
Erick menarik tangan Thalia, setelah kekhilafan sesaat mereka, ia memberanikan diri untuk menyentuh Thalia. Sama seperti apa yang ingin dia lakukan bersama Thalia dalam chat.
Ia hanya ingin menghabiskan waktu malam ini bersama Thalia, menebus semua kesalahannya selama ini. Only one night to replace Thalia's waiting nights.
"Kita mau kemana?" tanya Erick
"Entah, saya juga nggak paham Jakarta?"
"Lho bukannya kamu tinggal lama disini?"
"Jakarta cuma tempat tinggal sementara, Mom and Dad ada di Swiss. Abis cerai dari Rendy saya langsung ke Baltimore, pulang ke Jakarta baru sekitar dua mau masuk tiga bulan ini."
"Oh ya Rendy gimana, tempo hari bukannya kalian mau rujuk?"
"Whaat? No … big no, our story is over. Saya nggak kepikiran. Buat nerima dia lagi." Thalia menjawab dengan mantap karena memang tidak ada lagi nama Rendy di ruangan hatinya.
"And, yang tadi telepon? Siapa dia?" Erick bukannya cemburu, ia hanya ingin memastikan Thalia bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya.
"Ehm, dia … David."
"I know that smile Thalia, do you love him?" Erick tersenyum lebar, ia tidak memikirkan perasaan Thalia saat ia menanyakan hal itu.
Thalia merespon pertanyaan Erick dengan senyuman masam, ia bingung tapi juga kesal. Erick adalah Erick, sama seperti yang ia kenal dalam chat. Menyebalkan.
"Sorry, I didn't mean to make you sad?!" Erick mulai menyadari perubahan ekspresi Thalia.
"Kenapa kamu nanya gitu? Kenapa kamu nggak nanya gimana perasaan ku ke kamu selama ini?"
"Thalia, kita sudah bicarakan ini kan tadi?! Aku hanya mengantarkan penjagaku untuk bersatu dengan milikmu. Dan kita … "
"Kita? Berpisah." Thalia meneruskannya dengan lirih.
"Ini yang terbaik kan, I saw that moment Thalia. Kamu akan menemukan jodohmu. Lupakan tentang perjanjian leluhur pendahulu kita berdua."
"Dan melupakan rasa ini? Apa kamu yakin kita bisa? Kita sudah coba berkali kali Erick, its not working!" Thalia yang putus asa mulai menangis.
Kali ini hatinya atau tepatnya egonya tidak ingin melepaskan Erick. Ia merasa benar-benar mencintai Erick dan menganggapnya bukan sekedar ilusi.
Erick menepikan mobil di jalur aman, ia menatap Thalia yang mulai terisak. "Jangan begini Thalia, kamu tahu kan kenyataannya? Aku nggak mungkin ninggalin dia, dan kamu juga memiliki masa depan."
"For several months I held this feeling Erick! And its over know?! Its not fair for me?!"
__ADS_1
(Selama berbulan bulan Erick aku menahan rasa ini dan sekarang harus berakhir?! Ini nggak adil buatku?!)
Erick merengkuh Thalia dalam pelukannya dan mencium kepalanya dengan penuh kehangatan. "I'm sorry Thalia … I'm really sorry. Mantra itu sudah membuatmu terluka, tapi aku juga mau kamu tahu aku juga terluka karena mantra itu."
Thalia semakin mengeratkan pelukannya pada Erick, ia benar-benar tidak ingin kehilangan lelaki tampan yang kini ada dihadapannya. Ego untuk memilikinya begitu besar. Bisikan penjaganya untuk memiliki Erick kuat terdengar di telinga Thalia.
"Jangan lakukan ini padaku Erick, please … i love you?!"
"May I say I love you too Thalia? Tapi aku juga mencintai dia. Jangan dengarkan bisikan mereka Thalia, kita berdua harus kuat. Kita tuan mereka jadi yang harus tunduk adalah mereka bukan kita."
Untuk sesaat kewarasan Thalia mendominasi, ia tersadar apa yang dikatakan Erick benar adanya. Thalia tidak bisa menyentuh garis takdir tidak juga dengan para penjaganya. Bayangan Thalia di masa depan tentang dirinya dan David kerap muncul belakangan ini.
Erick perlahan mengurai pelukannya, Thalia mulai bisa menguasai dirinya lagi.
