Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 27


__ADS_3

"Hai sayang, Miss me?"


What the hell, sayang? Orang ini stres beneran deh. Sejak kapan aku ngijinin dia panggilan aku sayang!


"Maaf siapa ini?" Thalia berpura-pura, ia tidak ingin Ardi berada diatas angin.


"Thalia, kau lupa aku pasien kesayanganmu. Ardiansyah!" jawabnya tegas, sepertinya Ardi sedikit kecewa dengan sikap Thalia.


"Pasien kesayangan? Maaf sepertinya anda salah orang." kata Thalia sambil menatap Sean menunjukkan ekspresi seolah berkata, "I hate this man!". (aku benci pria ini)


Sean pun tertawa kecil, ia membalas Thalia dan berkata dengan lirih, "Nikmatilah siapa tahu he's the man!"  ( dia orangnya!)


Thalia menyeringai pada Sean, ia kesal harus menghadapi Ardi.


"Hello, are you there Thalia?!"


(Hello, apa kau disana Thalia?!)


"Oh ya, gimana? Apa kamu butuh konseling? Tapi maaf saya sedang sibuk." jawab Thalia.


"Nggak, cuma mau tau aja suaramu. Ternyata suara di telepon sama indahnya dengan aslinya."


Whaaat, he really make me … uuuuurrgh, can I kill this man!


"Thank you." sahut Thalia datar, ia malas menanggapi telepon Ardi.


"Apa besok kamu ada waktu?" tanya Ardi 


"Besok saya libur, tapi …"


"Good, saya jemput kamu jam 10 pagi!"


"Eeh, saya kan belum selesai kenapa tiba-tiba mau jemput?"


"No regarding, saya sudah bilang akan bayar kamu lebih!"


(Tidak ada penolakan)

__ADS_1


"Kamu pikir saya wanita bayaran! Saya nggak bisa, nggak ada waktu!" Thalia berteriak kesal, ia langsung menutup ponselnya dan membuangnya ke sofa.


Sean terkejut melihat Thalia, "What happened? Why are you cursing people like that?"


(Apa yang terjadi? Kenapa kau merutuki orang seperti itu?)


"He's crazy! Tante Alena, aku benar-benar benci dia, bisanya dia kasih orang kayak Ardi jadi pasien aku!" Thalia mengumpat sambil berjalan menuju lemari pendingin. Ia membutuh air dingin untuk  kepalanya yang panas karena emosi.


"Mungkin maksud dia baik, mau menjodohkan kamu?!" sahut Sean tertawa melihat tingkah Thalia.


"Sangat lucu Sean!"


"Kamu nggak bisa milih pasien Thalia, ingat sumpahmu!" kata Sean mengingatkan.


Thalia tersenyum masam. Sean benar, tapi Thalia tetap saja kesal dengan tingkah seenaknya Ardi. Dia sungguh berharap Ardi membatalkan acara besok karena Thalia sudah memiliki rencana sendiri. Membaca karya Kamboja Merah sampai selesai.


"Sean, gimana kabar Natasya? Aku lama nggak liat dia datang kerumah, kalian baik-baik aja kan?" Tanya Thalia mengalihkan perhatian Sean.


"We are good." Jawabnya singkat, Thalia sedikit terkejut karena Sean menjawab tanpa ekspresi dan sedikit lambat.


(Kami baik-baik)


(Tidak, kamu tidak baik-baik saja! Kenapa?)


Sean menghela nafas panjang, ia menatap lurus ke depan dan menutup Notebook nya.


"We broke up last week!"


(Kami putus Minggu kemarin!)


"Putus? Kenapa, aku pikir kamu serius kan sama dia?! Pihak ketiga?" tanya Thalia beruntun.


"Dia hanya lelah mengikuti kemauanku? Kami tidak berjodoh, itu saja ... simpel!" jawab Sean menatap Thalia.


"Sean, kenapa nggak cerita ke aku? Aku bisa kan bantu kamu buat balikan lagi? Natasya temanku juga, aku bisa bantu kamu dapatkan dia lagi." 


"No, please jangan. Aku, lebih baik cari yang lain. I warn you, don't you ever do that!" Kata Sean mengingatkan Thalia sekali lagi. 

__ADS_1


( Aku ingatkan dirimu jangan lakukan itu!)


"Oke, can I hug you Sean?"


(Oke, boleh aku memelukmu Sean?)


Thalia memeluk adik kembarnya itu dengan erat dan mengusap punggungnya.


"I'm sorry, aku belum bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Malah kebalikannya, kamu selalu menjaga aku. Thank you Sean, I love you so much."


Sean tersenyum dan hanya menepuk nepuk punggung Thalia.


"Setidaknya menurutlah padaku Thalia, aku walimu disini. Jangan bersikap aneh apalagi bodoh, itu akan merepotkanku!"


"Apa aku bodoh?" tanya Thalia mengurai pelukannya pada Sean.


"Ya, kau sangat bodoh dengan masih mengingat Rendy! Juga bodoh karena jatuh cinta pada pria yang bahkan tidak kamu kenal!" jawab Sean menatap Thalia lekat.


"Eeh, jatuh cinta? With who?" (Dengan siapa?)


"Jangan berpura-pura, you fall in love with him!" jawab Sean sambil menunjuk pada ponsel Thalia.


(Kamu jatuh cinta dengannya!)


"Ardi? No, kamu salah I hate him."


Sean masih menatap Thalia, "Penulis itu!"


Thalia terkejut, ia salah tingkah. Sean tentu saja tahu jika Thalia sedang jatuh hati. Ia bisa merasakannya.


"Jangan bercanda deh, mungkin itu cuma halusinasi ku aja Sean." elak Thalia.


"See, you're blushing!"


(Lihat, kau merona merah!)


Thalia terdiam, ia mengambil ponselnya mengalihkan perhatian Sean dengan membuka aplikasi baca novel berlogo biru lagi. Matanya Thalia berbinar ketika mendapatkan sebuah balasan yang ia tunggu dari tadi. It's him, Kamboja Merah.

__ADS_1


Sebuah balasan singkat, padat dan jelas disertai di emoticon lucu cukup membuat Thalia tersipu,


Emang keliatan gitu …, 


__ADS_2