Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 63


__ADS_3

Thalia shock berat, ia meratapi kegagalannya menyelamatkan Qiara. Ardi menenangkan Thalia. 


"Sudah … jangan menangis terus, ini mungkin takdir anak itu." Ardi mengusap lembut punggung Thalia yang masih terisak.


"Takdir yang dipaksakan! Anak itu nggak bersalah, dia hanya korban keegoisan orang tuanya!" ujar Thalia disela tangisnya.


"Kamu bukan Tuhan yang bisa menggagalkan kematian. Jika memang takdirnya begitu ada atau tidak ada campur tangan manusia, kematian tetaplah datang Thalia." hibur Ardi.


Thalia kembali menangis, tatapan mata Qiara yang meminta tolong padanya masih teringat jelas dalam memori. Ardi membujuk Thalia agar mau turun dari rooftop.


Ardi menjadi saksi kejadian diluar nalar yang menimpa Thalia dan Qiara. Ia penasaran dengan apa yang terjadi sesungguhnya, tapi melihat Thalia yang masih shock Ardi tidak tega untuk menanyakannya.


Thalia berniat turun ke bawah mendampingi sang ibu. Ardi menemani Thalia yang sedikit lebih tenang.


"Kamu yakin mau bertemu dengan ibunya?" tanya Ardi sekali lagi.


"Hhm, setidaknya aku bisa berbohong tentang sesuatu pada ibunya."

__ADS_1


" Apa maksudnya dengan berbohong?" Ardi tidak mengerti dengan perkataan Thalia.


"Menyenangkan dirinya tentu saja. Ditinggalkan orang yang sangat kita cintai itu tidak mudah dan sangat menyakitkan. Menghibur mereka dengan kenangan terakhir yang terbaik itu seperti obat untuk luka yang ditinggalkan."


Ardi hanya mengangguk tanda mengerti, ia merapikan rambut Thalia yang kusut karena tertiup angin saat berada di rooftop.


"Kamu, wanita luar biasa yang pernah aku kenal. Aku merasa terhormat bisa mengenal kamu." kata Ardi 


"Apaan sih kamu, memang aku pejabat?! Sudah tugasku juga kali!" sahut Thalia dengan senyuman masam, ini bukan waktunya untuk menerima sanjungan bagi Thalia.


Keributan terjadi di ruang IGD. Tubuh Qiara terjatuh tepat didepan pintu masuk, membuat siapa pun yang melihatnya saat itu berteriak ngeri dan takut. Darah yang menggenang membuat aroma anyir tercium hingga kedalam ruang IGD. Ceceran tubuh Qiara bahkan ditemukan beberapa meter dari tempatnya jatuh.


 Thalia mencari tahu dimana keberadaan ibunda Qiara, rupanya pihak rumah sakit sengaja tidak memberitahukan pada ibunda Qiara sebelum semuanya tenang.


"Apa mereka menutupi kejadian ini dari keluarganya?" tanya Ardi pada Thalia.


"Sepertinya begitu, ini kejadian yang luar biasa. Lihat saja tubuh Qiara bahkan tidak ada yang berani memindahkannya sebelum polisi datang." 

__ADS_1


"Ini mengerikan Thalia … sebenarnya apa yang terjadi?"


Thalia tidak mau menjawabnya, ini adalah rahasia keluarga Qiara. Ia tidak berhak untuk ikut campur di dalamnya. Yang pasti ayah Qiara telah melakukan kesalahan besar dengan menumbalkan anaknya sendiri. Tapi untuk apa? Thalia tidak berniat untuk mencari tahu.


Thalia berjalan mendekati garis polisi yang mulai terpasang. Ia menatap tubuh kacau Qiara yang telah terbujur kaku. Airmatanya kembali menetes. Ia bisa melihat jiwa Qiara yang berdiri tak jauh dari tubuhnya. 


Hantu wanita merah itu menggandeng tangan Qiara, tepatnya merantai tangan Qiara. Ia menyeringai pada Thalia seolah mengejek Thalia atas keberhasilannya memangsa jiwa Qiara. Thalia hanya bisa menatap hantu itu pergi dan menghilang bersama jiwa Qiara.


Pihak Securitas rumah sakit langsung menutup area kejadian sampai beberapa meter jauhnya. Sementara pihak management rumah sakit bertindak cepat dengan menghubungi kepolisian setempat untuk olah kejadian perkara. 


Kejadian Qiara membuat preseden buruk bagi rumah sakit. Berita Qiara tersebar luas hingga diliput beberapa media nasional. Hal ini cukup membuat kewalahan pihak marketing dan public relation rumah sakit.


Pihak kepolisian juga meminta rekaman CCTV rumah sakit, dan tentu saja meminta keterangan Thalia.


"Sepertinya kamu bakalan jadi artis nih?!" kata Ardi pada Thalia.


"Hhmm, artis dadakan karena apes keliatan di CCTV bareng Qiara." 

__ADS_1


 


__ADS_2