
...Warning Alert : dua bab ini mengandung Nganu 🙈🙈 yang belum cukup umur dilarang ngintip apalagi baca yaaa….😁...
...****************...
Rangkaian acara pernikahan Thalia dan David akhirnya usai. Perpindahan tempat dari rumah ke hotel untuk acara resepsi cukup merepotkan belum lagi pakaian dan riasan yang berbeda. Menjadi ratu sehari meskipun hanya sederhana tetap saja melelahkan.
Thalia berdiri seharian menyambut tamu dari rekan kerja, relasi dan kerabat yang datang silih berganti membuat kakinya pegal. Ia kembali ke kamar dengan David.
"Capek ya?" David membantu Thalia duduk dan melepaskan sepatu dengan hak 5 centimeter.
"Jangan ditanya deh capeknya, sampai kakinya nggak terasa kaki begini." keluh Thalia.
"Nggak kerasa kaki terus jadi apa dong? Tangan?" David menggoda Thalia
"Iish, apaan sih?"
"Mau aku bantu lepasin gaunnya nggak?"
"Eh, lepasin gaun?" Thalia balik bertanya, pikirannya rumit dan berkelana jauh.
"Kenapa, malu? Lupa kalo sekarang kamu jadi istri orang?" David mengingatkan Thalia.
Thalia tersenyum malu, setelah sekian lama menyendiri ia belum terbiasa dengan keadaan yang baru saja terjadi pagi tadi dalam hidupnya.
"Aku bisa buka sendiri kok, kan gampang."
"Yakin?" David kembali menggoda Thalia dengan mendekatinya dan meraih pinggang Thalia agar semakin merapat padanya.
"Ehm, yakin kok. Aku bisa sendiri." Jantung Thalia benar-benar terlepas dari tempatnya saat David memeluknya erat serta menurunkan resleting gaunnya perlahan.
"Dave, aku bisa beneran." Thalia semakin meremang saat nafas David menyapu leher jenjangnya yang terekspos tanpa penghalang.
David nyaris menciumnya saat pintu kamar hotel terbuka lebar, "Thalia … mom bawa seseorang untuk bantu kamu … aaah, sepertinya mommy datang diwaktu yang salah."
Mom Elisa, terhenti bicara saat melihat menantunya hampir saja mencium Thalia di depan mata.
"Mom, bisa nggak ketuk pintu dulu!" Keluh Thalia yang merona karena hampir saja tertangkap basah.
"Sorry sweetheart, Mom masih berpikir kamu sendiri jadi … aaah, forget that! So, kamu butuh bantuan atau tidak?!"
"Yup, Thalia butuh bantuan Mom. Tolong dia, jadi saya bisa mandi dulu. I'm tired too." David tersenyum dan berlalu meninggalkan mereka bertiga.
David memilih untuk membersihkan diri sembari menunggu Thalia yang masih disibukkan dengan gaun dan tata riasnya.
__ADS_1
"Dave luar biasa bukan? Mom senang kamu memilih dia ketimbang Ardi sayang."
"Hhm, he is Mom."
"Apa kamu lelah sayang, jangan tidur dulu. Jangan lewatkan malam pertamamu!" bisik mommy di telinga Thalia.
Sontak bisikan itu membuat Thalia dan asisten MUA tertawa. "Mom, sejak kapan mom jadi mesum begini?"
"Thalia, mom and Dad selalu menjaga keharmonisan kami di ranjang." bisik mom lagi.
"That is such a rude mom!" protes Thalia.
"Honey, you have to know that secret?!"
Mereka bertiga tertawa bersama, obrolan ringan antara ibu dan anak itu begitu rileks dan membuat Thalia bahagia. Setelah sekian lama berpisah dengan ibunda tercinta, kini ia bisa bersenda gurau lagi dengan bonus David sebagai suaminya.
"Ngobrol apa ini, seru banget kayaknya?" Terdengar suara Daddy Thalia dari balik tubuh Mom Elisa.
"Dad? You come here too? Gosh, Why don't you ask Sean here too?"
"I did!" Sean tiba-tiba saja muncul meramaikan kamar pengantin Thalia.
