Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 121


__ADS_3

David kembali menghubungi temannya, tak lama kemudian sebuah mobil berplat daerah Yogyakarta mendekat ke arah mereka. 


"Selamat malam, dengan pak David dan ibu Thalia?" Tanya seorang pria berusia sekitar tiga puluhan yang buru-buru turun dari mobilnya.


"Iya betul, masnya yang mau jemput kita ke homestay pak Arga?" tanya David.


"Iya pak betul, maaf kalo terlambat. Mari pak, Bu … sudah ditunggu sama pak Arga dan ibu dirumah."


Thalia dan David segera masuk ke mobil, mereka ingin segera beristirahat setelah.


"Mas ini anaknya pak Arga?" David kembali bertanya setelah mereka berada di dalam mobil.


"Saya? Oh bukan pak, saya salah satu pegawai pak Arga. Tadi bapak sudah mengutus putranya buat jemput bapak dan ibu di bandara tapi … nggak tau deh kemana anaknya, makanya dia mengutus saya sebagai gantinya buat jemput bapak dan ibu."


"Oh gitu, saya kira mas putranya."


Tak berapa lama kemudian mereka berdua tiba di sebuah rumah dengan gaya modern tapi tidak meninggalkan kesan tradisional. Tampak dari beberapa benda antik yang ditempatkan sebagai hiasan di beberapa sudut ruangan seperti teko kuno, kamera dan radio dari jaman dahulu. 


Ukuran kayu jati membingkai pintu masuk ke dalam kamar yang ditempati David dan Thalia. Sebuah ranjang dengan taburan kelopak mawar dan handuk yang dibentuk menyerupai sepasang angsa menyambut kedatangan mereka berdua.


Thalia tertawa melihatnya, David benar-benar sudah menyiapkan segalanya. "Suka?"


"Suka banget, thank you my love." Thalia menjawab dan memberikan David kecupan singkat di bibir David.


David membalasnya dengan memeluk erat Thalia, "Kamu istirahat aja dulu, aku mau ngobrol sama Arga sebentar."


"Ok."


Sepeninggal David Thalia membersihkan dirinya. Meski tidak menempuh perjalanan yang lama, tapi pertempuran yang dilakukan mereka sebelum berangkat menyisakan lelah di tubuh Thalia. 


Thalia pun terlelap tidur, bisikan-bisikan aneh mulai terasa menggelitik di telinga Thalia. Seseorang memanggil namanya, 


Thalia …,

__ADS_1


Thalia tersentak dan kembali tersadar dari tidurnya, ia melirik jam dinding. Thalia baru saja terlelap 15 menit dan mulai merasakan Erick lagi. "Erick … ini sungguh menyiksaku." gumamnya lirih


Hujan mulai sedikit reda dan menyisakan hawa dingin di malam yang basah. Thalia menatap jauh ke luar jendela kamarnya, kelebatan sang penjaga kembali hadir.


"Kenapa kalian datang, semuanya sudah berakhir … jangan ganggu kehidupan kami lagi." Thalia mencoba berdialog dengan kedua penjaga miliknya dan Erick.


"Bisakah kalian berhenti menyiksa kami?! Aku mohon, hapuskan ikatan itu." pinta Thalia lirih pada kedua penjaganya.


Mereka tampak menatap Thalia dengan sedih, enggan menjawab dan menghilang.


Thalia kecewa, tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Tidak ada nama, tapi Thalia tahu itu Erick karena Thalia sudah menghapus semua kenangan dan nomor di ponselnya. Sinyal di tubuhnya masih merespon Erick dengan baik.


"Thalia …" suara Erick terdengar dari seberang sana.


"Ya …" Thalia merendahkan suaranya, ia tidak ingin David mendengarnya.


"Kita harus putuskan ikatan ini, aku tersiksa begini terus!" Nada Erick terlihat putus asa.


