Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 75


__ADS_3

...Rindu pada wajah yang tak pernah kulihat...


...Seperti bayangan pudar ...


...Pada wajah langit yang membiru...


...Rindu pada mata yang tak pernah kutatap...


...Seperti bintang redup yang tertutup awan...


...Rindu akan tangan yang tak pernah ku genggam...


...Seperti angin yang tak terwujud...


...Namun begitu nyata kurasa...


HS.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


Esok harinya seperti biasa Thalia kembali menyempatkan menulis di pagi hari meskipun hanya satu bab saja. Tiga bab khusus untuk Erick telah selesai ia tinggal menunggu review dari editor.


"Hai, apa aku ganggu?" Sean masuk setelah mengetuk pintu kamar Thalia.


"Nggak, kenapa?"


"Nggak mau sarapan nih, asyik bener nulisnya?" Sean yang penasaran mencoba mengintip tulisan Thalia.


"Bentar lagi, nanggung." jawab Thalia tanpa menoleh sedikitpun.


"Mau aku bawain sarapannya kesini?" Sean kembali menawarkan pada Thalia.


"Hhmm, nggak deh. Kita makan diluar aja."


Sean menunggu beberapa saat sambil memperhatikan tulisan Thalia.


"Waa, you make Harry Potter?"


"No, mirip aja. Base on that story, aku buat lebih romance." jawab Thalia.


"Good job sist, nggak nyangka kamu bisa nulis begitu. Apa itu seru?"


"Well, aku bisa nyalurin hobi dan bisa punya pembaca it's priceless Sean."


Thalia menutup notebook miliknya dan mengajak Sean untuk sarapan. Seperti biasa jus sehat kesukaan Thalia sudah tersedia di meja. Roti gandum dengan isian tuna dan keju juga sudah siap disantap. Sedikit berat tapi cukup untuk mengganjal perut di pagi hari.

__ADS_1


"Kamu praktek jam berapa?" tanya Sean 


"Seminggu ini off." Thalia menjawab sembari melihat koran pagi.


"Off? Nggak ada pasien?" Sean penasaran.


"Biasalah Tante Alena. Dia minta jadwalku dikosongkan biar tenang dulu."


"Masalah anak kecil yang bunuh diri itu?"


"Tepatnya dibunuh Sean." Thalia menatap kembarannya dengan sendu. Sean masih terdiam, ia menunggu Thalia kembali bicara.


"Dia ditumbalkan oleh ayahnya. Qiara tewas karena campur tangan sosok gaib." Thalia kemudian bercerita tentang apa yang dialaminya pada Sean. Seperti biasa Sean menjadi pendengar setia.


Sean menghela nafas panjang. Cerita Thalia memang sulit dimengerti oleh pikiran biasa tapi Sean tahu Thalia berkata jujur. 


"Pasti sulit buat ngelupain momen itu Thalia. Kamu orang terakhir yang diminta pertolongannya."


"Sangat, dan itu cukup menyiksa awalnya." jawab Thalia sedih.


Sean menatap Thalia, ia masih menanti Thalia bicara. Ia berhutang penjelasan pada Sean.


"Ada lagi yang mau kamu ceritain?" Selidik Sean 


"Yakin? Gimana sama penulis itu, sejauh apa perkembangan hubungan kalian?"


"Cckk, you like mom Sean! Kami berdua? Ehm, biasa aja dekat sebagai penulis mungkin lebih sedikit aja." Thalia berusaha membohongi Sean, but its not working.


Sean adalah saudara kembarnya, ia juga seperti Thalia bisa merasakan emosi Thalia yang bahagia saat bercerita tentang Erick.


"Tell me Thalia? Make me trust you'll be ok with him!" pinta Sean.


(Beritahu aku Thalia? Buat aku percaya kalo kamu akan baik-baik saja dengannya!)


Thalia membuang jauh pandangannya ke arah kebun belakang. Ia mencoba mengontrol dirinya sebelum bercerita.


"Dia baik, pintar, jago nulis, sensitif, peka sekali dan satu hal yang pasti … nyebelin!"


Jawaban Thalia membuat Sean tertawa kecil. Saudara kembarnya itu seperti layaknya ABG labil yang baru mengenal cinta. Sean memperhatikan ekspresi Thalia yang menurutnya sangat lucu saat menceritakan Erick.


"Kenapa ketawa?" tanya Thalia heran.


"You! Kayak baru kali ini aja jatuh cinta. So funny!"


Thalia menekuk wajahnya, ia kesal. Thalia wanita mapan dan mandiri berusia 35 tahun tapi disamakan dengan ABG labil kata Sean, what the hell.

__ADS_1


"Dia sedang sakit Sean."


"Sakit? Sakit apa"


Thalia menaikkan bahunya sedikit, "Entah, dia nggak mau cerita. Cuma dia berpamitan sama aku semalam."


"Sedih?" tanya Sean.


"Ya jelas dong aku sedih. Sore sebelum dia bilang sakit, aku juga ngerasain sakitnya Sean. Rasa itu sakit banget dan nyiksa aku."


"Lalu?"


"Aku tanya tapi dia bilang he's ok. Sampai tadi malam dia pamit." 


Sean melipat tangan di depan dadanya. Ia bingung dengan apa yang terjadi pada Thalia. Emosi yang Thalia rasakan dan rasa sakit yang sama baginya lebih mirip seperti intuisi anak kembar ketimbang ikatan gaib yang mengikat kedua anak manusia beda generasi ini.


"Thalia, pernah nggak kalo kamu berpikir yang kamu rasain hanya delusimu aja. Mungkin kamu salah menafsirkan rasa itu?!" 


"Delusi? Yah … bisa jadi Sean. Mungkin aku salah menafsirkan hal itu, mungkin juga aku cuma berkhayal dan mengharap dia cinta sama aku."


"Pernah nggak sih kamu berpikir untuk menghubungi dia, hear his voice?! Kamu punya kan nomor dia? Kenapa kalian nggak berkirim foto or something to know each other?" Pertanyaan Sean membuat Thalia terhenyak.


(mendengar suaranya ... atau sesuatu yang membuat kalian mengenal satu sama lain.)


Sampai detik ini Thalia tidak pernah berbagi apapun dengan Erick. Wajah dan suara pun tidak. Padahal jika dipikir itu begitu mudahnya karena mereka menyimpan nomor masing-masing.


"Entahlah Sean, kami sudah sepakat tentang satu hal. Our relationship is just in cyberspace." jawab Thalia lemas, satu kesalahan yang ia buat dalam memulai hubungan.


(Hubungan kami hanya sebatas dunia maya.)


Thalia dan Erick sebenarnya bukan tidak mau saling berbagi foto atau suara. Mereka hanya takut. Takut untuk terlibat lebih dalam. Takut untuk saling melukai. Dan takut jika suatu saat berpisah itu akan menggoreskan luka yang terlalu dalam bagi mereka berdua.


Batasan itu telah dibuat dengan sadar. Batasan untuk melindungi cinta mereka yang tabu. Dan Thalia, hanya bisa memendam rindunya yang mendalam. Rindu pada wajah yang tak pernah dilihatnya dan rindu pada suara yang tak pernah didengarnya.


...----------------...


...mohon maaf kalo banyak typo dimana mana🙏...


...author ya lagi miring butuh sandaran 😅...


...flu berat melanda plus demam,...🤧😷...


...keep save and healthy semuanya...


...love u all🥰...

__ADS_1


__ADS_2