Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 87


__ADS_3

Thalia tidak memberikan kesempatan pada Ardi untuk bicara lagi. Thalia ingin sendiri. Ia bahkan tidak peduli dengan Sean yang menyambutnya didepan.


"Ada apa dia?" tanya Sean pada Ardi.


"Nothing, sedikit salah paham aja … atau lebih? Entahlah Thalia sangat sensitif." jawab Ardi.


"Thalia? Dia nggak akan gitu kalo tidak menyinggung perasaannya? Is that something wrong?"


"Hmm, maybe. Aku cuma ajak dia ke tempat ibuku, dan … mengajaknya menikah. Itu aja?!" 


"What, Gosh you make her mad! Ardi kata menikah untuk Thalia saat ini masih menakutkan! Apa kamu memaksanya?" tanya Sean lagi.


"Hanya berpura-pura di depan ibuku. Untuk membuatnya senang, tapi Thalia … ia menganggapnya itu masalah besar." sesal Ardi.


"Cckk, kalian umur dewasa tapi pikiran udah kek anak SMA! Cetek bener!" Sean kesal mendengar penjelasan Ardi.


"Harusnya kamu tahu Thalia benci itu, bukannya Tante Alena udah kasih tau kamu tentang Thalia?" kata Sean lagi.


"I'm sorry … really sorry, Sean. I mean it?"


"Lebih baik kamu pulang, biar aku yang urus Thalia! Cckk, bakalan nangis Bombay lagi dia." Gerutu Sean sambil menatap ke arah kamar Thalia.


...----------------...


 Dan benar kata Sean, di dalam kamarnya Thalia menangis sejadinya. It was a very bad day for her. 


Mungkin bagi sebagian orang tidak masalah jika mengalami hal seperti Thalia, atau mungkin justru bahagia diajak berpura-pura akan menikah. Apalagi jika yang mengajak seorang CEO perusahaan. Siapa yang menolak? But not for Thalia.


Hatinya terlalu rapuh jika menyangkut masalah pernikahan. Bayangan kelam masa lalu itu belum bisa ditaklukan. Mencintai seseorang adalah tabu baginya. 


Dan satu-satunya yang bisa mengetuk hatinya hanyalah Erick. Mantra yang dilepas Erick mengenalkannya kembali pada cinta. Meski hanya sebatas ilusi.


Thalia, masih terlalu takut untuk membuka hatinya di dunia nyata. Dan ia lebih memilih Erick untuk mengisi hatinya. Meski itu akan jauh lebih menyakitkan.


"Thalia, boleh aku masuk?" Sean mengetuk pintunya.


Thalia benar-benar ingin sendiri saat ini, "No Sean, leave me alone!"


( Tidak Sean, biarkan aku sendiri!)


"Kamu yakin?"


"Iya, I just need to be alone." jawab Thalia, ia membutuhkan waktu untuk menyendiri.


...----------------...


Malam itu dilewati Thalia dengan merenung dan berpikir tentang banyak hal. Ardi sebenarnya tidak sepenuhnya salah, ia hanya ingin membuat ibundanya bahagia. 


Hanya saja cara ia memanfaatkan Thalia tanpa berterus terang terlebih dahulu itu salah. Mungkin akan berbeda kejadiannya jika Ardi berbicara dan meminta pertolongan Thalia terlebih dahulu.


Cara Ardi menekan Thalia dengan mengancam penarikan investasi di rumah sakit itu juga membuat Thalia kecewa. Ardi memaksakan kemauannya, dan cinta yang diharapkan Thalia bukan dari sebuah paksaan.


Thalia merindukan Erick, berbicara panjang lebar dengannya bisa membuat Thalia melupakan semua masalahnya. Saat ini, ia hanya bisa bersabar menunggu Erick pulih. 

__ADS_1


...----------------...


Hari berlalu, Thalia kembali bekerja. Rendy tidak pernah berhasil menemuinya karena Sean selalu menghalanginya. Makan siang dengan pak David juga dilalui Thalia dengan baik-baik saja. Tidak ada yang spesial dari kencan di siang hari bersama polisi tampan itu.


Setelah kejadian di panti Wreda, Ardi tidak pernah muncul lagi. Thalia juga tidak mencoba untuk mencari tahu dan bertanya apapun tentang ibundanya. Case closed.


Hari ini Thalia kembali bekerja seperti biasanya. Jadwal konseling untuk tiga hari aktifnya penuh. Ia senang setidaknya ia bisa menyibukkan dirinya dengan hal positif. 


Ponsel Thalia bergetar, sebuah pesan dari Erick datang. 


"Sibuk?"


"Lumayan, gimana hari ini?"


"Udah bisa pulang today."


"Alhamdulillah. Kapan keluar?"


"Siang ini mungkin."


"Oke, take a rest saya masih banyak kerjaan. Nanti malam aku hubungi lagi." Pesan terakhir Thalia menutup pembicaraan mereka.


Thalia tersenyum ia lega melihat kondisi Erick yang semakin membaik. Winda yang berada tak jauh dari Thalia menatapnya dengan penuh selidik.


"Pacar dokter ya?"


"Eh, mau tau aja kamu Win." jawab Thalia.


"Seneng banget keknya nih?" 


"Siapa yang sakit dok?"


"Ssst…dah diem aja!" Thalia memberi isyarat pada Winda untuk diam.


