Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 106


__ADS_3

Hujan mulai turun membasahi setiap jalanan ibukota. Seorang gadis cantik berkulit putih, dengan rambut ikal kecoklatan berlari menembus hujan yang turun semakin deras. Sesekali ia menoleh ke belakang menghindari kejaran beberapa orang dari kepolisian.


"Sialan, mereka menemukanku!" umpatnya sendiri dengan raut wajah kesal.


Kepala gadis itu menggeleng, raut wajahnya berubah seketika begitu juga dengan nada suaranya yang berubah sedikit lembut, "Itu salahmu, aku sudah bilang jangan gegabah!"


"Diam! Siapa yang menyuruhmu keluar! Jika bukan karena kekasihmu yang bodoh itu, kita nggak akan ketahuan!" Suara gadis itu berubah menjadi lebih garang, tegas dan menggertak.


"Bodoh, Sean nggak bodoh dia sayang aku! Kamu yang buat dia pergi dariku?!"


"Ciiiih, gadis bodoh! Kamu sama seperti mereka, mudah diperdaya pria! Apa kamu mau aku bunuh juga?!" 


Gadis dengan suara yang lebih garang itu mengeluarkan pisau tajam dari balik jaket jeans miliknya. Ia mengarahkan pisau ke lehernya sendiri. 


"Kau mau membunuhku?! Maka kau akan ikut mati denganku juga?!" Gadis itu kembali mengubah suaranya dan sedikit tertawa.


Tangan si gadis seolah melawan ruang hampa, saling menyerang dan menahan. Hingga akhirnya berhasil melukai lehernya sendiri. Darah menetes membasahi pakaiannya, ia jatuh terduduk ditengah hujan lebat bersandar pada dinding bangunan tua dan tertawa sepuasnya. Tidak ada rasa sakit yang ia rasakan dari luka yang diakibatkan ulahnya sendiri.


"Sean! Aku akan datang padamu! Kau harus mati seperti yang lainnya!"


Gadis itu kembali tertawa dengan keras dan menengadahkan kepalanya ke atas seolah menantang alam untuk memberikan hujan yang semakin deras.


...----------------...


David menghampiri Thalia yang sedang duduk di teras belakang rumah menikmati aroma hujan yang menenangkan.


"Boleh aku temani?"


"Silahkan?!"


"Apa ada kabar dari Natasya?" tanya Thalia.


"Belum, anggotaku sedang mencarinya. Dia berhasil kabur." jawab David.

__ADS_1


"Kabur? Pintar sekali dia, bisa ngalahin kalian." sarkas Thalia.


David hanya tersenyum mendengar sindiran Thalia. "Well terkadang wanita jauh lebih lincah dan pintar bukan?"


Thalia melirik David sekilas dan tersenyum sinis. "Itulah kelebihan wanita."


"Aku udah taruh beberapa orang untuk jaga-jaga disini. Ada kemungkinan dia kemari, kami menemukan foto-foto Sean yang dipasang di dalam kamarnya."


"Foto?"


David memperlihatkan beberapa foto yang dikirimkan anak buahnya pada Thalia. Tampak foto Sean dengan beberapa coretan dan tulisan "Died!"


Thalia terkejut melihatnya, "Natasya … apa yang sebenarnya terjadi padamu?"


"Apa kamu mengenalnya secara pribadi?"


"Natasya? Ehm, kami berteman lama sejak kuliah dan dia memang tertarik pada Sean jauh sebelum aku menikah sama Rendy. Dia baik, meskipun terkadang sisi liarnya keluar."


"Sisi liar?"


"Sean sepertinya cukup terpukul."


"Sean? Ya, sepertinya begitu. Menjadi saksi pembunuhan apalagi yang melakukannya orang yang dia cintai, siapa yang nggak shock?!"


David hanya mengangguk lalu bertanya pada Thalia, "Terus gimana sama kamu?Apa kamu juga tipe orang yang trauma sesuatu, pernikahan misalnya?"


"Eh, kenapa jadi nanya saya?"


"Salah ya? Maaf kalo gitu?!"


Thalia jadi sedikit salah tingkah mendapat pertanyaan dari David yang seharian ini terus memperhatikan dirinya.


"Kalian berjaga full kan?" Thalia mengalihkan pembicaraan, ia enggan menjawab pertanyaan David.

__ADS_1


"Iya, 24 jam. Kita tunggu siapa tahu Sean memang menjadi target berikutnya."


"Menegangkan rasanya. Seperti menunggu Dewi kematian datang menjemput." ujar Thalia lirih.


"Mau jalan-jalan biar nggak tegang?" David menawarkan diri.


"Katanya nggak boleh keluar? Gimana sih" Thalia sebenarnya ingin sekali pergi sekedar melepas ketegangan sejenak.


"Kan sama saya perginya, aman. Sekalian saya mampir ke rumah sebentar. Gimana, mau?" Thalia berpikir sejenak lalu menyetujui ajakan David.


 Rumah Thalia kini dijaga setidaknya enam orang anggota kepolisian. Sean bersikap santai seolah tidak terjadi apa-apa. Dia bahkan mengajak para petugas polisi itu untuk bermain game dan nonton acara televisi bersama.


Thalia lega melihat Sean sudah mulai menguasai dirinya lagi. Kehadiran enam pria anggota kepolisian membuat Sean terhibur.


"Aku pergi Sean!" pamit Thalia.


"Ok, bawain aku makanan buat temen-temen disini!" Thalia mengangguk, dan berpamitan pada teman-teman David. 


...----------------...


Hujan deras masih mengguyur jalanan ibukota menimbulkan banjir di beberapa ruas jalan. David memutar arah untuk menghindari banjir, dan memilih pulang ke rumahnya terlebih dahulu.


"Keberatan kalau saya pulang dulu?"


"Nggak, lagian kamu juga seharian dirumah. You need to change clothes too." jawab Thalia dengan senyuman.


"Badan saya bau asem ya?" tanya David dengan wajah konyol dan menciumi kemejanya.


Thalia tertawa,"Baru nyadar?"


David tersenyum bahagia, melihat Thalia akhirnya tertawa. Kesempatan emas untuk mendekati Thalia seolah terbuka lebar.


Di lain tempat, Natasya tengah mengintai keadaan di rumah Sean. Ia bersembunyi di balik rindangnya pepohonan yang ada di seberang rumah Sean. 

__ADS_1


Dinginnya cuaca akibat hujan sama sekali tidak mempengaruhi dirinya. Luka di lehernya sesekali masih mengeluarkan darah. Natasya menyeringai dan tertawa kecil, "Aku datang untukmu Sean!


__ADS_2