Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 29


__ADS_3

Thalia dengan malas berjalan menuju teras. Benar saja, Ardi dengan pakaian casual sudah berdiri di depan mobil menunggunya keluar.


Damn, he really come here … andai aku bisa memukulnya hingga pingsan!


Senyum mengembang di bibir Ardi saat melihat Thalia datang menyambutnya. Sementara Thalia hanya membalas senyuman itu dengan datar.


"Selamat pagi sayang?"


"Sayang, apa kepalamu terantuk sesuatu?" tanya Thalia dengan kasar.


Ardi memiringkan kepalanya pada Thalia, bukannya kesal tapi sikap Thalia justru semakin membuatnya tertantang, ia tersenyum kembali lalu berkata.


"Kamu? Mas! Kita sudah janji kan, panggil saya mas!" 


Whaaat, good dia bikin aku mual … ini orang kenapa pede banget sih!


"Ah, ya maaf aku lupa?!" sahut Thalia kesal.


"Kamu nggak mau ajak saya masuk nih?" tanya Ardi yang dengan santainya melenggang masuk ke dalam rumah membuat Thalia terbelalak.


"Eeh, mau kemana kamu?"


"Masuklah, emang kemana? Bolehkan?"


"Iya, tapi kan aku belum ngijinin kamu masuk! Hei, tunggu jangan sembarangan masuk rumah orang!" teriak Thalia pada Ardi.


Ardi hanya tersenyum dan tetap melenggang masuk ke dalam rumah tanpa peduli teriakan Thalia. Sean yang mendengar keributan kecil itu segera keluar dan melihat apa yang terjadi.


"Apa ada masalah?" tanya Sean


"Oh, hai kamu pasti Sean kan? Saya Ardi!" sapa Ardi dengan senyumnya yang menyebalkan di mata Thalia.


Sean bingung tapi ia menyambut uluran tangan Ardi, "Ya, kamu benar tapi darimana kamu tahu nama saya?"

__ADS_1


"It's secret." jawab Ardi santai.


Dengan tenangnya ia duduk di sofa sambil menyapu seisi ruangan tanpa memperdulikan tatapan heran Thalia dan juga Sean. Sean mendekati Thalia dan berbisik padanya, "Kamu yakin dia penyandang dana di rumah sakit Tante Alena?" 


Thalia hanya mengangguk sambil menyilangkan kedua tangan didadanya. Sean kembali berbicara, "Yakin otaknya baik-baik saja?"


"No, aku tidak yakin. Sepertinya memang kepalanya kepentok pintu mobil tadi jadi … miring!" bisiknya pada Sean sambil tertawa mengejek Ardi.


"I can hear that Thalia!" seru Ardi tanpa menoleh sedikitpun pada Thalia.


"Apa yang kamu dengar, aku nggak ghibahin kamu kok. Rugi ngomongin kamu!" elak Thalia yang tertangkap basah Ardi.


"Benarkah, rugi katamu? Aku siap membayarmu 500 dollar hari ini untuk konselingmu, bagaimana?" Ardi menawarkan harga tinggi untuk bisa menghabiskan waktu bersama Thalia.


Thalia terkejut dengan angka yang ditawarkan Ardi begitu juga dengan Sean. Harga dirinya merasa terluka dengan penawaran Ardi. 


"Maksud mas gimana nih, saya bukan wanita bayaran yang siap menemani hari kamu ya!" hardiknya pada Ardi


"Sepertinya kamu salah tafsir Thalia. Aku hanya menginginkan konseling diluar jam praktek mu. Tidak lebih. Dan aku tidak menganggapnya sebagai wanita penghibur." kata Ardi berusaha menjelaskan pada Thalia.


Thalia menatap tidak percaya pada Ardi, ia lalu menatap Sean. 


"Percayalah padaku Thalia, konseling tidak lebih." pinta Ardi.


Thalia kembali menatap Sean, dan ia memberikan kode setuju. Thalia menghela nafas, ia akhirnya mengalah.


"Baiklah, ayo ikut denganku ke teras belakang. Disana suasananya tenang dan nyaman biar mas juga lebih rileks untuk konseling." ajak Thalia 


"No, saya ingin konseling ditempat lain!"


What the hell, dia benar-benar membuatku hilang kesabaran … mau kemana lagi dia? 


Thalia menahan dirinya, tangannya mengepal karena kesalnya pada Ardi. Pria satu ini benar-benar membuatnya kesal.

__ADS_1


"Baiklah, mas mau kemana?" tanyanya dengan geram.


"Suatu tempat. Sebaiknya kamu ganti pakaian dulu, oya kenakan pakaian santai saja jangan formal!" jawabnya enteng.


Aaargh, orang ini! Siapa dia berani mengaturku! Siapa pun yang sudah mengirim dia padaku akan membayar perbuatannya!


Sean tertawa melihat tingkah saudari kembarnya itu. Ia menepuk bahu Thalia dan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Sabar lah Sist, dia pasienmu!"


"Sean, can you help me?!" bisik Thalia


( Sean, bisakah kau menolongku?!)


"No, face him!" (Tidak hadapi dia!)


Thalia pasrah. Akhirnya ia menuruti keinginan Ardi. Ia mengganti pakaiannya dan terpaksa ikut bersama dengannya.


"Sean, aku pergi dulu!" pamitnya pada adik kembarnya yang sedang bersiap pergi juga.


"Baiklah, hati-hati. Ardi tolong jaga Thalia dan jangan pulang larut!" kata Sean mengingatkan Ardi.


"Tentu saja Sean!" jawab Ardi senang


Ardi membukakan pintu mobil untuk Thalia dan membantunya memasang seat belt.


"Aku bisa sendiri!" kata Thalia menolak kebaikan Ardi


"No, let me do it for you." Sahut Ardi bersikeras membantu Thalia.


Thalia akhirnya mengalah. Percuma menolak kemauan Ardi, karena ia adalah pria paling keras kepala setelah Rendy mantan suaminya. Ardi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia juga menyalakan musik klasik untuk Thalia.


"Jadi, mau kemana kita?" tanya Thalia penasaran.

__ADS_1


"Survei tempat menikah!" jawabnya dengan mantap.


Oh My God!


__ADS_2