Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 28


__ADS_3

Thalia tersipu, ia begitu bahagia mendapat balasan dari Kamboja Merah. Meski singkat dirinya bagaikan melayang terbang keatas awan. One word, bahagia.


Sean memperhatikan ekspresi wajah Thalia, ia sengaja memajukan wajahnya mendekati wajah Thalia membuat saudara kembar nya terkejut.


"Apa, kenapa kamu begitu Sean?" 


"Weird, kau tersipu lagi? Itu dari dia, kok bisa dia kirim pesan ke kamu?" tanya Sean penasaran.


"Ehm, itu ada di kolom komentar. Dia membalas komentarku." jawab Thalia dengan gugup karena Sean membuatnya tidak nyaman. Dia terlalu mengintimidasi dirinya.


"Apa, cuma lewat situ bisa membuatmu blushing? You're crazy, really crazy sist!"


Sean menggelengkan kepalanya dan beranjak meninggalkan Thalia. 


"Terserah padamu ajalah, ingat jangan malam-malam matamu juga butuh istirahat Thalia. Radiasi layar ponsel bisa merusak matamu!" Pesan Sean sebelum masuk ke dalam kamar.


"Oke, Mom!" jawab Thalia yang dengan sengaja memanggilnya Mom.


Cckk, cerewetnya bahkan melebihi Mom! 


Thalia meneruskan membaca, ia begitu bersemangat memberikan balasan kembali meski kali ini ia tidak yakin akan kembali mendapat balasan.


Thalia melanjutkan membaca Mantra Gaib. Entah berapa lama ia membaca, Thalia lupa waktu. Tulisan itu seolah menjadi candu baginya yang tidak bisa ia tinggalkan sedikit pun. Hingga akhirnya Thalia sampai di episode yang mengulas mantra gaib itu sendiri.


Untaian kalimat mantra tertulis disana, tubuh Thalia bereaksi kembali. Kali ini lebih menyakitkan. Thalia berusaha menahan sekuat tenaga, tapi itu terlalu menyakiti dirinya. Ia meletakkan ponselnya dan berhenti membaca. Rasa itu masih tetap ada.


Sesak, panas, dingin, seolah bersatu menyakiti dirinya. Thalia memutuskan untuk masuk ke kamar dan merebahkan kembali tubuhnya keatas ranjang. Ia berjuang melawan sakit itu sendiri. Bisikan itu kembali datang,


Jangan melawan, tidurlah …,


Entah bagaimana bisikan itu mempengaruhinya, bagaikan terkena hipnotis Thalia seketika terlelap. Melupakan rasa sakit yang menderanya dan melupakan Kamboja Merah, ia terbuai dalam mimpi yang sangat dalam.


...----------------...

__ADS_1


Thalia masuk dalam dimensi lain. Yang terlihat hanya kabut tipis sejauh matanya memandang. Semuanya terasa kosong dan hampa. Thalia hanya mengikuti kemana langkah kakinya berjalan.


 Sebuah meja muncul tidak jauh dari posisinya berada. Tiga buah buku tebal dengan cover serupa tergeletak di atasnya. Thalia mengenali warna dan corak buku itu mirip sekali dengan batik yang dipakai kedua pria dalam mimpinya.


Aku pernah lihat ini tapi dalam bentuk pakaian yang dipake sama dua pria itu … apa ini ada hubungannya?


Sebuah suara menggema, membuat Thalia terkejut.


Kami akan mempertemukan kalian …,


"Siapa itu? Apa ada orang?"


Jangan takut Thalia, kami penjagamu …,


"Penjaga? Penjaga siapa, apa maksudnya?" tanya Thalia lagi


Tunggu saja, waktunya akan tiba. Kami akan mempertemukan kalian dengan cara kami …,


"Iya, tapi siapa mempertemukan siapa? Jangan bikin pusing kepala saya!" Thalia mulai kesal pada suara yang mengganggunya.


"Apa?! Tiga buku gimana, iissh suara itu membuatku gila!"


Thalia kembali menatap ke arah meja, ketiga buku itu masih tergeletak di sana. 


"Ini buku apa kamus, tebel amat? Apa maksudnya tiga buku?" gumamnya sendiri


Thalia mencoba menyentuh salah satu buku, baru saja ia menyentuh halaman pertama semuanya menjadi gelap. Tubuhnya seperti tertarik cepat membuatnya terhenyak.


...----------------...


"Thalia, wake up! Sudah siang mau sampai jam berapa kamu tidur?" 


Thalia mendengar suara Sean, perlahan ia membuka matanya. Sinar matahari yang menembus jendela kamarnya membuat dirinya terkejut.

__ADS_1


"Sean, jam berapa ini?" 


"Jam 7 dan kamu melewatkan sholatmu, ingat pesan Dad?! Kalo dia tahu kamu lalai bisa marah besar dia!" jawab Sean


Ayah mereka dari kecil selalu mengingatkan pentingnya beribadah pada kedua anaknya. Beliau akan marah besar jika sampai mengetahui kedua putra putrinya lalai. 


Meski keduanya sempat merasakan tinggal di luar negeri yang memiliki kehidupan bebas sang ayah tidak pernah lelah untuk mengingatkan mereka berdua pentingnya ibadah.


"Kenapa kamu nggak bangunin aku tadi?!" tanya Thalia kesal.


"I did, kamu yang tidur kayak orang pingsan!" 


"Benarkah?" jawab Thalia bingung


"Jam berapa kamu tidur?" 


"Entah, aku langsung tidur begitu aja. Semalam …" Thalia tidak melanjutkan perkataannya, dia langsung terdiam


"Apa, kamu mimpi aneh lagi?" tanya Sean


"Nothing, forget that!" Thalia berlalu meninggalkan Sean untuk masuk kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Mereka duduk di meja makan bersama. Ini Sabtu dan Sean tetap harus mengecek restoran miliknya, sementara Thalia berencana hanya dirumah saja karena ini hari libur pertamanya setelah bekerja di rumah sakit.


Bel rumah berbunyi, tak lama kemudian salah satu asisten rumah tangga mereka mendekati Thalia.


" Neng, ada tamu?!" 


"Siapa bi Nah?"


"Nggak tau neng, ditanya cuma senyum aja. Katanya udah janjian sama neng Thalia." jawab Bi Inah.


Thalia dan Sean saling berpandangan,

__ADS_1


"Ardiansyah?"


__ADS_2