
Ardi mengambil sebotol air mineral untuk Thalia. "Minum dulu, biar segeran dikit nggak pusing?!"
Thalia menerimanya dan meminumnya hingga setengah botol membuat Ardi tertawa. "Kamu kehausan dari tadi, sampai pusing begitu atau gimana?" tanyanya keheranan.
"Nggak sih, cuma sedikit gerah." jawab Thalia berbohong.
"Kamu beneran nggak apa nih, aku ijin ke Tante Alena aja ya biar kamu nggak praktek hari ini?" Ardi menawarkan bantuan pada Thalia yang tentu saja ditolak olehnya.
"Eh, nggak usah beneran nggak apa-apa kok!"
Ardi menatap Thalia, "Yakin?!"
Thalia menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Ok, bentar lagi kita berangkat tinggal dikit kok yang harus aku urus." kata Ardi. Ia kembali ke meja kerjanya dan memeriksa beberapa file.
Thalia melirik ke arah jam dinding, waktu prakteknya sebentar lagi dan dia harus berangkat sekarang jika tidak ingin terlambat.
"Ehm, Ardi aku bisa terlambat ini. Apa masih lama?" tanya Thalia sedikit khawatir
"Mas … jangan lupain mas nya dong Thalia!" sahut Ardi tanpa melihat ke arahnya.
"Eeh, mas? Ah ya aku lupa bagian itu." jawab Thalia lirih yang terdengar oleh Ardi membuat Ardi tersenyum.
Jam bahkan sudah lewat dari jam sebelas tapi Ardi belum juga beranjak dari mejanya. Thalia kesal pada Ardi, ia pun mendekatinya.
"Ini sudah jam sebelas, saya terlambat mas?!"
"Eh, terlambat apaan kamu hamil?" sahut Ardi santai.
__ADS_1
"Nggak lucu! Ini beneran terlambat, iiish bikin repot saya aja!" Thalia menjauhi meja Ardi dan menghubungi Winda.
"Win, maaf aku terlambat?! Tolong kasih tau pasien bentar lagi saya datang?"
"Dok, pasien nya juga belum datang?!"
"Eh, belum ya syukur deh!"
"Kan pak Ardi pasiennya dok, jadi ya dia datang sesukanya!" jawab Winda dari seberang membuat Thalia seketika beralih menatap Ardi.
"Apa katamu Win, coba ulangi sekali lagi?" pinta Thalia
"Pasien pertama dokter, itu Pak Ardi setelah itu di jam 1 ada satu pasien lagi. Hari ini cuma ada dua konseling dok?!" Winda merinci jumlah pasien pada Thalia membuat Thalia kembali memegang keningnya sendiri.
"Oh, oke kalo gitu. Pak Ardi yang pertama dan saya sudah disini sama dia. Makasih ya Win infonya?!"
"Pak Ardi sudah sama dokter? Serius? Wah, sepertinya Pak Ardi … "
Thalia menatap Ardi yang sedang membereskan berkas di mejanya. Merasa diperhatikan Ardi menghentikan pekerjaannya.
"Ada yang salah?"
"You!"
"Kamu sengaja ya ngelakuin ini?"
"Me? No, cuma aku tahu jadwal konseling sama dokter cantik?!"
"Kenapa nggak bilang dari tadi?"
__ADS_1
"Kalo bilang kamu nggak mau aku ajak kemari kan?"
Thalia berdecak kesal pada Ardi dan kembali duduk di sofa. Ia merasa kesal karena Ardi sudah mempermainkan dirinya. Ardi tertawa melihat sikap Thalia, ia pun mendekatinya untuk meminta maaf.
"I'm sorry?!"
Thalia menatap Ardi lalu beralih pada layar ponselnya.
"Marah?" tanyanya lagi.
"Sedikit, kamu harusnya bilang ke aku daritadi." jawab Thalia tanpa menatap Ardi, ia asik memainkan ponselnya sendiri.
"I know, and I'm sorry for that?!"
(aku tahu, dan aku minta maaf untuk itu?!)
"Ardi ada yang harus saya jaga. Saya dilarang menjalin hubungan dengan pasien, jadi …"
"Hei, kita bahkan belum menjalin hubungan apapun? Kenapa kamu bingung, atau … kamu mau kita coba lanjut?!" goda Ardi
"No, bukan itu maksudku. I mean, ada batasan yang harus kamu tahu. Dan aku harap kamu bisa memahaminya!" pinta Thalia pada Ardi.
(maksudku,)
Ardi menatap Thalia, ia sudah bisa menebak Thalia akan menolaknya. Tapi bukan Ardi jika dia mundur, permintaan Thalia justru membuatnya semakin penasaran untuk terus berusaha mendapatkan hatinya.
"Ok, fine. Kalau itu mau kamu. Tapi …"
Ardi mendekatkan dirinya pada Thalia, kemudian berbisik. "Jangan salahkan aku jika akhirnya aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku!"
__ADS_1
Thalia menatap wajah Ardi yang begitu dekat dengannya, ia bisa melihat senyuman manis Ardi yang begitu menggoda. Thalia menelan ludahnya, ia bingung dengan sikap Ardi.
Eh, dia nantangin apa ngancam aku nih?!