Erick berdecak kesal, Thalia benar ia harus mencari jalan keluarnya segera tapi saat ini pikirannya benar-benar buntu. Ia tidak bisa berpikir jernih setelah dua hari belakangan ini hanya memikirkan Thalia. Wanita yang sudah tidak boleh lagi dia pikirkan.


"Erick, lebih baik kita berusaha berdamai dengan keadaan. Bukannya kamu yang bilang kemarin. Sakit tapi harus dipaksa?"


"Yeah, kamu benar … cuma aku capek mandi terus Thalia?!"


Thalia tertawa, "Kamu ngapain emangnya kok mandi?" 


Pertanyaan Thalia terasa konyol tapi ia menyadari itu pasti menyiksa Erick. Seperti halnya dulu ia merasa tersiksa.


"Ok, ini terakhir saya hubungi kamu. Maaf udah ganggu waktu kamu. Harusnya aku juga sekuat kamu tapi … entahlah."


"Erick, kamu bisa kok seperti halnya aku bisa. Kita dipilih untuk jalanin ini."


Erick terdiam, Thalia benar mereka akan bisa mengakhiri dan menjalani semua dengan baik. This is the end of the story.

__ADS_1


*****


Seorang pemuda datang dengan wajah kusutnya. Pemuda itu datang bersama teman wanitanya dengan memakai motor. Keributan terjadi, adu mulut terdengar bahkan sampai keluar rumah.


Thalia mendengarnya, keributan antara orang tua dan anak lelakinya. Ia baru saja selesai mandi, membersihkan sisa-sisa pergumulannya dengan David semalam.


"Siapa yang bertengkar, suaranya keras banget." Thalia yang penasaran mengintip dari balik jendela besar di kamarnya.


Pemuda berwajah tampan dengan pakaian berantakan, membawa tas dan sebuah gitar di tangannya. Ia menarik tangan si wanita dan pergi begitu saja meninggalkan wanita yang setengah berlari mengejarnya.


"Elang … Elang!"


Pemuda itu tidak berhenti dan pergi begitu saja. Seorang pemuda lainnya yang usianya tidak jauh berbeda menyusul wanita tadi dan mengusap punggungnya. Menenangkan wanita yang kini menangis menatap ke arah perginya pemuda tadi.


"Kamu lihat apa?" David terbangun dan memeluknya dari belakang, menyusuri tengkuk Thalia yang tertutupi rambutnya yang basah.


"Itu tadi ada yang berantem, siapa dia?"


"Itu anak pertamanya pak Arga, Elang." David menjawab dengan terus mendaratkan ciuman pada Thalia seolah belum puas menyesap manisnya tubuh istrinya setiap waktu.


"Dave, stop it! Aku udah mandi!"


"So what?! Kan bisa mandi lagi nanti!" David tidak memperdulikan protes dari Thalia, ia terus saja mengeksplorasi tubuh istrinya. Memberikan gigitan kecil dan tangan nakalnya menjelajah di balik pakaian Thalia. Memaksa Thalia untuk kembali mengikuti keinginannya.


"Tunggu dulu Dave, kamu bilang tadi namanya Elang?" David hanya menjawab dengan lirih, ia asik dengan kegiatannya memanaskan Thalia kembali. Menciumnya hingga Thalia kehabisan nafas.


"Dave stop, aku mau jalan-jalan bukan di kamar terus. Please, kita lanjut nanti ya?!" Thalia melepaskan pelukannya perlahan.


"Beib terus ini gimana?!" David kecewa karena bagian bawahnya kembali tegang setelah kerja kerasnya memanaskan Thalia kembali.


"Mandi pake air dingin." Thalia tertawa, ia benar-benar tidak ingin melakukannya lagi. David kesal tapi akhirnya ia menuruti perkataan istrinya.


Sebuah nama mengganggu pikirannya, pemuda bernama Elang. Ada sesuatu yang menarik Thalia untuk mengenalnya, sebuah bisikan untuk membantu masalah pemuda tampan itu.

__ADS_1


__ADS_2