
David terbangun saat alarm di ponselnya berbunyi. Ia menggeser sedikit tangannya agar tidak menganggu Thalia yang masih tertidur.
"Hampir aja kelewatan." gumamnya ketika mematikan alarm.
Ia tersenyum memandang Thalia yang masih tertidur dalam dekapannya. "Kamu cantik biarpun lagi tidur begini."
"Thalia, waktunya bangun putri tidur." bisik David seraya menghujani Thalia dengan ciuman.
Thalia menggeliat kegelian, "Dave, don't do that."
"Udah siang, emang kamu nggak laper? Kita butuh asupan gizi yang banyak untuk seminggu kedepan?" bisiknya menggoda Thalia.
Thalia tersenyum dan semakin membenamkan kepalanya di dada David. Ia malas untuk bangun dan menikmati aroma khas David yang menenangkan untuknya.
"Come on Beib, kita harus mandi makan dan ngejar pesawat."
"Pesawat? Siapa, kita? Mau kemana?" tanya Thalia beruntun.
"Wow, pelan-pelan sayang. Honeymoon Beib, aku cuma punya cuti sebentar so sementara kita honeymoon ke tempat terdekat dulu ok?"
Thalia menatap David dan tersenyum, "Terserah aja, saya ngikut kamu gimana. Tapi mau kemana kita?"
"Yogyakarta, aku udah pesen tempat disana. Kebetulan yang punya tempat itu temen aku, dan aku dah minta dia buat nyiapin tempatnya spesial buat kita."
"Hhm, Yogyakarta … pilihan bagus, udah lama aku pengen kesana. Jam berapa flight nya?"
"Kita dapet flight 17.35 sekitar lima jam lagi."
"Ok." Thalia segera beranjak dari tempat tidur tapi dicegah David, "Mau kemana?"
"Mandi, emang kemana lagi?" Thalia bingung, sementara David tersenyum nakal.
"Mandi bareng ya?!"
"No, yang ada nggak bakal jadi mandi dan kita telat nanti." Thalia menolak dengan halus dengan membalas senyuman David.
"Eh, mandi bareng itu bagus lho. Menjaga keharmonisan."
Thalia tertawa, David mulai menggodanya dan menariknya lagi dalam ciuman panas yang menggoda. Thalia tiba-tiba teringat Erick, membuatnya menyudahi ciuman mereka.
__ADS_1
Damn … lagi dan lagi selalu ingat dia!
"Kenapa?" David melihat perubahan wajah Thalia.
Thalia hanya tersenyum, "Nothing. Aku mandi duluan yaa?!"
David hanya mengangguk dengan sedikit kecewa. "Kenapa, apa ada yang salah? Apa mungkin … ah, sudahlah mungkin dia capek."
Dibawah kucuran air, Thalia memejamkan matanya bayangan Erick masih terus tampak. Setiap kata yang diucapkan dan senyuman Erick masih terus memenuhi pikirannya.
"Aku nggak boleh begini, ini salah … tapi gimana caranya biar nggak mikirin dia? Mereka datang tanpa permisi, aku sendiri nggak bisa cegah. Itu muncul begitu saja … damn, what should I do!"
Thalia membiarkan dirinya kedinginan, membunuh rasa dan membekukan kenangan Erick ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ikatan itu bahkan masih terasa kuat, menghilang pun tidak. Meski mereka telah mengurangi intensitas percakapan.
"Aku pasti bisa, pelan-pelan dan harus bisa."
David mengkhawatirkan Thalia karena begitu lama dalam kamar mandi, ia memutuskan memeriksa keadaan Thalia.
"Are you ok?"
Thalia tidak menjawab membuat David khawatir dan akhirnya membuka pintu yang tidak terkunci. David terkejut mendapati Thalia yang terdiam di bawah kucuran shower. Ia memeluk Thalia dari belakang, dan membisikkan sesuatu yang membuat Thalia terkejut.
"Dave … aku …"
" Nggak usah dijawab, aku juga nggak mau dengar penjelasan kamu. Sekarang cuma ada aku dan kamu, itu dah cukup."
Thalia berbalik dan menatap David, ia merasa bersalah pada lelaki yang telah mencintainya dan berjuang untuk dirinya.
Maaf, aku memang belum bisa mencintaimu sepenuhnya tapi … aku pasti akan berusaha melupakannya …, janji Thalia dalam hati.
"Do not say anything, I love you and I will always love you forever Thalia."
David tidak memberikan kesempatan Thalia untuk berpikir. Ia mencium bibir Thalia yang terasa semakin manis di bawah sensasi kucuran air. Membawanya kembali dalam ciuman panas yang memabukkan.
Di bawah kucuran air yang mengalir mereka kembali saling berbagi kasih, membangkitkan kembali gairah yang sempat turun karena ingatan tabu yang tidak seharusnya terjadi.
Melepaskan hormon menyenangkan yang mengantarkan mereka pada puncak kenikmatan yang seakan tidak pernah lelah dicapai.
...----------------...
__ADS_1
Pesawat yang ditumpangi Thalia dan David berhasil landing dengan sukses. Kedatangan mereka di kota gudeg itu disambut cuaca yang kurang bersahabat. Hujan turun lebat disertai petir yang sesekali menggelegar memekakkan telinga.
David menghubungi temannya, mengabarkan kedatangan mereka. Thalia merapatkan jaket jeans yang ia kenakan. Udara malam di Yogyakarta agak sedikit menggigit saat menyentuh kulit Thalia.
"Dingin?" David mendekati Thalia setelah menghubungi temannya.
"Iya, temen kamu mau jemput apa kita kesana sendiri?"
"Katanya sih anaknya sudah dimintai tolong buat jemput kita. Tapi kemana ya?"
"Ditunggu aja deh, nanti juga ketemu orangnya. Kamu udah pernah ketemu sama anaknya belum?"
"Belum, tapi dia suka cerita tentang anak pertamanya itu. Kasian juga sih dia." David menjawab dengan membuka kembali ponselnya
"Emang kenapa kok kasian?"
David menghela nafas panjang, lalu menjawab. "Anaknya agak … gimana ya, nakal mungkin?!"
"Nakal? Mana ada anak nakal, yang ada orang tuanya kurang membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan anak."
"Ya, ya … itu menurutmu, tapi kalau menurutku dia cuma cari perhatian aja. Broken home, you know kan?!"
"Oh, I see."
Thalia hendak berpindah tempat saat seorang pemuda tampan tampak tergesa gesa dan menabrak dirinya dengan keras.
"Eeh, maaf mbak … nggak sengaja!"
Pemuda itu kembali bergegas pergi tanpa menolong Thalia yang hampir saja terjatuh. David meradang dan hendak memanggil pemuda itu jika saja Thalia tidak mencegahnya.
"Jangan, biarin aja dia! Mungkin dia lagi buru-buru sudah terlambat. Lagian ini kota orang nggak baik cari masalah."
"Ccck, kamu ini! Anak muda jaman sekarang memang nggak punya sopan santun, seenaknya aja!"
"Beb, ini era modern lho…ya gitu itulah anak sekarang, nggak usah marah?!" Thalia menenangkan David yang emosi.
Mata Thalia tertuju pada benda yang terjatuh tak jauh dari kopernya. Ia memungut dan membukanya, "Ini dompet anak tadi kayaknya deh?! Iya lho ini fotonya, namanya ... Elang, keren juga namanya."
David mengambil dompet yang ada di tangan Thalia, "Elang? Kayak pernah dengar dimana ya?!"
__ADS_1