Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 107


__ADS_3

Natasya berdiri memperhatikan situasi rumah Sean dan Thalia. Hujan deras tidak menghalangi niatnya menerobos ke dalam rumah Sean. Tujuannya hanya satu, membunuh Sean.


"Sean … Sean … where are you hiding … Sean … Sean … I will find you … Sean … Sean … Come play with me … " 


Natasya bersenandung kecil, senyuman iblis mengembang di sudut bibirnya. Namun, langkahnya terhenti seketika ketika melihat dua orang anggota polisi keluar memeriksa halaman. Natasya seketika mengenali dan 


"S*** They're here... How can?!" umpat Natasya kesal, dia berbalik dan berpura-pura membetulkan tali sepatunya.


(S*** mereka disini ... bagaimana bisa?!)


"Aku sudah ingatkan dirimu, mereka akan menjaganya." suara Natasya berubah lembut dan lirih 


"Diam, tidak menantang jika tidak ada halangan. Kita tunggu waktunya tiba, kau milikku Sean?!" Pribadi Alexa muncul mendominasi.


"Jangan sakiti Sean ku!" Natasya asli kembali muncul.


"Sean mu? Dasar bodoh, dia tidak mencintaimu! Yang dia cintai hanya Thalia, kembarannya yang lugu dan terlihat lemah." 


"Ia hanya ingin melindungi Thalia."


"Dan membuangmu? Bodoh, jika ada kesempatan aku juga akan membunuh Thalia. Membuat goresan di wajah cantiknya itu pasti sangat menyenangkan!" Sosok Alexa muncul dan mendominasi lagi.


Natasya tertawa dan pergi meninggalkan kediaman Sean. Ia menunggu waktu yang tepat untuk bisa menyerang Sean dan juga Thalia.


Salah satu anggota kepolisian yang keluar dari dalam rumah memperhatikan Natasya dari kejauhan. "Ada orang mencurigakan disana." 


Mereka memperhatikan dengan seksama Natasya yang masih berjongkok dalam derasnya hujan. "Apa mungkin dia yang orang kita cari?" 


"Entah, mungkin saja hanya orang gila yang lewat. Lihat aja kalo dia waras kenapa berjongkok lama dalam hujan sederas ini." jawab yang lain.


"Benar juga katamu."


Melihat Natasya yang pergi begitu saja kedua orang yang ditugaskan menjaga Sean pun masuk kembali ke dalam rumah.


Sementara itu dirumah David, Thalia sedang menunggu David untuk mandi dan berganti pakaian ketika pesan dari Erick kembali masuk.


"Sibuk?"


"No." Thalia membalas.


"Dating?"


"Sama siapa? Nggak ada." Thalia tersenyum.


"Ini malam Minggu, kamu nggak kemana mana?" Erick penasaran.

__ADS_1


"Hujan." Thalia menjawab dengan sedikit ragu, perasaannya tiba-tiba saja berubah. Ia mengkhawatirkan Sean.


"Are you ok?" Erick yang juga merasakan perubahan emosi Thalia kembali menanyakan kondisinya.


"Yeah, I'm fine."


"No, you're not. Tell me something happened?"


Thalia menatap layar ponselnya, lalu berjalan keluar menikmati hembusan angin dan rintik air hujan yang sedikit menerpa tubuhnya.


Thalia kembali menatap layar ponsel dan menghela nafas panjang.


"No Erick, kamu nggak perlu tahu apa yang terjadi." ujarnya lirih.


"Siapa Erick?" David ternyata sudah berdiri di belakang Thalia.


Thalia terkejut, ia berbalik menatap David yang sudah rapi dan berganti pakaian. Aroma maskulin menembus Indra penciuman Thalia. Hatinya berdesir saat David merapikan rambutnya yang tertiup angin.


"Masuk, nanti kamu sakit. Diluar dingin."


David menarik tangan Thalia, dan menutup pintu rumahnya. Entah apa yang membuat Thalia tidak menolak sama sekali ajakan David. 


