Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 56


__ADS_3

Thalia terkejut mendapati Amy datang. Apalagi Amy datang dengan wajah mengerikannya, tentu saja Langit ketakutan. Thalia segera mendekap Langit yang ketakutan melihat wajah Amy. 


"Tante dokter …" 


"Jangan takut sayang, dia teman Tante." kata Thalia menenangkan Langit.


Amy, kenapa kamu kesini? tanya Thalia


Saya cari kamu …,


Cari saya, kenapa? Thalia keheranan.


Saya butuh teman …,


Teman? Kamu nakutin anak ini, dah berapa kali saya bilang jangan muncul pake wajah begitu! 


Maaf …, sesal Amy.


Thalia berkomunikasi melalui telepatinya, ia membawa Langit masuk ke dalam dan mengalihkan perhatian Langit dengan memberinya tugas. Membuat lukisan.


"Langit tunggu disini, buatkan Tante lukisan yang bagus. Ok?!"


Langit mengangguk, ia menuruti perkataan Thalia tanpa menolak sesekali matanya melirik ke arah halaman belakang memastikan Amy tidak masuk. Thalia mengacak lembut rambut Langit dan berlalu meninggalkan Langit untuk menemui Amy.


Amy menunggu Thalia. Ia duduk di meja kecil tempat Langit biasa duduk. Wajahnya telah berubah normal seperti layaknya anak kecil biasa dengan wajah pucatnya.


"Kenapa kamu ngikutin aku kesini?"


Saya kesepian …,


"Amy, kita harus bicara masalah batasan ok?!"


Batasan apa …,

__ADS_1


"Saya nggak mau kamu tiba-tiba muncul seenaknya aja baik itu di rumah sakit atau dimanapun saya ada!"


Baik, tapi gimana kalo saya ingin main …,


"Sebelum ketemu saya kamu gimana, kenapa setelah ketemu saya kamu jadi kayak hantu yang ngikut terus kemana saya pergi?!"


Memang saya hantu Thalia …,


"Aaah iya saya sampai lupa kamu hantu, maksud saya kamu kayak ...ehm, lem dah yang nempel ke saya terus!" Thalia tidak bisa berkata kata lagi karena kesal dengan kedatangan Amy yang tiba-tiba.


Kamu janji mau sempurnakan kematian saya, itu sebabnya saya nggak mau jauh dari kamu Thalia …,


Aaah iya, saya janji ke dia. Pantesan dia kesini. Kasian juga sih liat Amy, mungkin sudah terlalu lama dia gentayangan di dunia manusia …, batin Thalia.


"Ok, aku mau bantuin kamu. Bisa kita bicara dirumah aja, kasian Langit kalo ketakutan gitu." pinta Thalia.


Ok, aku akan diam dan nggak ganggu …,


"Ingat, jangan muncul dihadapan saya pake wajah ngeri gitu dan satu lagi jangan muncul tiba-tiba bisa bikin saya jantungan! Saya nggak mau ikutan jadi hantu, deal?!"


Amy mengangguk dan ia pun menghilang begitu saja.


Thalia menemani Langit, dan melihat hasil lukisannya. Langit rupanya cukup berbakat, komposisi warna yang dibuat Langit benar-benar indah meski hanya coretan khas anak-anak, tapi lukisan Langit tergolong luar biasa. Dia berbakat, itu yang Thalia simpulkan. Satu poin untuk menyalurkan energi Langit yang luar biasa.


Sore menjelang, seharian bersama Langit membuat Thalia bisa menganalisa sejauh mana tingkat ADHD Langit. Setelah memberikan daftar makanan pada kedua pengasuh Langit dan juga memberitahukan tugas-tugas yang harus dikerjakan Langit setiap harinya, Thalia berpamitan.


Thalia baru saja keluar dari pintu depan saat Vina pulang dengan segala kehebohan khas dirinya.


"Thalia!" teriaknya seperti biasa 


"Hai Vin, aku pulang ya … udah selesai jadwalku. Oh ya aku ninggalin daftar tugas buat Langit, tolong kamu pantau dan pastikan pengasuhnya kirim video yang aku minta oke?!"


"Tugas? Tugas apa, kenapa kamu kasih Langit tugas?!" tanya Vina keheranan.

__ADS_1


"Bukan tugas sekolah Vin, hanya beberapa rutinitas kecil yang harus dia lakukan. Langit perlu hal-hal yang konsisten dan jelas setiap harinya. And you dilarang membentak ataupun kasih dia hukuman fisik itu bisa memperparah kondisi Langit!" pesan Thalia pada Vina.


"Ok, ada lagi?!"


"Makanan … mulai sekarang kasih Langit makanan seperti yang ada di daftar, kamu bisa bikin olahan dari bahan yang boleh dan tidak boleh dia makan."


"No gluten?!" tanya Vina


"I didn't say that Vin, cuma kurangi gula untuk dia. Kasih makanan yang memiliki gula alami seperti buah-buahan. No cemilan aneh, at least kurangi sedikit-sedikit." saran Thalia.


"Ok, aku coba semoga Langit mau nurutin apa kata mamanya." Vina merasa terbebani dengan saran Thalia.


"I know you can do it. You're wondermom! Aku pulang dulu ya?!" 


"Ok, thanks for today Thalia!"


"Don't forget for sent me the money?!" kata Thalia dengan nada bercanda.


Langit berlari dari dalam rumah menghampiri Thalia yang baru saja membuka pintu mobilnya.


"Tante dokter … ini buat Tante!" katanya dengan nafas tersengal.


"Wah ini bagus banget sayang, makasih ya?!" Thalia menerima lukisan Langit dengan senang hati, tak lupa ia menghadiahi Langit dengan ciuman kecil di kepalanya.


"Tante hati-hati dijalan ya, jangan lupa hadiah buat aku besok!"


"Ok, asal kamu ngerjain tugas yang Tante kasih selama satu Minggu."


"Deal! Tante … temen Tante cantik banget, Langit boleh nggak kenalan sama dia?!" Tanya Langit tiba-tiba ketika melihat ke dalam mobil Thalia.


"Eeh, temen? Temen yang mana …" Thalia heran dan langsung melongok  ke dalam mobilnya.


Amy? Kamu lagi? Ya Allah … dia sudah seperti anak kucing kecil yang ngglibet di kaki saya!

__ADS_1


__ADS_2