Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 23


__ADS_3

Thalia bingung Langit kembali mengatakan sesuatu yang sulit ia wujudkan. Thalia takut jika ia menuruti kemauan kelima sosok itu mereka akan semakin memanfaatkan dirinya.


"Langit, kamu bilang apa sayang? Siapa yang minta makan, apa kamu lapar?" tanya Vina heran.


Langit menatap Vina dengan tatapan yang tidak menyenangkan, ia marah pada ibundanya. Seketika tangannya meraih Lego yang baru saja dibuat untuk Thalia dan melemparkannya ke arah Vina.


Ia menjerit dan berteriak sekeras-kerasnya. Tidak cukup satu tapi beberapa ia lemparkan hingga hancur berkeping-keping. Vina sangat terkejut melihat Langit yang tidak terkendali. Thalia pun tak kalah terkejutnya. Vina sampai berdiri berusaha menghindari amukan Langit.


Thalia segera mendekati Langit meski dengan resiko ia bisa saja terluka. Perlahan ia mendekat, sambil mencoba menenangkan Langit.


"Langit, jangan teruskan sayang. Kamu bisa terluka nanti, kasian mama kamu."


"Langit benci mama, Tante! Dia bikin teman Langit pindah rumah, dia nggak peduli sama Langit!" Langit berteriak kencang sekali hingga Tante Alena dan beberapa pembantunya keluar dari dalam rumah. 


Mereka menatap Langit nanar, tidak menyangka jika Langit akan bertindak di luar kontrol. Thalia sudah berada dalam jarak yang cukup dekat dengan Langit. Ia kemudian mendekap Langit, dan mengusap lembut kepalanya.


"Tenang … jangan diterusin, nanti Langit bisa kesakitan sendiri. Ada Tante disini."

__ADS_1


Thalia berusaha menenangkan Langit memberinya rasa aman dalam pelukannya. Langit semula masih menatap tajam Vina, tapi sentuhan dan ucapan Thalia mampu membuatnya melunak. Perlahan nafas berat dan cepatnya terdengar mulai beraturan, Langit membalas pelukan Thalia. 


"Mama Vina sayang Langit, nyatanya dia mau kan ngembaliin rumah mereka?"


"Tapi rumah mereka hancur Tante, Langit nggak tega liat mereka nangis. Sekarang mereka minta makan sebelum pulang tapi mama nda kasih juga. Langit benci mama!" keluhnya disela suara tangisannya.


"Mama Vina bukan nggak kasih, dia cuma nanyain maksud Langit. Dan ya, mama Vina salah tapi dia sudah mau minta maaf ke mereka kok iya kan mama Vina?" tanya Thalia sambil memberi kode pada Vina.


"Iya sayang, mama minta maaf ya … sekarang kasih tau mama, mereka mau makan apa biar mama belikan?" tanya Vina sedikit gugup.


Langit kembali menatap sendu mamanya, tapi hanya sebentar. Ia kembali membenamkan kepalanya dalam pelukan Thalia. Ia menangis.


Thalia membulatkan matanya pada Vina,


Kamu pikir mereka anak biasa? Come on Vin, they are ghosts … 


Langit tidak menjawab dan terus menangis dalam pelukan Thalia. Dengan sabar Thalia menunggunya berhenti menangis dan bicara. 

__ADS_1


"Mereka mau dikasih bunga dekat rumahnya, itu aja Tante." jawab Langit.


"Oke, Tante bisa atur itu besok ya. Perlu juga di bakarin dupa, kemenyan or something?" tanya Thalia dengan iseng menggoda Langit.


"No Tante, mereka suka bunga aja ehm … tapi kalau Tante nggak keberatan mereka juga mau dikasih kemenyan katanya." jawab Langit seolah mendengarkan suara dari kelima sosok teman gaibnya.


Good, now I feel like Thalia the great shaman! Batinnya kesal.


(Bagus, sekarang aku merasa seperti Thalia seorang dukun!)


"Eeh … kemenyan ya?" Thalia kebingungan dengan permintaan kelima sosok yang disuarakan oleh Langit. Ia menatap Vina, 


"Vin, gimana nih aku cari kemana kemenyan? Aku nggak tahu dimana belinya, rupanya juga nggak tau!" tanya Thalia dengan nada rendah saat Vina mendekat ke arahnya.


"Gue juga nggak tau dimana, dah gampang besok aku suruh karyawan buat cari. Yang penting kamu urus semua,oke?!" 


Damn, aku benar benar dukun sekarang!

__ADS_1


 


 


__ADS_2