"Kopi?" David menawarkan minuman.


"Boleh."


"Nggak apa kan kita ngobrol disini dulu sebentar?" David duduk di sebelah Thalia.


Sebuah keanehan terjadi saat Thalia menyentuh tangan David untuk menerima gelas kopi darinya. 


Thalia melihat ia dan David dalam balutan pakaian pengantin ala solo basahan. David tampak gagah dengan dadanya yang terbuka bak seorang raja dan Thalia mengenakan kemben dengan untaian melati yang menjuntai panjang di sisi kanan. Dan mereka duduk bersanding di pelaminan.


Apa ini …. Aku dan David?


Thalia kembali pada mata normal nya. "Ada apa? Kok kaget gitu, ragu ya sama kopi buatan saya?" tanya David 


"Eh, nggak kok bukan itu."


"Lalu?"


"Nothing, forget that." jawab Thalia mengakhiri pertanyaan David.


Sebuah pesan dari Erick kembali datang.


"Thalia, we need to talk."

__ADS_1


"Tentang apa?" nalas Thalia.


"About us?"


"Kita?"


"Bukan tetangga, iya tentang kita. Aku mau ketemu kamu. Secepatnya."


Pesan Erick itu membuat Thalia terkejut, angin apa yang tiba-tiba saja membawa Erick untuk mau menemuinya. Thalia ragu untuk menjawab, tapi kemudian ia pun membalas pesan Erick.


"Ok, kapan kita ketemu?"


"Minggu depan? Apa kamu bisa luangin waktu sebentar buat aku?"


Jantung Thalia berdegup kencang, ia tidak menyangka akhirnya kesempatan itu datang. Bertemu dengan Erick langsung.


"Ok, aku bisa. Kabari aku kalau kamu mau berangkat."


Thalia mengakhiri pesannya karena David mulai mengajaknya bicara. Ia tidak ingin dianggap tidak sopan karena terus memainkan ponselnya.


"Erick pacar kamu? Or someone special?"


"Ehm, kami dekat." jawab Thalia singkat.


"Dia yang buat kamu nangis?"


Thalia menatap David, lalu membuang wajahnya jauh menghindari pertanyaan yang lain.


"Maaf kalau pertanyaanku bikin kamu nggak nyaman."


Thalia tersenyum getir, pertanyaan yang selalu sulit dijawab. Sean benar, Thalia harus berpijak pada dunia nyata bukan dunia penuh kepura-puraan. Hubungan yang ia jalani dengan Erick hanyalah sebuah ilusi rekaan para khodam penjaga mereka yang saling jatuh cinta.


Thalia tidak memahami konsep perjodohan yang dicetuskan leluhur pendahulunya. Mengenal mereka saja tidak. Thalia hanya tahu kemampuannya adalah gift, anugerah Tuhan untuknya.


David kembali menggulirkan obrolan ringan, ia benar-benar menjaga perasaan Thalia dan tidak menanyakan lagi tentang Erick. Ia hanya ingin mengenal Thalia lebih jauh.


Thalia merasa nyaman bersama David begitu juga sebaliknya. Hingga tak terasa dua jam berlalu, Sean mengirim Thalia pesan menanyakan keberadaan dirinya.


"Thalia, it's been almost two hours. Where are you? We are starving?!". (Thalia, ini hampir dua jam. Dimana kamu? Kami kelaparan?!"


"Ya ampun kita melupakan Sean dan temanmu?!" 


"Ah, iya … keasyikan ngobrol kita sampai lupa mereka, maaf aku terlalu … senang bisa berduaan denganmu." sahut David lirih.


"Kamu bilang apa tadi?" 

__ADS_1


"Eh, nggak kok."


Thalia tersenyum, ia sebenarnya mendengar perkataan David. Thalia pun senang bisa kembali menemukan seseorang yang bisa memahami dirinya. Berharap menemukan jodoh dan menikah lagi tentu saja tidak salah kan?


__ADS_2