
Sesi konseling untuk dua pasien berjalan lancar. Thalia menyelesaikan semuanya dengan baik. Winda sudah kembali ke ruangannya dan Thalia menunggu David menjemputnya.
"Thalia …"
"Ya Amy, keluar deh?!"
"Lama kita nggak ngobrol, je bent zo druk met ze." (Kamu sibuk sekali dengan mereka.)
"In English Amy, berapa kali saya harus ngingetin kamu?"
"Sorry, selamat untuk pernikahanmu Thalia. Apa itu berhasil?"
"Untuk apanya nih?"
"Ikatan itu, apa menghilang?"
Thalia menghela nafas panjang, "No, kami masih terikat. Aku masih bisa merasakan dia, feel everything."
"Aku sudah menduganya, tidak semudah itu ikatannya akan hilang." sahut Amy.
"Apa akan selamanya begini Amy?"
Amy hanya tersenyum, "Ikatan adalah ikatan Thalia, usianya bahkan jauh diatasku apa menurutmu akan semudah itu menghilang? Tidak?!"
"Jadi aku harus bagaimana, saling merasakan lagi seperti kemarin?"
"Well, latihan … belajar memahami hubungan unik kalian dan taklukan. Itu ilmu yang berguna bagi kalian?!"
"What the hell … ilmu macam apa itu!" Thalia merasa pusing, bukan karena pagi yang buruk tapi karena ikatan itu belum juga bisa ditaklukan.
__ADS_1
"Thalia, janjimu menemukan jasadku?"
"Ah, ya maaf aku terlalu sibuk kemarin. Kamu benar-benar mau disempurnakan?"
Amy terdiam sejenak, "Entahlah, aku hanya tidak yakin dengan keinginanku?"
"Kenapa? Ada hal lain yang mengganggumu?"
"Sepertinya itu akan sulit untukmu Thalia, gimana kalo aku memilih untuk tetap menjadi temanmu saja. Menemani kamu menjaga Langit." Amy memberikan tawaran bagus untuk Thalia.
Jujur saja Thalia sudah membayangkan kerepotan dirinya untuk mencari lokasi jasad Amy. Mencari sebuah gedung yang selama berabad-abad lalu berdiri, itu tidak mungkin dilakukan dalam sehari.
"Ok, kamu bisa tetap bersamaku. Tapi ingat jangan ganggu Langit, dan juga muncul jangan dengan wajah jelekmu itu."
Amy tampak senang, ia pun mengangguk dan kembali berkata.
"Thanks Thalia, Ik hou van je als mijn eigen moeder."
"Kamu bilang apa Amy?"
"Nothing, I have to go. He's come." Amy menghilang bersamaan dengan dibukanya pintu ruangan.
"Hai sayang, kamu dah siap?" David datang dengan senyuman.
"Ya, sebentar aku matikan komputer dulu." jawab Thalia.
David menghampiri dan melihat sekilas pada layar komputer. "Sudah selesai menulisnya?"
"Hmm, sudah."
__ADS_1
"Apa novelmu udah tamat?"
"Tinggal beberapa bab lagi kok, kenapa emang?"
"Nothing just asking beb, and … that author?"
Thalia diam, ia enggan menjawab pertanyaan David. "Ok, yuk kita pergi."
David merengkuh Thalia dalam pelukannya. "Kamu nggak jawab pertanyaan aku tadi?"
Thalia menatap David intens, "Kami masih saling mendukung, hanya sebatas itu. Apa perlu itu kita bahas lagi?"
David terdiam sejenak memastikan kejujuran Thalia, "No, itu cukup … tapi ini nggak pernah cukup untukku."
David tidak bisa menahan dirinya lagi, ia mendekatkan tubuh Thalia kepadanya memberinya ciuman hangat di bibir merah Thalia yang sedari tadi sangat menggodanya.
Thalia membiarkan David menguasainya, membalas gigitan dan kecupan kecil yang sensual dan melepaskan sebagian hormon endorfin dalam dirinya.
"Stop it Dave, belum waktunya." Thalia menghentikan kenakalan David di ruang prakteknya.
"Sorry, kebawa suasana." David tersenyum lebar.
"Sabar, ok? Kita sudah terlambat." Thalia mengingatkan.
"Bersama kamu, aku bisa lupain waktu. Just for you." David kembali memberikan ciuman singkat.
"Udah, nanti keterusan." Thalia menarik tangan David keluar dari ruangan. Tubuhnya yang memanas karena kenakalan David harus didinginkan dengan pergi keluar.
Thalia masih merasakan rasa tidak nyaman yang menyerangnya, ikatan itu masih ada dan semakin parah menyerang jika ia dan David berduaan.
__ADS_1
Kalau begini terus gimana kami bisa lepas. Erick, aku benar-benar nggak mau tanggung jawab besok! Sebaiknya kamu siapin diri kamu!