
Thalia meninggalkan ruangan profesor Budi, ia berniat kembali ke ruangannya ketika pesan singkat dari Erick masuk.
"Sibuk?"
"No."
"Novel kamu dah terbit?"
"Udah pagi tadi." jawab Thalia dengan mengirimkan gambar novel perdana miliknya.
"Witch? Fantasi ya ok coba aku baca." jawab Erick.
Thalia tidak membalas pesan Erick, ia kembali menuju ruangannya dimana Winda sudah menunggunya dengan muka pucat pasi. Thalia terkejut melihatnya.
"Win? Kamu kenapa?"
"Dokter, lama bener ketemu Profesor Budi nya. Saya takut lho disini, tadi kayak ada suara anak kecil panggil-panggil saya dok." jawabnya sambil melihat ke kanan dan ke kiri, tangannya bahkan sedingin es.
"Perasaan kamu aja kali Win, jangan dibikin larut dalam pikiran nanti berubah jadi kenyataan lho."
"Dok, beneran deh saya nggak bohong tadi suara anak kecil itu nanyain dokter terus?!" Winda berkata dengan suara tertahan.
"Saya? Kok bisa, wah kamu ni berhalusinasi Win. Dah makan belum?" Thalia mencoba mengalihkan pembicaraan Winda yang benar-benar ketakutan.
Sebenarnya Thalia tahu apa yang dimaksud dengan Winda. Amy mencari dirinya, dia juga sudah hadir di sisi kiri Thalia, mengikutinya seperti ikan remora yang nggak bisa lepas dari ikan hiu.
Thalia kesal dengan Amy, ia melirikkan matanya ke arah Amy dan memberinya kode untuk diam di satu tempat.
"Amy … bisa nggak kau diam dan duduk atau berdiri di pojok ruangan aja. Saya risih diikuti kamu begini!" kata Thalia melalui pikirannya.
"Maaf, tapi aku merindukanmu Thalia." jawabnya
"Iish, kenapa sial banget sih saya! Dirindukan sama hantu kayak kamu, seandainya ada yang merindukan saya juga."
__ADS_1
Alarm dalam tubuhnya seolah merespon kemauan Thalia. Erick mengirimkan pesan padanya lagi.
"Baru baca, not bad tapi alur kamu terlalu cepat. Baru bab awal tau-tau sudah ada konflik."
"Maklum kali pertama saya menulis."
"Itu mantranya kenapa pake huruf begituan, bikin pusing yang baca. Lebih baik kamu ubah sama bahasa Latin biasa cukup dua kata aja."
"Kayak Harry Kloter dong?!"
"Ya nggak apalah, pake elemen seperti air, api atau gimanalah biar dapet fantasinya." saran Erick pada Thalia.
"Oh iya juga sih, nti deh aku buat lagi."
"Sibuk ya?"
"Lumayan."
"Ya udah nggak ganggu, nanti lagi aja. See you."
Thalia kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia hanya mempelajari beberapa file termasuk milik Langit.
"Oh ya anak itu belum kirim video ke saya, atau malah udah tapi belum aku cek ya … terlalu sibuk sama kasus Qiara jadi aku lupa Langit." gumam Thalia sendiri.
"Dok, ini mau dibaca semua?" tanya Winda yang masih menemani sembari membaca novel online.
"Nggak deh, ini kan bagian profesor Budi. Saya cuma mempelajari beberapa aja."
Winda kembali sibuk membaca novelnya, sesekali ia tertawa sendiri dan mengumpat seenaknya membuat Thalia terkejut. Sekali dua kali Thalia membiarkan nya hingga akhirnya Thalia kesal dan melemparkan filenya dengan kasar ke atas meja.
"Wiiin …"
"Eeh, ada apa dok bikin kaget aja?"
__ADS_1
"Baca apaan sih, mpe berisik banget gitu?!"
"Biasa dok, saya baca novel ranjang-ranjangan biar hot sama suami. Kebetulan yang nulis bikin ceritanya komedi gitu dok pake bawa layangan potek segala lho!" jawab Winda tanpa melihat pada Thalia.
"Apa itu layangan potek? Istilah baru ya?"
"Waaah dokter nda gaul niih itu sinetron yang kekinian sekarang dok, bagus lho ceritanya." sahut Winda seraya mendekati Thalia.
"Ohya, saya baru tau ada sinetron begitu. Bagus?" tanya Thalia.
"Banget dok, yang main ganteng artis film terkenal." jawab Winda berapi-api
"Haaaiish kamu ni giliran ganteng aja hafal!"
Mereka tertawa bersamaan. Jam sudah menunjukkan sore hari, ini hari terlama Thalia di rumah sakit. Winda telah pergi membawa tumpukan file keluar ruangannya. Thalia menikmatinya. Ini membantu dirinya mengalihkan perhatian dari emosi Erick.
Thalia kembali menatap ponselnya. Ia membuka pesan dari Erick dan terus menatap setiap baris, setiap kata yang dituliskan Erick untuknya. Thalia merasakan perubahan emosi dari tulisan itu. Ia mempelajari Erick.
Meski rasa itu kembali datang, Thalia mencoba mengalihkannya dan semakin ia abaikan rasa itu menyiksanya dan memaksa untuk terus mengingat satu nama Erick.
Kenapa kalian menyiksaku begini? Apa maksudnya? Kenapa kalian harus melibatkan kami berdua?
Bisikan itu kembali datang,
"Dia sakit … tolong dia Thalia!"
"Siapa yang sakit, aku nggak paham?!" Thalia merasakan rasa sakit, nyeri, panas dan dingin yang menyatu di perut nya seolah menjalar dari satu sisi ke sisi lain.
"Ya Tuhan, apa ini?!" keluhnya.
Thalia terjatuh dari kursinya, ia benar-benar merasakan sakit yang teramat sangat.
"Dia sakit Thalia!"
__ADS_1
Thalia mengerang dan bersandar di meja kerjanya. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Bibirnya gemetar menahan rasa yang tidak bisa ia jabarkan secara logika.
"Erick … ada apa denganmu?!"