Siang itu jadwal konseling selesai. Thalia berencana untuk segera pulang. Terlalu asyik dengan pekerjaan rumah sakit membuatnya melupakan menulis. Pagi tadi surat cinta dari pihak aplikasi mengingatkannya untuk segera melanjutkan cerita.


Thalia berjalan bersama Winda menuju lobby utama. Tiba-tiba Thalia merasakan sesuatu yang aneh. Hembusan angin menerpa tengkuknya. Sesuatu mendekati Thalia. Mereka melewati lorong ruang pemulasaraan jenazah. Thalia semakin didera rasa tidak nyaman.


Rasa itu menyesakkan dadanya, memaksanya untuk bernafas pendek. Ia pusing dan mual. Thalia hampir saja terjatuh jika Winda tidak memegang tangannya.


"Dok, kenapa?"


"Nggak apa Win." jawab Thalia dengan nafas tersengal. Ia melirik ke arah ruang pemulasaraan jenazah. Sesuatu memanggilnya ke arah sana.


"Rame banget disana Win? Apa ada yang meninggal?" 


"Tiap hari juga ada yang meninggal dok."


Thalia membungkuk, rasa itu menyiksanya. Thalia menangis, tapi ia tidak tahu apa yang ia tangisi. Ia hanya merasakan sesuatu yang memilukan dan menyedihkan. 


"Dokter kenapa?" Winda yang khawatir mengusap punggung Thalia, berusaha memberikan rasa nyaman untuknya.


"Nggak tahu, kamu duluan aja ada yang harus aku urus disini." Thalia berjalan mendekati ruang yang menakutkan bagi sebagian orang itu.

__ADS_1


"Iish dokter satu ni, pantesnya dijuluki dokter gaib deh. Horor mulu bawaannya deket dia!" Winda menggerutu dan bergidik ngeri membayangkan apa yang sedang dihadapi Thalia. Ia bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


Thalia terus berjalan, air matanya semakin tidak tertahankan lagi.


Siapa yang meninggal kenapa rasanya sedih banget ..., batin Thalia.


Suara Isak tangis seorang pria tampak jelas terdengar di telinga Thalia. Ia mengedarkan pandangan mencari sumber suara, tapi semua yang sedang bersimpuh dan menangis adalah wanita. 


Thalia kembali berjalan mengikuti arah suara itu berasal. Suara itu semakin jelas dan keras terdengar. Hingga Thalia berhenti di sebuah sudut. Seorang pria berwajah pucat mengenakan pakaian casual sedang menangis.


"Kamu yang memanggil saya kesini?" tanya Thalia.


Pria itu menangis, ia menatap Thalia sendu. "Tolong saya!"


"Saya nggak bisa nolong kamu. Kita berbeda alam." Thalia menolaknya.


Pria itu mengeluarkan sebuah cincin dari kantong celana jeansnya. "Tolong berikan ini pada dia?!"


"Dia kekasih kamu?" sosok itu mengangguk.


"Saya mau melamarnya hari ini, tapi takdir berkata lain. Tolong saya supaya bisa pergi dengan tenang." pinta sosok itu pada Thalia.


Hati Thalia tergerak untuk menolongnya. ia miris melihat kesungguhan si pria untuk melamar kekasihnya. Thalia membayangkan jika dirinya yang ada di posisi si pria, itu pasti menyakitkan.


Thalia berpikir sejenak, ia lalu masuk ke dalam ruangan jenazah. Hanya ada petugas jaga di sana. Dan jasad pria malang itu masih tergeletak diatas tempat pemulasaraan.


Thalia memperlihatkan ID Card nya pada petugas jaga dan meminta ijin untuk mencari cincin yang tadi ditunjukkan sosok itu.


"Dapat, ini dia cincin itu." Thalia lega.


Setelah melaporkan dan dicatat di buku berita acara, Thalia membawa cincin itu pada gadis yang dimaksud dengan tuntunan sosok pria pucat itu.


"Maaf, siapa yang bernama Sinta?" tanya Thalia.


"Saya Sinta, ada apa?" jawab gadis manis dengan mata sembabnya.


"Saya ada titipan dari Hans, dia pacar kamu?" tanya Thalia lagi dan dijawab dengan anggukan lemah.


Hans, kamu bisa masuk ke badanku … bilang sendiri apa keinginan terakhirmu! Thalia memberikan izin pada sosok itu untuk menggunakan tubuhnya.


Hans pun merasuki Thalia, ia memberikan cincin itu pada Sinta dan mengatakan apa yang ingin ia katakan sebelum tewas tertabrak. 


Awalnya Sintia menolak, tapi ketika Hans mengatakan sesuatu yang hanya diketahui mereka berdua, tangis Sintia meledak. Ia pun memeluk tubuh Thalia yang sedang dirasuki Hans.  


Hans, jangan terlalu lama dalam tubuhku! Saya nggak kuat! 


Thalia segera mengusir jiwa Hans yang memakai tubuhnya. Jika terlalu lama digunakan oleh makhluk alam lain Thalia bisa pingsan.


"Terimakasih dokter Thalia." Hans kini tersenyum bahagia dan ia menghilang begitu saja.


Sintia kembali memeluk Thalia dan menangis. "Siapapun anda, terimakasih?!" 


Thalia tersenyum, baru kali ini ia puas membantu roh penasaran. Meski tubuhnya seperti habis dimassa tapi ia merasa puas. Bisa membantu mereka agar tidak menjadi roh penasaran.

__ADS_1


Bodohnya aku ... harusnya tadi minta bayaran sama Hans, ini badan udah kayak dimassa remuk redam!


__ADS_2