"Jangan nangis, saya paling nggak bisa liat wanita nangis." katanya sambil menyeka airmata Thalia.
"Even though she does?"
"Yes even her. Jangan bicarain dia, saya cuma mau bicara tentang kita. Memastikan hubungan kita."
"Ya … kita."
Erick menatap Thalia dengan intens, "Kamu tahu, bagian terberat dari mencintai seseorang adalah tahu kapan harus melepaskan dan tahu kapan harus mengucapkan selamat tinggal."
Thalia masih terdiam dan menatap Erick. Rasa tidak nyaman mulai menyerang mereka berdua. Khodam penjaga mereka datang, mereka tidak ingin berpisah begitu juga dengan tuannya.
Hati kecil Erick terluka setiap kali memikirkan Thalia, tapi ia juga tidak bisa melepaskan wanita yang telah mendampingi selama dua tahun belakangan ini.
Sementara Thalia, bersama Erick adalah sebuah mission impossible. Thalia tidak bisa memaksakan egonya atas nama cinta dalam ilusi.
"Its over now right." ujarnya lirih pada kedua khodam penjaga yang tengah menatap mereka berdua.
Erick yang juga menatap pada kucing besar miliknya menimpali perkataan Thalia, "Hhmm, its over Thalia. Waktunya sudah habis. Kita hanya perantara mereka. Ibaratnya kita berbesan sekarang, ya kan?!"
"Tunggu, apa mereka akan punya keturunan juga?!" Thalia merasa konyol dengan pertanyaannya.
Erick tersenyum lebar, "Maybe, who knows Thalia? Mungkin nanti keturunan mereka bakal jaga calon anak-anak kita dimasa depan." Erick bergurau membuat Thalia tersenyum.
"Anak-anak kita?"
"I mean your child and my child of course." jawab Erick segera.
__ADS_1
"Yeah, you right. Semoga setelah ini ikatan kita bisa segera terputus." Thalia berharap dengan wajah serius.
"I hope so, Thalia." Erick menjawab meski ia ragu dengan jawabannya itu.
Mereka saling berpandangan dan tersenyum. "Udah nangisnya? Apa perlu pake nulis 1 bab seribu kata dulu?" Erick mengeluarkan candaan khasnya pada Thalia.
"Boleh, abis ini trus dibuat bab baru buat di novel kamu ya?!"
Mereka tertawa kecil, kenyataan memang tidak seindah dalam imajinasi manusia. Itulah yang harus mereka berdua hadapi.
Seandainya yang mengalami adalah orang biasa tentu akan semakin sulit untuk lepas, tapi Thalia dan Erick adalah manusia pilihan yang harus menghadapi ikatan gaib yang telah diwariskan selama berabad-abad lamanya.
Malam itu, mereka kembali berputar mengelilingi jalanan ibukota. Cerita ringan diantara mereka mengalir santai, keduanya menyadari hubungan yang paling ideal bagi mereka adalah sebagai saudara. Adik dan kakak.
"Udah larut, kamu harus pulang kan?" Erick mengingatkan.
"Iya, besok flight jam berapa?"
"Sore, jam 16.15 kamu mau antar?"
"Bolehkah? Untuk terakhir kalinya?"
"Sure with pleasure." jawab Erick.
And once more, Erick menarik Thalia dalam ciuman yang dalam dan basah. Satu ciuman panjang yang memanaskan mereka. Erick tidak mengizinkan Thalia melepasnya, ia hanya ingin menikmati malamnya dan memberikan Thalia kenangan yang tak terlupakan.
"Stop Erick, I'm desire now." Thalia menjauhkan tubuh Erick dengan perlahan.
"Damn, I told you berdua sama kamu bikin cepet naik. Dangerous!"
Mereka mengatur nafas sejenak, meredam gejolak yang memanas dalam tubuh mereka.
"Aku turun ya … hati-hati dijalan?!" Erick berpamitan dan mencium kening Thalia.
"Iya, night beb … sleep tight ok?!"
"I'll try, maybe?!" jawab Erick tidak yakin, karena hasrat yang tanpa permisi itu telah hadir kembali.
Thalia tertawa melihat Erick yang memaki dirinya sendiri sambil berjalan masuk kembali ke hotel.
"Bukan salahku Erick, kamu yang memancing tadi."
__ADS_1
*****