"What the hell, kalian sengaja ya datang kesini?" Thalia tidak percaya dengan apa yang dilakukan keluarganya.
"Thank you Sean, Mom, and you too Dad!" Thalia memeluk mereka bertiga dengan erat.
"Apa aku ketinggalan sesuatu?" tanya David yang baru selesai mandi.
Mereka saling berpandangan, bergegas merapikan gaun milik Thalia dan yang lainnya.
"Thalia, mom and dad kembali ke kamar dulu ya." Mom Elisa mengapit Dad keluar kamar, ia juga mengajak serta asisten MUA yang dibawanya.
"Aaah, aku ada janji sama partnerku di bawah. Sampai ketemu besok … eh lusa or maybe, aah whatever day?!" Sean juga segera berpamitan.
David dibuat kebingungan dengan tingkah mereka. "Kok pergi semua, ada apa ini?"
"Nothing beb, aku mandi dulu ya. Gerah?!" Thalia tersenyum melihat kelakuan keluarganya.
David hanya menggelengkan kepalanya, mengunci pintu kamar dan merapikan ranjang yang akan mereka tiduri untuk pertama kalinya.
Thalia membersihkan dirinya dari make up dan keringat yang menempel di tubuhnya. Meski bukan yang pertama kalinya jantung Thalia berdegup kencang.
"Aku bisa kena serangan jantung kalo begini."
__ADS_1
Thalia berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi, ia gugup.
"Thalia, kamu nggak apa-apa kan?" David bertanya dari luar.
"Iya, nggak apa-apa. Sebentar lagi selesai."
"Apa aku alasan aja lagi dapet ya? Aduh kenapa begini rasanya?"
Setelah sekian lama berpikir, akhirnya Thalia keluar juga. David sudah menunggunya dengan cemas.
"Aku pikir kamu pingsan beb?!
Thalia tersenyum, "Maaf kelamaan ya nunggunya?"
"Kamu takut? Kita nggak perlu ngelakuinnya sekarang, kamu kan juga capek." David menghampiri Thalia dan merapikan rambut Thalia yang sedikit basah.
"Takut? Kamu bukan sejenis hantu kan?"
David tertawa mendengarnya, "Jadi …"
"Jadi?" Thalia sedikit gemetar saat David menarik pinggangnya mendekat.
Ciuman lembut mendarat di pipinya, "Baunya nyenengin, dingin, segar, it make me want to kiss you more and more Beib." David perlahan mendaratkan ciumannya dari kening, pipi dan turun ke leher Thalia.
David membingkai wajah Thalia dengan kedua tangannya, mereka saling bertatapan dengan penuh cinta.
"I love you Thalia."
"I love you too Dave."
Ciuman lembut dan basah mengecap manisnya bibir Thalia, ini mengingatkan Thalia pada Erick. Pikiran yang seharusnya tidak boleh lagi ia rasakan. Rasa yang tabu untuk kembali diingat.
Damn … haruskah aku mengingatnya sekarang, kenapa rasa ini tiba-tiba saja muncul?!
David terus melanjutkan aksinya memberikan Thalia ciuman yang semakin intim dan menuntut. Thalia hanya bisa pasrah dan membiarkan David yang kini telah sah menjadi suaminya menjajah setiap inci dari tubuhnya.
"I'm yours honey …" bisik Thalia disela ******* lirihnya.
"Yes you're mine." David kembali memberikan ciuman yang membangkitkan gairah Thalia. Ciuman yang semakin panas dan menuntut.
Tangan David perlahan menyelusup di balik pakaian tidur Thalia, mengusapnya lembut dan perlahan menurunkan pakaian tidur yang menutupi tubuh Thalia.
Perlahan tapi pasti keduanya diselimuti gairah cinta yang tak tertahankan lagi. Saling meraba, mengusap dan memberikan sentuhan di bagian sensitif masing-masing. Merasakan kembali sensasi kenikmatan yang telah terlupakan.
__ADS_1
David membuat Thalia semakin menggila dengan sentuhan lembutnya. ******* dan erangan menghiasi kamar mereka hingga akhirnya mereka mencapai pelepasannya masing-masing. David merengkuh Thalia dalam pelukannya, menghujani dengan ciuman lembut, "I love you Thalia."