Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 109


__ADS_3

Sean terpaku tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Natasya alias Alexa telah berdiri di depannya, dengan pisau tajam yang di leher kembarannya.


"Natasya …"


"Hai Sean, aku merindukanmu!" Natasya menatap dengan mata nyalang Alexa menguasai Natasya.


"Lepaskan Thalia, ambil aku sebagai gantinya!" Sean berjalan mendekati Natasya perlahan.


David dan keenam rekannya menjaga jarak dan bersiap menunggu momen untuk meringkus Natasya dengan cepat.


"Tidak secepat itu Sean … aku belum puas bermain dengannya." Suaranya berubah lagi, merendah dan lebih serak.


"Jangan sakiti Thalia, Natasya?!" Sean terus mendekat.


"Diam di tempatmu Sean, aku yang memutuskan bukan kau!"


Sean berhenti menuruti perintah Natasya, "Ok, tenang. Apapun maumu Natasya, lepaskan Thalia." 


Alexa tertawa dengan keras, ia semakin menekan pisau ke leher Thalia. Rasa nyeri mulai dirasakan Thalia, pisau itu perlahan mulai menggores tipis kulitnya.


"Alexa, bisakah kita bicara perlahan … Natasya, aku tahu kau mendengarkan sadarlah sebelum semua terlambat." Thalia berusaha mengajak bicara Natasya.


"Diam!"


"Natasya, please … menyerahkan diri lebih baik untukmu dan Alexa, aku akan membantumu keluar dari masalah ini. Everything's gonna be alright."


"Thalia stop! Jangan bicara lagi … dia bisa melukaimu!" David mengingatkan.


Tanpa disadari Natasya, dua orang dari rekan David memutar dan bersiap menyergap Natasya dan menyelamatkan Thalia. 


Sean yang menyadari hal itu dan mengalihkan perhatian Natasya dengan kembali mengajaknya bicara.


"Natasya … I mean Alexa, kemarilah?! Kamu merindukanku kan? Apa kamu nggak ingin memelukku?"


Alexa terdiam, matanya masih menatap Sean dengan penuh kebencian, Sean kembali bicara.


"I Miss u so much Natasya, bisakah kita bersama lagi. Seperti dulu?!"

__ADS_1


"Natasya, Sean mencintaimu … sangat, dia menyesali perpisahan kalian." Thalia menambahkan.


Sorot mata Natasya tampak redup, David bisa membaca gerakannya melemah, ia memberi kode pada kedua anak buahnya.


"Sean … i Miss you too." Suara lemah dan tak berdaya keluar dari mulut Natasya, Alexa menghilang sesaat.


David mengangguk, dan dengan cepat kedua anak buahnya meringkus Natasya dan menjatuhkannya ke lantai. David menarik Thalia dan mendekapnya. Alexa muncul, kekuatannya luar biasa. Membuat dua orang pria itu harus bertindak ekstra.


Anggota yang lain dengan cepat menjauhkan pisau yang terlepas dari tangan Natasya. Pribadi Alexa yang muncul berusaha memberontak dengan sekuat tenaga, tapi usahanya sia-sia.


"Kalian pikir bisa menangkap ku dengan mudah?! Dasar bodoh! Lihat apa yang bisa aku lakukan?!"


"Ya, ya … kita lihat apa yang bisa kamu lakukan. Tapi untuk sementara kamu harus menuruti kami." sahut David yang masih mendekap Thalia.


"Aku akan membunuhmu Sean, tidak ada yang boleh memilikimu selain Natasya!" Alexa kembali berteriak.


Thalia ngeri melihat kemarahan Alexa, Natasya yang ia kenal benar-benar telah menghilang. "Tolong jangan sakiti dia Dave?!" 


"Thalia, diamlah ini urusan kami. Yang penting sekarang kamu selamat." sahut David.


Alexa masih menguasai Natasya terlihat dari sorot tajam matanya ke arah Sean. Ia seolah tidak berkedip sedetikpun, membuat Sean ngeri.


"Kau pikir akan bebas dariku dengan mudah Sean?! Jangan mimpi!"


David menatap tajam Natasya, "Kenapa kau membunuh mereka Alexa?"


Alexa hanya melirik sepintas pada David, dia diam tidak menjawab. David menarik nafas panjang dan kembali bertanya, "Natasya, apa kau disana? Kenapa Alexa membunuh wanita-wanita itu?"


"Aku tidak tahu … diam!" Natasya dan Alexa bergantian muncul.


"Kau yang diam, jika kau tidak memburu mereka kita tidak akan tertangkap!" Natasya mencoba bicara.


"Diam bodoh!" Alexa menjawab.


Semua yang ada disitu merasakan kengerian melihat dua pribadi yang saling bertolak belakang ada dalam tubuh yang sama. Rasanya seperti melihat film horor secara live.


"Dia harus ditangani secara khusus Dave." Thalia berbisik.

__ADS_1


"Sepertinya begitu."


Natasya kembali meracau berdebat dengan Alexa membuat pusing semua yang ada dalam ruangan.


"Bawa dia ke kantor segera! Jaga ketat, dan jangan terkecoh dengan Natasya!" perintah David pada anak buahnya.


Mereka membawa Natasya dengan pengawalan ekstra ketat. David memeriksa keadaan Thalia yang mengalami luka ringan.


"Perlu ke dokter?" 


"Nggak, ini cuma luka ringan." Sean membantu Thalia membersihkan lukanya.


"Yang diperut?"


"Cuma kegores dikit juga, nggak dalam kok?!"


"Yakin semuanya nggak apa-apa?!"


"Iya, tenang aja. Mereka menunggu Dave, pergi deh kasian kelamaan. I'm ok."


David menatap Thalia, ia sebenarnya masih ingin bersamanya tapi tugas dan kewajibannya sudah menanti.


"Baiklah, aku pergi dulu."


Baru saja David berbalik, suara keributan terdengar dari halaman depan. Sean dan Thalia saling berpandangan, David bergegas ke arah sumber suara diikuti Thalia dan Sean.


Natasya berusaha melarikan diri, ia memberontak, menendang dan memukul polisi yang menjaganya. Dengan cepat Natasya mengambil senjata yang berada dibalik baju salah satu rekan David. Ia mengarahkan senjata itu ke arah siapa saja yang mendekati nya.


Sean yang tampak datang menyusul David bersama Thalia, terkejut melihat Natasya yang memegang senjata dan menyeringai ke arah Thalia.


"Mati kau Thalia." gumamnya


Terdengar bunyi letusan tembakan, Sean bergerak cepat melindungi kembarannya. Thalia terkejut bukan kepalang, suara letusan itu terdengar sangat menyeramkan di telinganya.


Suara letusan tembakan terdengar lagi hingga dua kali. Thalia gemetar, ia takut terjadi sesuatu pada Sean yang sedang melindunginya.


"Sean …"

__ADS_1


__ADS_2