
Malam itu hujan turun begitu derasnya. Suara petir bersahutan membuat malam terasa semakin dingin dan menakutkan. Thalia sendiri, Sean kembali harus keluar kota meninggalkan Thalia beserta para asisten rumah tangganya.
Dari balik pintu kaca, Thalia berdiri menatap hujan lebat yang turun. Pengakuan Erick telah memiliki kekasih hati siang tadi membuat Thalia terluka. Hati Thalia sakit … sakit sekali.
Ia merasa penantiannya sia-sia. Kesabarannya, doa-doanya, dan keyakinan hatinya untuk tetap menjalani dan menerima hubungan tanpa ikatan seolah tidak berarti.
Thalia merasa berada di sisi yang salah. Ia merasa hadir diantara dua anak manusia yang saling mencintai. Posisi yang sangat tidak ia harapkan. Tapi ia juga merasa menjadi korban dari keisengan Erick yang menebar mantra pengikat.
Pengakuan Erick memiliki kekasih di dunia nyata bagaikan sebuah pedang yang menancap ke jantungnya. Membuatnya mati rasa dan tersakiti.
Erick telah memberikan pilihan untuk meninggalkan dirinya. Ia menawarkan kebebasan bagi Thalia, tanpa memikirkan perasaan Thalia yang terkoyak karena cintanya pada Erick. Cinta yang didapatnya dari sebuah mantra. Cinta yang bahkan tidak bisa ia tolak.
Thalia memilih untuk menjadi yang kedua dan hidup dalam bayangan orang lain. Pilihan bodoh yang membuatnya semakin tersakiti.
...----------------...
"Kamu boleh pergi meninggalkan saya. Semua ikatan sudah saya lepas. Pilihan ada ditangan kamu, jangan pikirkan saya itu kuncinya."
"Kenapa harus begini, disaat saya mulai merasakan lagi jatuh cinta. Kamu yang buat saya begini, dan sekarang kamu minta saya pergi? Itu egois namanya."
__ADS_1
"Saya nggak mau kasih harapan, saya nggak mau menggores hatimu terlalu dalam. Ini kenyataannya, kamu ada dipikiran saya tapi hati saya milik orang lain."
Perkataan Erick membuat Thalia terhenyak. Ia benar-benar terjebak dalam ilusinya. Thalia mencintai orang yang bukan menjadi miliknya.
"Kita nggak akan pernah bisa bersama, iya kan?" tanya Thalia.
Erick hanya terdiam, "Maaf, tapi kamu berhak untuk bahagia. Kamu berhak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang nyata."
Dunia terasa runtuh bagi Thalia. Siapa yang harus ia salahkan sekarang? Egonya kah? Mantra itu? Ikatan gaib itu? Atau Erick?
"Saya memilih untuk bertahan disini." ujarnya lirih.
"Kita lihat seberapa kuat saya bisa ada disana." Thalia menantang takdir.
"Aku nggak peduli, kamu yang sudah menebar kamu juga harus bertanggung jawab untuk itu." sahut Thalia.
...----------------...
Thalia mengingat pembicaraan itu dengan jelas. Setiap kata yang terucap dari Erick terasa bagai anak panah tajam yang terus menghujam tubuhnya. Ia ingin lari tapi kakinya seolah terikat rantai kuat, Thalia ingin berontak tapi tangannya juga terikat kuat oleh benang merah takdir.
__ADS_1
Suara petir yang cukup keras mengagetkan Thalia. Seolah alam mengetahui kesedihan Thalia, hujan turun semakin deras. Thalia membuka pintu kaca dan menyentuhkan tangannya pada air hujan yang turun. Tangisnya kembali tidak tertahan.
Ia kalut, marah, sedih, tersakiti. Sebuah suara berbisik padanya.
Biarkan kami membereskannya untukmu! Kami akan beri dia pelajaran!
Thalia hanya diam tidak menjawab suara bisikan penjaganya itu. Ia justru semakin terisak dalam tangisnya. Hatinya benar - benar terluka.
Thalia duduk sendiri di tengah malam dingin memeluk tubuhnya dengan erat. Menenggelamkan diri dalam kesedihan. Ini kali pertama ia jatuh hati setelah kegagalannya berumah tangga dan kali pertama pula ia dijatuhkan dari ketinggian setelah sekian lama mencoba kembali untuk membuka diri.
Tanpa Thalia sadari, kemarahannya juga memicu kemarahan sang penjaga. Ia melepaskan sang penjaga. Malam itu juga sang penjaga datang dan membuat perhitungan dengan Erick.
Erick yang belum pulih dari sakitnya, harus menerima akibat dari perbuatannya sendiri. Menyakiti Thalia dan para penjaganya adalah suatu kesalahan.
Aku bisa menjadi teman terbaikmu yang menyenangkan tapi aku juga bisa menjadi pembunuh yang mematikan untukmu pada saat yang bersamaan!
Malam itu para penjaga Thalia menuntut keadilan. Mereka membuat Erick kembali merasakan sakit yang luar biasa. Membuatnya menderita sepanjang malam. Para penjaga Thalia mengirimkan balak untuknya.
Thalia sama sekali tidak menyadari hal itu. Ia tidak memerintahkan dan mengutus para penjaganya. Ia hanya terdiam dalam sedih. Inilah yang membuat para penjaga Thalia mengartikan berbeda. Mereka ingin melindungi Thalia dari kesedihan. Mereka hanya ingin membela Thalia.
__ADS_1
Aku memilih hidup dalam bayanganmu, meski itu menyakiti hatiku. Keadilan … hanya itu yang aku harapkan, Erick.