
Thalia terkejut dengan Kehadiran Amy yang tiba-tiba ada di mobilnya. Dengan wajah manis khas Belandanya Amy tersenyum, ia bahkan melambaikan tangan pada Langit.
Hai …, sapa Amy pada Langit
"Hai juga, kamu yang tadi nyeremin itu ya? Kamu cantik, temenin Tante dokter pulang ya … sampai ketemu, daaaah?!" Langit setengah berlari dengan mengembangkan senyum pada Amy.
Thalia dibuat bingung, ia menatap Amy dan Langit bergantian. Apalagi Vina, wajahnya pucat pasi melihat tingkah Langit ia menatap Thalia meminta penjelasan.
"What the hell is that?!" (Apa apaan lagi itu?!)
"Don't ask Vin, you know something … "
(Jangan tanyakan itu Vi, kau tahu sesuatu …)
"Whaaat, Langit bilang in your car …"
Vina tidak sanggup menyelesaikan perkataannya tapi Thalia sudah memberi kode dengan menganggukkan kepalanya dan tersenyum miring.
"Gosh, Thalia … go, pergi … saya bisa gila kalau sampai lihat setan di mobil kamu. Gooo!" perintah Vina kesal dan pergi meninggalkan Thalia yang tertawa kecil.
Thalia pun masuk dan menghela nafas panjang, ia menatap Amy yang duduk di kursi belakang.
Apa …, tanya Amy tanpa merasa bersalah.
"Apa apaan ini? Kau muncul lagi tiba-tiba, bukannya tadi kita sudah deal?" Thalia merasa kesal.
Maaf …, sahut Amy.
"Cckk, aku nggak suka begini Amy. Kalo kamu mau aku bantuin kamu, turuti perintahku jika tidak, pergi jangan ikuti aku lagi?!" seru Thalia seraya menyalakan mesin mobil.
Amy terlihat menunduk, ia menyesali kelakuannya. Thalia melihat raut wajah Amy dari pantulan cermin, ia pun melunak.
"Pindah ke depan, mobil saya bukan taksi hantu!"
Hanya dalam sekejap mata Amy sudah berpindah di kursi sebelah Thalia. Dia masih menunduk, takut pada Thalia.
"Ok, aku maafin kamu! Jangan ulangi lagi, kalo nggak … "
Nee, ik zal gehoorzamen... beloofd!
__ADS_1
(No, aku akan menurut … janji)
"Iiish, kamu ngomong apa sih? English not Dutch?!" ( Inggris jangan Belanda)
Maaf, aku akan menurut padamu Thalia, janji?!
"Janji kelingking?!" Thalia mencoba tersenyum dan menjulurkan jari kelingking kiri pada Amy. Amy tersenyum lalu mengaitkan kelingking kecilnya yang dingin pada jari Thalia.
Belofte!
Hari belum terlalu sore, Thalia segera membersihkan dirinya dan menunaikan sholat ashar. Ponselnya bergetar, sebuah panggilan masuk. Its Sean.
"Thalia, sepertinya aku harus keluar kota untuk beberapa hari. Tadi aku udah ambil pakaian, dan ini juga sedang jalan. Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal sendirian?"
"Iissh, salam dulu kek … apa kek, main nyerocos aja kamu Sean?!"
"Sorry, aku buru-buru soalnya?"
"Apa ada masalah?" Thalia sedikit khawatir dengan nada bicara Sean.
"Nothing, cuma ada tawaran buka cabang di kota lain. Dan ada beberapa hal yang harus aku periksa. Kamu jaga diri baik-baik oke?!" pesan Sean pada Thalia.
(Jangan khawatir kan aku Sean, aku akan baik-baik saja.)
"Ingat pesan ku Thalia, jauhi dia!"
"Hhm, i'll try."
"Ok, aku pergi dulu … assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Thalia meletakkan ponselnya dan melepas mukena. Ia menghela nafas panjang. Thalia kesepian, meski Sean dan dirinya hanya bertemu saat malam tapi tanpa dirinya selama beberapa hari, ia bingung. Ini kali pertama Sean meninggalkan dirinya sendirian setelah kepulangan Thalia ke Indonesia.
Kau kesepian? …, tanya Amy
"Iish, kamu lagi sudah aku bilang jangan muncul tiba-tiba Amy?" keluh Thalia melipat mukena miliknya.
Aku bahkan belum muncul Thalia, apa aku salah?
__ADS_1
"Oke, fine maaf aku cuma sedikit terkejut aja?!" jawab Thalia.
Thalia duduk di tepi ranjang membuka ponselnya dan mengecek beberapa pesan. Tidak ada nama Erick, Thalia kecewa. Ia begitu merindukan Erick, tapi ia berusaha menahan dirinya.
Ada apa, kamu gelisah? ..., Amy sekarang duduk di sebelah Thalia.
"Nggak, cuma merasa bad mood."
Apa karena dia? tanya Amy lagi.
"Siapa?" Thalia menatap Amy
Tidak … lupakan!
"Kamu tahu dia?"
Amy menatap Thalia, membuat Thalia penasaran. Tapi kemudian Amy menggelengkan kepalanya.
"Kenapa, kau takut sesuatu?"
Hmm, kalian terikat sesuatu bukan? tanya Amy yang membuat hati nya berdesir.
"Sesuatu? Apa maksud kamu?"
Penjaga kalian saling mengenali satu sama lain. Sesuatu telah diwariskan pada kalian dari perjanjian leluhur.
"Penjagaku? Perjanjian? Aku nggak paham Amy maksudnya gimana?"
Kalian harus mencari jawabannya sendiri. Hanya kalian yang bisa menyelesaikannya berdua. Maaf, tapi aku tidak diperkenankan bercerita oleh mereka Thalia.
"Amy, setidaknya beritahu aku apa yang aku alami sekarang. Please?"
Amy menatap Thalia, ia menggeleng dan perlahan menghilang menyisakan suara untuk Thalia,
Maaf … tapi aku bicara terlalu banyak dan mereka ingin aku pergi …,
"Amy …. Amy tunggu! Iiissh, apa maksudnya ini? Kalian siapa sih kenapa bikin aku penasaran begini?!"
Rasa sakit kembali menyerang Thalia, ia menatap ponselnya, Erick.
__ADS_1
Hai, bulu mata kamu nggak jatuh?