Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 70


__ADS_3

...Kala rindu menggugah...


...Pena mengukir sejuta syair indah...


...Menuangkan segala kisah...


...Tentang asmara yang tak pernah mudah...


...Sebenarnya …,...


...Aku terjebak dalam ilusi kesendirian...


...Seperti malam menyimpan kegelapan...


...Seperti siang berjalan tanpa bayangan...


...Dan rindu itu …,...


...Perlahan mengotori waktu...


El Z.


...****************...


Thalia tidur dengan gelisah, tubuhnya seolah menolak untuk beristirahat. Kepalanya dipenuhi oleh kata-kata Erick untuk jangan memikirkan dirinya. Berkali kali ia mengubah posisi bantal di kepala, begitu juga dengan posisi tidurnya.


"Aaargh … lagi-lagi nggak bisa tidur! Saya berasa jadi ABG labil yang baru ngerasain cinta monyet!"


Thalia kesal, ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Rasa tidak nyaman yang menyerangnya membuatnya terus memikirkan Erick. Thalia keluar kamar dan menuju dapur untuk mengambil susu dingin. Ia butuh sesuatu yang membuatnya tenang.


"Cckk, jangan memikirkan dia gimana?! Bayangan kamu itu dah kek hantu aja buat saya, tau-tau muncul gitu aja!" gerutu Thalia sendiri sambil meminum susu dingin dari gelasnya.


Suara jarum jam yang berdetak kencang di ruangan keluarga membuat Thalia merasa horor di rumahnya sendiri. Lampu temaram, suasana sepi, dan gemerisik daun yang tertiup angin di kebun belakang membuat bulunya meremang.


"Sepi banget, Sean juga belum pulang. Aku harus gimana ini, tidur nggak bisa tapi kalo bangun begini aku bisa ngerasain emosinya." Thalia bermonolog dengan melempar pandangan ke luar rumah.


Angin sedikit kencang malam itu membuat sebuah dahan yang terdekat dekat pintu kaca seolah sedang mengetuk pintu. Thalia mengambil nafas panjang dan hendak kembali menuju kamarnya ketika sebuah bisikan mulai terdengar di telinganya.


I love you …,


Bisikan itu begitu dekat, hingga terasa berada di belakang Thalia menyapu lembut tengkuknya membuat Thalia geli. Ia tersentak dan menoleh ke belakang.

__ADS_1


Siapa … apa itu tadi? 


Tidak ada siapapun di belakangnya, Thalia mengabaikan rasa itu. Ia kembali berjalan bisikan itu kembali terdengar.


Aku merindukanmu …,


Tubuh Thalia sedikit gemetar, telinganya mendengar jelas suara itu. Suhu tubuhnya seperti melonjak turun ia mulai kedinginan.


Thalia yang belum bisa menyesuaikan tubuhnya dengan kondisi aneh yang baru saja ia pahami pun kesal.


"Hei kalian! Kalo mau pacaran ya pacaran aja deh, jangan bawa-bawa saya bisa nggak?!" 


Rasa tidak nyaman kembali menyerang Thalia dan semakin sakit jika ia rasakan.


"Iiissh, halo … please kalian kalo saling rindu ya sana gih ketemuan, bukannya kalian bisa ketemu dalam sekejap mata?!" 


"Bisa gila ini saya lama-lama! Ngomong sendiri, marah-marah sendiri gegara kalian ni si makhluk gaib yang saling cinta. Kenapa juga bawa-bawa saya juga Erick dalam hubungan kalian. You know what? Kalian itu aneh, nggak logis, nyebelin tingkat dewa!" Thalia mengumpat sendiri semaunya.


Tanpa ia sadari seseorang memperhatikannya sambil tertawa. 


"Kamu benar-benar gila sekarang huh!" 


Suara itu membuat Thalia terkejut, ia segera berbalik."Sean! Kapan kamu pulang?!"


"Ha … ha … lucu sekali Sean."


"Apa Aku melewatkan banyak hal?"


"Yes, you are."


Sean berjalan mendekati Thalia, dan mengacak rambut saudaranya. "Tidurlah, kita bicara besok aja! Aku lelah."


"Ok, take a rest Sean. See you tomorrow."


(Ok, istirahatlah Sean. Sampai jumpa besok.)


Thalia juga lelah, jam menunjukkan pukul dua dini hari. Thalia kembali merebahkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya. Akhirnya ia bisa terlelap tidur.


*****


Keesokan harinya, Thalia sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Ia teringat novel perdana miliknya.

__ADS_1


"Harusnya sudah terbit sekarang ya, coba aku cek dulu." 


Thalia keluar kamar, matanya masih menatap lekat layar ponsel miliknya. Ia tersenyum puas, novel perdana dengan cover seorang wanita cantik yang berlatar rune sihir itu mulai mendapatkan pembaca.


"Lumayan deh biarpun sedikit."


Sean yang melihat Thalia terus menatap layar ponselnya dibuat keheranan.


"Apa ada yang lucu dari ponselmu?"


Thalia tidak merespon, ia terus memperhatikan ponselnya membuat Sean kesal. "Thalia!" 


Suara teriakan Sean membuat Thalia terkejut, "Gosh, Sean … kamu membuatku kaget!"


"Me? Thalia, dari tadi aku memanggilmu dan kamu nggak denger. What's wrong with you?!"


"Ah, I'm sorry … aku beneran nggak denger."


"So …" Sean meminta Thalia meneruskan cerita.


"Ehm, aku lagi ngecek novel perdana ku." jawab Thalia kalem.


"Novel? Kamu? Tunggu, kamu serius jadi penulis?!" tanya Sean heran


"Ya aku serius Sean. Lihat ini bahkan sudah terbit!" teriak Thalia kegirangan.


Sean menatap ponsel Thalia dan membaca sekilas novel yang ia tunjukkan. Sean beralih menatap Thalia tidak percaya,


"Siapa yang mengajarkanmu menulis Thalia?"


"Ehm, its secret." jawab Thalia.


"Really, secret huh? It's him right?" tanya Sean serius, Thalia bingung harus menjawab apa.


"Oh my God, I'm late … see you Sean i have to go now!" 


(Ya Tuhan, aku terlambat ... sampai jumpa Sean, aku harus pergi sekarang!)


Thalia berusaha mengelak, ia bergegas pergi meninggalkan Sean yang curiga padanya. "Thalia, aku belum selesai bicara!"


"Sorry Sean, bye!" seru Thalia.

__ADS_1


Nanti Sean, aku pasti cerita semuanya ke kamu tapi nggak sekarang. Sekarang, biarkan aku menikmati keadaan yang super aneh bin ajaib ini!


__ADS_2