Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 82


__ADS_3

Thalia sampai memutar ulang lagu Sephia hingga beberapa kali. Malam sebelum mereka berpisah, Thalia dan Erick sempat membahas masalah lagu dan bertukar pikiran tentang novel yang tengah ditulis Erick. 


"Kamu suka lagu apa?"


"Apa ya, banyak deh. Buat apa emang? Buat novel kamu?" jawab Thalia.


"Iya, bagusnya apa ya?" tanya Erick.


Saat itu Thalia tidak mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Ia hanya memikirkan satu lagu Sephia. Thalia benar-benar tidak mengira jika lagu itu dipilih Erick.


"Kejutan kecil dari kamu, aku bahkan nggak bilang tapi kamu bisa tahu apa yang ada di pikiranku." gumam Thalia sambil menatap ponselnya.


Ia kembali membaca beberapa episode selanjutnya. Dan kembali ia dikejutkan oleh satu hal. Erick menuliskan sebuah nama, dan itu adalah bagian dari nama panjang Thalia. Jantung Thalia seolah berhenti membaca nama itu.


"Erick, darimana kamu tahu nama aku? Apa ini kebetulan atau … memang kita satu pemikiran?"


Bulu di tubuh Thalia meremang, terlalu banyak kebetulan yang terjadi diantara mereka berdua. Ingin rasanya Thalia menghubungi Erick, tapi itu mustahil. 


"Apa ini karena kalian? Kalian membuat kami menyatu, saling merasakan, dan bisa melihat satu sama lain meski harus melalui dimensi lain. Apa maksud kalian begini? Jelaskan padaku!"


Thalia merasakan sesak di dadanya, ia ingin menangis dan berteriak sekerasnya. Ia benar-benar dibuat bingung dengan keadaannya.


"Kenapa kalian diam! Jawab aku! Kenapa kalian siksa kami dengan rasa ini?!"


Tangis Thalia meledak. Antara sedih, kesal, bingung, dan juga memendam rindu yang mendalam pada Erick. Semua melebur jadi satu. Thalia berada dalam titik abu-abu, tidak bisa membedakan kenyataan dan ilusi. Itu membuatnya frustasi.


Thalia …, suara Amy memanggilnya.


"Amy?" Thalia mengusap air matanya, ia mencari pemilik suara gaib yang ia kenal.

__ADS_1


Amy menampakkan dirinya di sisi lain ranjang. "Kau menangis? Kenapa?"


"Amy … apa yang sebenarnya terjadi? Kamu pasti tahu kan, kamu pernah kasih tahu aku kemarin?! Ikatan apa ini Amy?!"


Amy terdiam, ia hanya bisa menatap Thalia. Wajah pucatnya hanya menyunggingkan seulas senyum.


"Nikmati saja prosesnya Thalia, semua akan baik-baik saja."


"Cckk, kamu belain temen ya?" Thalia kesal karena Amy tidak juga mau berterus terang padanya.


Amy tersenyum, ia mendekati Thalia. "Aku nggak belain mereka, tapi apa yang terjadi di antara kalian adalah ikatan gaib yang unik."


"Apa maksudnya?"


"Ikatan ini tidak bisa mengikat pada orang biasa. Kalian orang-orang istimewa yang dipilih. Kenapa kamu nggak mulai dengan mempelajari emosinya?"


"Rasakan bedanya Thalia, aku yakin kau bisa membedakannya. Rasakan perubahan emosinya, sedih, marah, dan … " Amy menggantung perkataannya.


"Dan … apa?"


"Desire."


"What the hell, apa aku juga akan merasakan hal itu Amy. That's impossible?"


"You know what Thalia, you're a mission impossible?!" sahut Amy tertawa.


"Ha … ha … lucu sekali Amy!"


"Thalia, manusia secara normal akan merasakan itu bukan? Marah, sedih, bahagia, dan juga hasrat. Apa aku salah?" tanya Amy

__ADS_1


"Waah, Amy kamu adalah hantu kecil cantik yang menyebalkan! Kata-kata kamu tidak seperti usiamu." gerutu Thalia.


"Thalia, umurku bahkan jauh lebih tua darimu! Wajar jika aku lebih dewasa darimu dalam berbicara!" 


Thalia tersenyum, Amy seorang hantu tapi kini malah lebih seperti teman bagi Thalia.


"Amy, kamu main ke tempat Langit kemarin?"


"Hmm, aku kesepian Thalia. Aku pikir Langit tidak keberatan jika aku berkunjung ke rumahnya." jawab Amy santai.


"Tapi ingat jangan buat Langit membangkang ok?! Aku sudah cukup sulit dengan keadaannya kemarin." Thalia mengingatkan.


"Tentu saja, aku janji! Thalia, kapan kau mencari jasadku?!" tanya Amy  membuat Thalia tersadar akan janjinya.


"Aah, itu aku hampir saja lupa. Apa kamu ingin segera pergi?"


Amy terdiam, ia tersenyum dengan bibir kecilnya. Lalu menghilang.


"Iiish kenapa pergi? Kamu belum menjawab Amy?!" seru Thalia pada ruangan kosong.


Pikiran Thalia sedikit lega, Amy seolah meringankan bebannya.  Perut Thalia lapar karena terlalu banyak menangis dan berpikir, ia memutuskan membuat sesuatu untuk makan malam.


Baru saja Thalia keluar dari kamarnya, Sean menghampiri. Rupanya ia baru saja pulang dari restoran. Wajahnya kusut, sepertinya ada masalah.


"Kamu kenapa Sean?" 


"Nothing, Thalia … ada tamu didepan, temui dia dan jangan terlalu lama mengobrol dengannya!"


Tamu? Siapa mencariku malam-malam begini?

__ADS_1


__ADS_2