Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 74


__ADS_3

Thalia hanya bisa terduduk di sudut ruangan, menanti rasa itu mereda. Ia membutuhkan waktu untuk bisa mengontrol tubuhnya sejenak. Rasa sakit itu berangsur membaik, dan setelah semuanya normal Thalia pun mencoba berdiri. 


"Are you ok?" Sebuah pesan dikirimkan pada Erick


"???"


"Are you ok?" tanya Thalia sekali lagi.


"I'm fine. Kenapa?"


"Nothing."


Thalia berpikir sejenak, jika Erick baik-baik saja lalu kenapa dia tadi merasakan hal itu? Apakah tubuhnya salah merespon Erick?


Thalia menepis segala asumsinya, ia menganggap semua itu hanyalah sebuah rasa yang kebetulan saja. Meski jauh dari dalam lubuk hatinya ia meyakini Erick sedang tidak baik-baik saja.


...----------------...


Malamnya Thalia kembali membuat cerita untuk novelnya. Meski ia sering menulis tapi membuat novel adalah hal yang baru. Ia sama sekali buta tentang kaidah penulisan. Yang ia lakukan hanya menulis dan menulis.


"Sibuk?" Sebuah pesan masuk dari Erick.


"Lagi nulis lagi."


Pesan Erick kembali mengalir dan menjadi obrolan mereka. Thalia dan Erick banyak berdiskusi tentang cara menulis dan kaidah pernovelan. Itu membuat Thalia kagum padanya. Bagi Thalia, Erick layaknya kamus berjalan. Segala hal tentang dunia menulis Erick tahu jawabannya.


"Kamu luar biasa banget ya, apa aja ngerti." Puji Thalia pada Erick.


"Ya karena baca. Kamu tahu nggak, awal mula saya tertarik baca itu karena mom."


"Ohya, kenapa tuh?"

__ADS_1


"Dulu pertama kali mom suruh saya baca buku judulnya Apache sama biografi Adolf Hitler. Itu buku tebel bener udah kayak kamus Oxford, mom said If I can conquer those two books then in the future I can easily study novels."


(Mom bilang jika saya bisa menaklukan dua buku itu maka kedepannya saya bisa mudah mempelajari novel.)


"Wow, Your mom is amazing. Dia juga suka baca?" (Ibumu luar biasa)


"Same as me." (Sama seperti saya.)


"Nyenengin pasti ya kalo ada orang serumah yang juga hobi baca."


Obrolan ringan mengalir di antara keduanya. Sesekali candaan juga diselipkan dalam obrolan. Hati keduanya semakin terikat kuat. Thalia merasa begitu dekat dengan Erick. Meski terpisah jarak Thalia seolah melihat Erick ada di depannya dan berbicara langsung.


"Ohya, besok saya off dulu ya." Pesan Erick berikutnya membuat Thalia terkejut.


"Eh, ada apa memangnya? Kamu mau pergi kemana?"


"RS."


"Sakit hatinya." jawab Erick dengan memberikan emoticon lucu.


"Seriusan saya nanya ini!" Thalia mulai panik.


"Saya harus jalani major surgery." 


Jantung Thalia seolah berhenti berdetak. Major surgery, itu berarti sesuatu memang benar terjadi padanya. Jadi rasa itu tadi benar adanya.


"Kamu kenapa nggak bilang kalo sakit?" tanya Thalia 


"Come on, kenapa saya harus bilang ke kamu? Its me, my privacy." Jawaban Erick membuat Thalia sedikit kecewa. Erick tidak mempercayainya dan memilih menutupi kesehatannya.


"Terus kalo kamu pergi siapa yang ngajarin saya dong?" Thalia bertanya lagi.

__ADS_1


"Cuma bentar kok tiga harian. Doain semuanya berjalan lancar."


"Memang kamu sakit apa?"


"Please don't ask that. Saya bayanginnya aja ngilu lho. Saya jg nggak ngira harus diambil tindakan begitu."


(Tolong jangan tanya itu.)


"Oke, saya nggak akan nanya. Tapi janji ya sebelum off hubungi saya dulu."


"Iya."


"Jam berapa kamu operasi?"


"Dijadwalkan jam 7 tapi saya berangkat dari rumah jam 5 pagi besok."


Hati Thalia seketika sakit. Ia rasanya ingin memeluk Erick saat ini dan memberikan kekuatan padanya. Andai waktu bisa berhenti dan jarak itu memendek, Thalia pasti akan melompat melintasi dimensi untuk bertemu dengannya saat ini juga.


Obrolan mereka berhenti karena waktu sudah larut malam. Thalia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya tertuju pada Erick. Dari kata-kata yang diucapkan Erick, Thalia tahu Erick takut dan cemas dengan kondisinya.


Andai aku bisa menemaninya …,


Thalia memutuskan untuk kembali menulis. Ia berencana membuat bab khusus yang diperuntukkan bagi Erick. Ia berharap Erick akan membacanya saat kondisinya sudah memungkinkan. Tiga chapter khusus dengan catatan kaki di bawahnya. Berisi penantian dan doanya untuk Erick.


This chapter I'm dedicated to you, my love, my savior … get well soon, and I'm waiting for you here to hold my hands again.


( Bab ini saya dedikasikan untukmu my love, my savior … semoga lekas sembuh, aku menunggumu disini untuk kembali meraih tanganku lagi.)


Sebuah doa dan harapan untuk bisa bertemu dan kembali berbicara panjang lebar dengan Erick. My love, my savior pertama kali dicetuskan Thalia dan tertulis di dalam novel perdananya yang ditujukan pada main character miliknya.


Dalam perkembangannya Thalia membentuk salah satu karakter itu dengan berdasarkan pada Erick. Sebagai bentuk totalitasnya mencintai Erick meski hanya bisa ia lakukan dalam bayangan.

__ADS_1


My love, my savior … my truly love.


__ADS_2