
Thalia yang terhubung dengan Erick terus merasakan apa yang seharusnya tidak ia rasakan. Tubuh dan pikiran mereka semakin lama semakin terkoneksi dengan kuat. Unik tapi juga merepotkan.
Interaksi yang terjalin diantara keduanya yang semakin intens pasca kejadian penyerangan khodam Thalia pada Erick membuat Thalia semakin takut kehilangan pemuda yang bahkan tidak pernah ia temui.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Erick membaik. Thalia mulai terbiasa dengan keadaan uniknya bersama Erick mereka sepakat menganggapnya sebagai anugerah dari musibah. Lucu memang tapi keadaan yang memaksa mereka untuk memahami situasinya.
"Pagi … gimana hari ini, much better?" sapa Thalia di setiap paginya seperti biasa.
"Iya, enakan udah."
"Baguslah, sudah bisa bangun sendiri kan?"
"Ya belajarlah masa dibantu terus."
Thalia yang semula ragu akhirnya mengungkapkan rasa bersalahnya, "Maaf ya?!"
"Untuk apa nih?"
"Aku nggak tahu ini ada hubungannya apa nggak, tapi di hari kamu sakit aku kesel banget sama kamu, marah."
"Salah apa saya sama kamu?"
Thalia bingung menjawabnya, haruskah ia berterus-terang pada Erick?
__ADS_1
"Cerita kamu tentang dia, bikin aku sedih. Sekali lagi aku minta maaf ya."
"Lain kali kalo kamu marah itu hati-hati, apalagi kamu belum bisa kontrol mereka dengan baik. Bisa bahayain orang-orang disekitar kamu."
"Aku nggak tahu kalau mereka bisa nyakitin orang begitu. Maaf." Thalia menyesal.
Erick kembali menjelaskan kepada Thalia tentang khodam penjaganya yang nakal dan suka keluyuran tanpa pamit. Karena bisa berbahaya untuk Thalia sendiri, jika sampai energi yang saling bertolak belakang bersinggungan.
Erick memberikan pengertian pada Thalia tanpa menggurui ataupun menyalahkan. Thalia tersenyum, semakin lama berinteraksi dengan Erick semakin dia memahami sifatnya yang tidak pernah berbasa basi, kaku, meski terkadang candaan dan godaan juga diselipkan dalam perkataannya.
Pemikiran Erick yang lebih banyak memakai logikanya sering membuat Thalia merasa jika usia Erick justru jauh diatas Thalia. Terkadang Erick begitu dewasa dan memberikan nasihat pada Thalia yang bahkan tidak terpikirkan olehnya sedikitpun.
Berjalannya waktu membuatnya menyadari untuk tidak terus menyalahkan ikatan gaib itu. Tidak ada sesuatu di dunia ini terjadi jika tidak memiliki maksud dan tujuan. Keterikatan mereka telah menghubungkan tali persaudaraan yang telah terjadi pada generasi jauh sebelum mereka ada.
"Kita lama-lama udah kayak saudara kembar aja ya? Telepatinya nggak nguatin bener. Dikit aja mikir langsung deh nyampe. Saya yang punya kembaran jg nggak gini amat lho?!" Thalia membuka percakapan di suatu hari.
Thalia menanggapinya dengan emoticon bingung, "Sampai kapan?"
"Nggak tau, nanti juga ketemu jalan keluarnya sendiri."
"Iya sih, kita udah berusaha nggak saling memikirkan, tapi tetep aja datang sendiri. Kamu yakin sudah mengurai semua mantra?" Thalia kembali bertanya
"Iya udah, saya juga bingung."
__ADS_1
"Hhm, mungkin kita suruh belajar kali." terka thalia.
"Belajar apaan?"
"Belajar mencintaimu beb." canda Thalia.
Erick mengirimkan emoticon lucu seperti biasanya. Dan Thalia membalasnya dengan sebuah permintaan iseng, "May I kiss you?"
Erick yang menerima pesan dari Thalia tersenyum geli, dan membalas keisengan Thalia dengan menjawab, "Sure, come closer babe."
Thalia tertawa melihat jawaban Erick, "Just feel me, I'm yours sweetheart."
Dan untuk kesekian kalinya mereka kembali merasakan hasrat yang naik ke permukaan ajaibnya mereka bisa saling merasakan satu sama lain seolah ciuman itu betul-betul terjadi. Ciuman yang panjang dan memanaskan keduanya.
Fantasi liar mereka memunculkan hasrat yang tidak bisa terbendung jarak dan waktu. Nafas mereka memburu, hingga akhirnya Thalia mengulang pesan, "Stop, enough! Sakit."
Erick yang merasakan hal yang sama di tubuhnya pun berkata, "Ini hal tergila yang pernah terjadi sepanjang hidup saya."
"Iya, ini beneran lho. Udahan dulu deh, takut nggak kuat nahan. Pusing kepala saya." Thalia menyudahi obrolan mereka.
Erick memaki dirinya sendiri yang selalu mudah tersulut hasrat mudanya jika membayangkan Thalia, meski hanya ada dalam pikiran imajinasi tentang Thalia mampu membawanya panas seketika.
"Damn you Thalia, you make me desire!"
__ADS_1
Dan dilain sisi, Thalia kesulitan mengatur nafasnya. Lama menyendiri tidak melupakannya pada rasa itu. Desire.
"It's really crazy beb!"