
Hati Thalia bergetar, ia merasakan hal ganjil yang terjadi pada dirinya. Feeling nya begitu kuat dan yakin Kamboja Merah akan membalas komentarnya. Sambil menunggu jawaban dari penulis itu, ia kembali membuka novel Mantra Gaib yang belum selesai ia baca.
Setiap chapter yang ia baca seolah membawanya bertemu dengan Kamboja Merah. Terasa begitu dekat begitu nyata, seolah dialog setiap tokoh dalam novel itu terjadi di depan matanya. Thalia masuk terlalu dalam dan semakin dalam.
Ia menciptakan dunianya sendiri, dunia yang membuatnya tenang. Kamboja Merah berhasil membuatnya kembali jatuh cinta. Cinta yang telah lama ia lupakan, bahkan Thalia sudah lupa bagaimana rasanya. Hati yang tertutup selama bertahun-tahun tiba-tiba terketuk pintunya.
Dengan perlahan ia kembali membaca, chapter 36 berisi pengajaran pada sang tokoh tentang hidup. Saat membacanya Thalia begitu terpesona pada sang tokoh utama dan juga pengajaran yang tertulis didalamnya. Meski ia tidak begitu memahami bahasa Jawa yang tertulis didalamnya, tapi ia sedikit bisa memahami maksud dari dialog itu.
"Seperti matahari yang beranjak sepertiga … semakin banyak sinar yang dipancarkan semakin banyak kehidupan yang bergantung padanya, wow its nice quote like this part!" kata Thalia sambil tersenyum sendiri.
Ia kembali melanjutkan bacaannya,
__ADS_1
"Menyentuh takdir …" Thalia berhenti sejenak dan berpikir.
Apa seperti yang aku lakukan? Kadang aku bisa melihat masa depan, kadang aku bisa melihat kematian, apa itu maksudnya?
Thalia kembali membaca, senyum mengembang disudut bibirnya.
"Udah dijawab disini, kematian sudah tergaris bagaimana caranya rahasia ilahi. Kita tidak ikut mengatur kehendak jagad."
Selama ini ia takut dengan kemampuannya yang mampu melihat kematian seseorang hanya dengan menyentuh atau melihatnya saja. Apa yang dilihatnya dalam sebuah mimpi atau bayangan begitu nyata dan benar-benar terjadi membuatnya ketakutan.
Beberapakali kematian dari tetangga, saudara dan teman dekatnya menjadi kenyataan dan terjadi persis seperti dalam mimpinya. Thalia akhirnya memutuskan untuk perlahan mengendalikan pikirannya. Untungnya ia berhasil dan kini bayangan kematian itu sudah jarang muncul dalam mata batinnya.
__ADS_1
"Luar biasa, aku udah nyari kemana mana jawaban dari pertanyaan yang aku alami. Ternyata sesimpel ini jawabannya? Menarik, semoga ada jalan untuk bisa dekatin dia."
Thalia kembali terhanyut dalam bacaan, tiap chapter dalam novel itu menyihirnya dan melupakan Thalia dari waktu. Sesuatu yang aneh kembali menyerangnya, badannya sakit, nafasnya pendek rasa ngilu teramat sangat menusuk di tukang belakang menjalar dari tulang teratas hingga ke tulang ekor.
Thalia sampai harus meletakkan ponselnya, ia merintih, dadanya terasa sakit seolah dirinya sedang menantikan sesuatu yang istimewa datang. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan.
Kenapa sakit banget, badanku kenapa sih, keulang lagi yang tadi … apa karena novel ini? Nggak mungkin kan?
Ia meringkuk untuk meringankan rasa sakit itu. Kaos putih yang ia kenakan hampir saja basah dengan keringat dingin yang keluar dari tubuhnya. Tangannya mencengkeram kuat selimut yang melapisi ranjang. Thalia terbatuk beberapa kali, itu membuatnya sedikit nyaman.
Thalia menahan rasa itu selama beberapa lama, ia hanya bisa merasakan hantaman energi yang datang silih berganti masuk dalam tubuhnya. Menjalar ke seluruh sel tubuhnya hingga bagian terkecil. Thalia kembali mengerang dan terbatuk. Sebuah bisikan terdengar jelas di telinganya terkesan lembut dan tegas pada saat bersamaan,
__ADS_1
Terima, jangan melawan … ia datang untukmu!