari tempatnya berdiri Erick tersenyum dan berbisik dengan jelas. Sebelum kemudian menghilang bersama sang penjaga.


" Selamat atas pernikahanmu Thalia… "

__ADS_1


__ADS_2