
Thalia dihadapkan pada dua kenyataan yang saling bertolak belakang. Erick dalam dunia maya atau Ardi dalam dunia nyata. Kegagalannya terdahulu bersama Rendy membuatnya masih merasakan trauma yang mendalam. Itu sebabnya ia mau menjadi bayangan dalam kehidupan Erick. Thalia tidak ingin terlibat dalam hubungan nyata yang membuatnya tersakiti.
Sayangnya anggapan Thalia juga salah. Menjalin hubungan dalam dunia maya bukan tanpa resiko untuk tersakiti. Pada kenyataannya, hubungan di dunia maya justru lebih menyakitkan ketimbang di dunia nyata. Thalia terjebak dalam perasaannya sendiri. Ia sudah kehilangan pikiran sehatnya.
Ikatan gaib yang menyelimuti hubungan Thalia dan Erick telah mengaburkan penilaian Thalia secara pribadi. Ajaran dalam psikologi yang mengutamakan logika sama sekali tidak berfungsi di otak Thalia. Ia semakin mengikat kuat dirinya pada Erick. Ia meyakini apa yang dirasakannya adalah benar cinta yang sebenarnya.
"Wow … apa ada syuting sinetron disini?" tanya seseorang yang berdiri di depan pintu masuk.
Thalia terkejut melihat kedatangan orang yang selama ini ia benci dan bahkan ingin ia jauhi selamanya. "Rendy?"
"Hai, boleh aku masuk?!" Rendy tidak menunggu jawaban Thalia, ia masuk dan duduk berseberangan dengan Thalia dan Ardi.
"Silahkan dilanjutkan lho, maaf kalau saya ganggu acara kalian." katanya lagi.
Thalia tidak menyangka di hari off day nya ia mendapatkan dua kejutan sekaligus. Ardi dan Rendy.
Seandainya aku bisa memilih dan meminta bisa nggak sekalian Erick ada disini. Biar seru sekalian aja mereka bersaing buat jadi penjaga hati saya!
"Ada perlu apa kamu kesini? Sean pergi, kamu tau kan jadwal dia?" tanya Thalia.
__ADS_1
"Aku? Aku kangen aja sama kamu." jawabnya sambil tersenyum dan menatap Ardi.
Ardi menanggapinya dengan senyuman sinis. Rivalnya datang dan menghancurkan harapannya untuk mendapat jawaban dari Thalia. Pupus sudah suasana romantis yang ingin ia ciptakan untuk Thalia.
"Kangen ya? Kemana cewek kamu kemarin, putus?" tanya Thalia.
"Kemarin cuma teman nggak lebih. Kenapa, kamu cemburu?"
"Me? Of course not. Buat apa cemburu, kita sudah nggak ada urusan lagi kan? Itu hidup kamu not me?!" jawab Thalia.
Rendy tertawa, ia tahu Thalia masih mencintainya walaupun sedikit. Thalia bukan tipe orang yang begitu saja bisa memindahkan hatinya dan Rendy tahu benar hal itu. Sejak berpisah dengan Thalia, Rendy baru menyadari bahwa hanya Thalia yang paling bisa memahaminya.
Thalia begitu sabar menghadapi segala tingkah Rendy yang menyebalkan, meski tak jarang Thalia meluapkan emosinya dan marah tapi ia juga dengan mudah bisa ditaklukan Rendy. Rendy baru menyadari keegoisannya telah membuat ia kehilangan permata terbaik dalam hidupnya.
"Kita jadi pergi?" tanya Thalia tiba-tiba pada Ardi. Tangannya memberi kode pada Ardi akan mengikuti permainan Thalia.
"Tentu, kamu bisa siap-siap dulu. Keburu siang saya dah laper nih." balas Ardi sambil mengerlingkan matanya seolah menggoda Thalia.
"Ok, tunggu sebentar aku ganti baju dulu ya mas Ardi?!"
__ADS_1
Rendy menatap Ardi dan Thalia. "Kalian ada acara rupanya?"
"Iya kenapa memangnya?" jawab Thalia dengan ketus.
"Kalo gitu saya kembali lagi besok aja. Hari ini saya mengaku kalah start dari anda Pak Ardi but next she's mine!" Rendy melenggang begitu saja tanpa berkata apa pun lagi.
Thalia lega, akhirnya Rendy pergi juga. Tidak bisa ia bayangkan jika keduanya akan seharian berada dirumah bersamanya.
"Lho kamu nggak jadi ganti baju?" tanya Ardi.
"Nggak, tadi kan cuma pura-pura aja!"
"No, kamu harus tanggung jawab! Saya udah nyelamatin kamu lho dari dia?!" tolak Ardi.
"Maksudnya?"
"Kita tetap keluar,sebagai imbalan saya bantu kamu."
Thalia berpikir sejenak, "Baiklah, anggap ini rasa terimakasih saya ke kamu. Not more!"
__ADS_1
Ardi mengangguk, apa pun yang Thalia katakan dalam benaknya dialah pemenangnya. Thalia jelas memilih dirinya ketimbang Rendy.
Sekarang tinggal cari jalan buat misahin dia dari penulis itu. Masa iya saya kalah sama dia, I'm real and he's fake!