
Kedekatan Thalia dan Erick semakin intensif setiap harinya. Mereka saling bisa memahami karakter masing-masing. Meski terhalang jarak, waktu, dan keadaan tidak menyurutkan rasa rindu mereka satu sama lain.
Thalia mulai bisa membedakan rasa yang datang menyapa dirinya dari ikatan itu. Ia mulai bisa membedakan marah, sedih, bahagia dan hasrat yang Erick rasakan. Begitu juga sebaliknya dengan Erick.
Setiap percakapan yang terjadi diantara keduanya secara tidak langsung mempengaruhi gaya kepenulisan Thalia dan Erick. Terkadang tanpa disadari beberapa kata muncul bersamaan di novel mereka, begitu juga isi percakapan mereka berdua menjadi inspirasi menulis bagi keduanya.
Satu pemikiran yang sama terkadang juga menyebabkan penulisan alur cerita yang hampir mirip. Jika sudah begini keduanya hanya bisa tertawa geli dan juga keheranan, ikatan itu benar-benar sudah merasuki jiwa mereka masing-masing.
****
Sebuah email masuk, Langit mengirimkan video lagi. Keasyikan berinteraksi dengan Erick membuat Thalia sedikit melupakan Langit.
Erick bahkan membuatnya lupa pada kehadiran Ardi yang selalu berusaha mendekatinya. Juga Rendy, sang mantan yang akhir-akhir ini juga semakin gencar mendekati Sean demi Thalia. Sementara pak David yang tidak pandai mengolah kata di depan Thalia hanya bisa menunggu dan menunggu respon Thalia.
"Langit, ini berarti sudah hampir sebulan ya? Wah kok cepet banget, baiklah kabar apa yang dia bawa kali ini."
Thalia membuka video yang dikirimkan Langit. "Hai Tante dokter, kok nggak pernah main kesini? Aku bosen main sama dia terus!"
Langit menunjukkan ke arah sudut ruangan, Thalia tersenyum. Rupanya Amy masih menemani Langit.
"Tante, aku dah jadi anak baik lho?! Tante kapan kesini bawain aku hadiahnya?"
Thalia tersadar, ia melupakan janjinya pada Langit. "Masih inget aja anak ini sama janjiku. Aduh cari dimana ya anak kucing?"
"Oh ya Erick kan punya kucing, coba aku tanya dia deh."
Thalia mengirimkan pesan pada Erick meminta informasi tentang kucing. Thalia sendiri sebenarnya takut dengan kucing tapi demi janjinya ia terpaksa harus mengalahkan rasa takutnya itu.
Erick memberitahu Thalia tentang dunia perkucingan yang sama sekali tidak dipahami Thalia.
"Jadi saya beli dimana ini anak kucing?"
"Di rumah saya ada banyak, kamu kesini aja dulu gimana?" Erick mulai menggoda Thalia.
"Iissh, seriusan ini! Saya janji sama anaknya temen?!"
"Ya di pet shop lah. Kamu bisa nemuin jenis Persia or Himalayan disana."
"Apa itu bagus, I mean lucu?"
__ADS_1
"Ya jenis yang umum itu."
"Ok thanks, aku mau cari dulu kesana. Udah dulu ya."
"Eh, udah?"
"Iya, udah. Trus gimana emangnya?!" Thalia mendadak salah tingkah ketika Erick membalas pesannya.
"Gitu aja?!"
Thalia bingung, tapi seketika ide jahil muncul di pikirannya. "Kecut ya beb, sini mau dikasih gula nggak biar manis?"
"???"
Thalia tertawa kecil, idenya berhasil membuat Erick terpancing, ia kembali menuliskan pesan. "I love you, Beib." Lengkap dengan emoticon hati.
"I want more." Erick disana pun ikut menertawakan kekonyolan dirinya yang menanggapi kejahilan Thalia.
"More, ok … just feel me there, feel me like I'm kissing your lips"
"I can feel you Beib."
Iiissh, gegara otak ngeres iniiih! Kejadian lagi kaan! Thalia … sadar, sadar!
Thalia mengumpat dirinya sendiri. Keisengannya berbuah menyakitkan bagi keduanya. Hasrat yang muncul biasanya akan sulit untuk dihilangkan lagi.
"Sial … sial, aku harus kemana ini? Biar nggak kepikiran terus yang tadi! Bodohnya aku!" Ia kembali mengumpat dirinya.
Ia memutuskan untuk pergi ke pet shop mencari kucing untuk Langit. Selama perjalanan Thalia memutar musik dengan keras agar tidak mengingat ciuman panasnya dengan Erick tadi.
"Sepertinya aku butuh sapu lidi … otakku lama-lama miring gini caranya!" gumamnya sendiri.
Tiba di pet shop, Thalia langsung berkonsultasi dengan pegawai disana. Thalia diperlihatkan dengan beberapa anak kucing yang memang sengaja diperjualbelikan disana. Pilihan Thalia jatuh pada anak kucing dengan perpaduan bulu cokelat dan putih.
Thalia sengaja tidak membawanya pulang, ia menitipkannya dulu disana karena sejujurnya Thalia malas merawatnya meski hanya semalam. Sedang asyik memperhatikan anak kucing yang resmi menjadi milik Langit, Thalia dikejutkan dengan suara lelaki yang menyapanya dengan ramah.
"Dokter Thalia?"
Thalia menoleh ke arah suara itu, "Pak David? Apa kabar?"
__ADS_1
"Baik, kebetulan ya kita ketemu disini." David tersenyum.
"Bapak mau beli kucing juga ya?" tanya Thalia langsung.
"Kebetulan lewat, sekalian beli pakan buat kucing keponakan. Dokter juga suka kucing?"
"Saya? Aah, nggak! Saya cari hadiah buat keponakan." kilahnya.
"Oh ya, mumpung ketemu disini nih saya mau minta bantuan dokter bisa?" pinta David ragu.
"Bantuan? Tentang apa ya pak David?" Thalia penasaran.
Pak David meminta Thalia menunggu dirinya sebentar. Ia kemudian mengajak Thalia untuk berbincang di sebuah kafe tepat disebelah pet shop.
"Begini, dokter …"
"Panggil Thalia aja."
"Oke, Thalia … tolong bantu saya memecahkan kasus pembunuhan."
Thalia terkejut, "Pembunuhan?"
"Iya, tim saya mengalami kebuntuan. Padahal semua saksi dan bukti sudah kami periksa, tapi … kami kehilangan jejaknya." kata pak David serius.
"Kenapa minta bantuan saya?" Thalia keheranan.
"Saya butuh kemampuanmu."
"Pak David, anda salah. Saya nggak bisa bantu bapak. Maaf." jawab Thalia.
"Please, saya tahu kamu bisa bantu saya. Kasus ini sangat penting untuk kami." Pak David kembali meminta pertolongan Thalia.
"Tapi … saya belum pernah melakukannya." Thalia ragu apakah ia bisa membantu pak David.
"Jadikan ini pengalaman yang pertama untuk kamu gimana?!" David pantang menyerah membujuk Thalia.
Thalia berpikir sejenak. Ia menatap netra David, dan ia menemukan pengharapan yang besar pada Thalia. Akhirnya Thalia memutuskan untuk membantu David dan timnya.
Setidaknya kali ini aku harus meminta bayaran yang pantas kan? Bukan pake daun tapi duit beneran.
__ADS_1