Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 96


__ADS_3

Pertemuan Thalia dengan David sore itu membuat mereka terlibat obrolan panjang tentang kasus yang sedang dihadapi David. Hari ini setelah Thalia menyelesaikan beberapa pekerjaan ya dirumah sakit, David akan menjemputnya.


"Dok, hari ini kan dokter bisa aja nggak masuk? Rajin bener nih." tanya Winda penasaran.


"Ya dari pada saya dirumah Win? Ngapain juga, kebetulan saya janji sama Bu direktur kamu itu buat nyelesain beberapa dokumen penting." 


Thalia kemudian menjelaskan pada Winda bahwa ayahnya memberi Thalia amanat untuk menyelesaikan beberapa hal yang berhubungan dengan kedudukannya sebagai pemegang saham.


"Ooh, jadi ayahnya dokter juga salah satu pemegang saham ya? Pantesan aja dokter dijodohin ma pak Ardi, udah kek nikah paksa ala CEO gitu ya." Winda terkekeh.


"Hush, kamu ini saya juga kan belum setuju! Dan ini dunia nyata bukan novel Winda!"


Winda kembali tertawa kecil, Thalia kembali memeriksa dan menandatangani beberapa hal yang sekiranya diperlukan untuk melengkapi dokumen. Pintu ruangan diketuk seseorang. David datang.


"Hai, apa aku mengganggu?" tanyanya dengan senyum mengembang.


"Eh, jam berapa ini? Cepet banget datangnya?" Thalia melirik ke arah jam dinding, David datang lebih awal 30 menit dari janji mereka.


"Sori, ganggu ya?" David menarik kursi di depannya dan duduk disebelah Winda.


Winda terpesona dengan ketampanan David yang mirip sekali dengan aktor tampan adalah Korea Hyun Bin. Merasa diperhatikan David mengembangkan senyumnya pada Winda.


"Suster … "


"Winda! Nama saya Winda." Melihat Winda yang dengan gesit mengulurkan tangan membuat Thalia tertawa sementara David sedikit terkejut tapi kemudian ia menjabat tangan Winda.


"Saya David."


"Win, inget suami dirumah nggak kalo gini? Tangan kok lama bener lepasnya?" goda Thalia.


"Iiissh, dokter kenapa pake ngingetin saya sama suami dirumah. Kalo di tempat kerja saya single dok." sahut Winda tanpa melepaskan tatapannya ke arah David.

__ADS_1


Thalia tertawa, "Single? Great."


"Kapan lagi dok ketemu sama yang bening-bening begini?!" 


Tawa Thalia dan David pecah. Winda bertingkah konyol sekali tapi David tidak marah sama sekali. Sesekali matanya menatap Thalia yang terlihat semakin cantik di matanya.


"Suster Winda, bisa lepasin tangan saya nggak nih. Takut ketahuan suami suster bisa disate saya nanti." 


"Eeh, iya mas David kehilaf saya kalo liat yang model beginian." kilah Winda.


Thalia menggelengkan kepalanya dan segera menyelesaikan pekerjaannya karena David sudah menunggu.


"Win, tolong kasih ini ke Bu Direktur ya … sekalian bilang besok saya ke rumah, buat ketemu Langit."


"Siap dok. Mas David permisi, saya pergi dulu. Nitip Bu dokter cantik kesayangan saya ya mas, tapi hati-hati dia sedikit horor?!" bisik Winda sebelum pergi.


"Windaaaa …" Thalia tertawa melihat tingkah konyol Winda lagi begitu juga dengan David.


"Well, lumayanlah daripada nggak ada Suter." Thalia menjawab dengan tersenyum.


Mereka saling berpandangan sesaat, Thalia merasakan ada sesuatu yang berdesir di hatinya saat menatap David. Itu membuatnya canggung.


"Ehm, aku bawain kamu salinan kasus yang kuceritakan kemarin." David segera mengalihkan perhatiannya dari Thalia.


Thalia menerima map tertutup berwarna putih yang diberikan David. Perlahan ia membuka dan mempelajarinya. Beberapa foto juga disertakan David.


"Ini …" Thalia menatap David meminta jawaban dari selembar foto gadis cantik berambut lurus dengan mata indahnya.


"Namanya Shireen, usianya 26 tahun … dia korban pertama."


"Maksudmu ada korban lain?"

__ADS_1


"Hhmm, nggak cuma satu tapi beberapa. Kami menduganya ini pembunuhan berantai."


Thalia terkejut, baru kali ini ia mendengar ada pembunuh berantai. Ia sering mendengarnya di luar negeri tapi di Indonesia apalagi Jakarta Thalia baru mendengarnya.


"Saya baru tahu ada pembunuh berantai."


"Sebenarnya sudah banyak kasusnya nggak cuma di Jakarta dibeberapa tempat juga banyak terjadi begini. Hanya saja jarang ter blow up media." jawab David.


"Mungkin, dan ini my first case." ujar Thalia lirih.


David menunjukkan foto-foto lain korban selanjutnya yang berjumlah 5 orang. Semuanya memiliki kemiripan baik tinggi badan, wajah cantik, usia, dan juga pekerjaan.


"Mereka semua sama-sama pekerja kantoran yang pulang di atas jam 9 malam." David menjelaskan poin utamanya.


"Pelakunya terobsesi sama satu hal. Boleh aku lihat cara kematian mereka?"


David menatap Thalia, memastikan Thalia siap melihatnya. "Ini … foto mereka."


Thalia melihat foto kematian kelima wanita itu, ia menutup mulutnya. Penyiksaan yang dilakukan si pelaku sangat kejam. Kelimanya memiliki persamaan cara yaitu diikat disiksa sampai mati dan dirusak wajahnya.


"Ya Allah … this is a psychopath!"


"Sepertinya begitu. Kamu bisa bantu aku kan?!" David sangat berharap besar pada Thalia.


Thalia terdiam dan menatap foto para korban pembunuhan. Bayangan penyiksaan para wanita itu berkelebat di matanya. Jerit tangis dan suara minta tolong dari mereka tidak diindahkan si pelaku. 


Pelaku itu dengan membabi buta memukul, menendang bahkan menghujamkan pisau kecil di tubuh mereka tanpa ampun. Thalia gemetar.


Jeritan dan teriakan mereka seolah memanggilnya masuk ke dalam situasi. Thalia hadir di masa saat mereka meregang nyawa.


"Tolong …"

__ADS_1


__ADS_2