Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 101


__ADS_3

Thalia dikejutkan oleh suara benturan keras dari luar rumahnya. Ia tertidur di ruang keluarga setelah membalas pesan terakhir Erick. Bi Inah dan dua orang asisten lainnya dengan raut wajah rumit antara takut, kaget, dan bingung mendekati Thalia.


"Ada apaan ya non?" tanya Bi Inah.


"Nggak tahu bi … eh, Sean?!" Thalia teringat Sean yang belum juga pulang. 


Ia bergegas keluar melihat apa yang terjadi diikuti ketiga pembantunya. Betapa terkejutnya Thalia ketika melihat mobil Sean menabrak salah satu pohon besar yang ada di halaman rumah.


"Astaghfirullah … Sean?!"


Thalia berlari mendekati mobil Sean. Kaca depan retak dengan kap mobil yang sukses melesak ke atas. Saking kerasnya benturan pintu mobil sampai terbuka, untung saja safety ballon bekerja dengan baik, jika tidak mungkin Sean akan mengalami cedera yang lebih serius.


"Sean … Sean!" Thalia mengguncangkan badan Sean berusaha menyadarkan saudara kembarnya itu.


Sean sama sekali tidak merespon. Thalia berteriak lebih keras berusaha menyadarkan Sean dengan menepuk pipinya, Sean masih tidak merespon. 


"Dia pingsan, bi tolong panggil dokter Fadil kemari bilang emergency!" perintahnya pada Bi Inah.


Thalia memeriksa denyut nadi Sean di lehernya, mendekatkan telinga di dadanya sejenak mendengarkan detak jantung sementara. Ia bergerak cepat memeriksa kaki Sean, Thalia takut kaki Sean terjepit mengingat kondisi mobil.


"Pak, tolong bantu keluarin dia!" Thalia meminta pak Ujang untuk membantunya mengangkat Sean.


Postur tubuh Sean yang tinggi besar cukup menyulitkan Thalia. Sean dibaringkan telentang di tanah, Thalia segera memeriksa tubuh Sean lagi dengan teliti. Aroma minuman beralkohol tercium dari tubuh Sean.


"Mabuk? Ada apa denganmu Sean?" Thalia khawatir.


"Gimana non, apa den Sean baik-baik saja?" Bi Inah yang datang setengah berlari bertanya dengan nafas tersengal.


"Semoga saja bi, dokter Fadil bisa datang?!"


"Iya non, katanya segera." 


Dokter Fadil sebenarnya masih kerabat Thalia, ia tinggal tak jauh dari kediaman orang tua Thalia. Meski tidak bekerja dalam satu rumah sakit yang sama, Thalia dan dokter Fadil kerap berkomunikasi untuk sekedar sharing ilmu kedokteran. Berbeda dengan Thalia, dokter Fadil memilih jalur menjadi internis.

__ADS_1


"Sean, sadarlah!" bisik Thalia gemetar.


Seketika Thalia takut, ia takut kehilangan Sean. Bayangan ditinggalkan Sean tiba-tiba saja meyiutkan nyalinya. Dokter Fadil datang dengan skuternya, jarak rumah mereka memang dekat. Ia datang bersama istrinya yang juga seorang dokter.


"Thalia …" dokter Fadil melihat ke arah mobil yang ringsek. Ia segera menghampiri Sean dan memeriksa kondisi vitalnya.


"Gimana mas? Sean baik-baik aja kan?" tanya Thalia khawatir.


"Sepertinya dia cuma pingsan aja." jawabnya sambil memeriksa respon pupil mata Sean.


"Mabuk ya?"


"Sepertinya begitu, nggak biasanya Sean begini." sahut Thalia dengan tatapan kosong.


"Kita pindahin dia ke dalam dulu. Sementara kemungkinan hanya pingsan, kalo dia sudah sadar kita periksa lanjutan."


Dengan dibantu dokter Fadil, Thalia memindahkan tubuh Sean ke kamarnya.


"Thalia, coba kamu dekati Sean. Ajak dia ngobrol, mas lihat akhir-akhir ini dia banyak ngelamun." saran dokter Fadil.


"Beberapa hari lalu mas sama mbak Angel makan di restorannya, kita ketemu dia. Mau nyapa tapi dia kayaknya lagi banyak pikiran gitu." Dokter Fadil menjelaskan pada Thalia tentang hal aneh yang ia rasakan tentang Sean.


Thalia mendengarkan dengan baik, dan ia merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri. Sean yang selalu menjaganya ternyata memendam banyak luka.


"Hmm, makasih masukannya mas. Coba nanti aku ajak dia ngobrol."


Sean bergerak lemah, ia perlahan mulai membuka matanya. Kepalanya terasa pusing, ia mencoba untuk bangun.


"Kepalaku … " Sean merintih kesakitan saat mencoba menggerakkan tubuhnya.


Dokter Fadil mendekat, ia memeriksa kondisi Sean. "Apa ada yang terasa sakit selain kepala?"


"Mas Fadil? Kenapa disini?" tanya Sean.

__ADS_1


"Apa kakimu sakit?" Dokter Fadil bertanya lagi ia tidak mengindahkan pertanyaan Sean.


"Uhm, yeah kepalaku sakit mungkin karena benturan atau … entahlah?!"


"Mabuk?!" tanya Thalia langsung.


Sean hanya melirik pada saudara kembarnya itu, ia tahu Thalia marah padanya.


"Aku kasih obat pereda nyeri, aku lihat semuanya baik-baik saja. Tapi kalo kamu curiga dan butuh pemeriksaan lanjutan datang aja ke rumah sakit." saran dokter Fadil.


"Ok, thanks mas. Maaf udah ngerepotin sepagi ini." jawab Sean sambil terus memegangi kepalanya.


Dokter Fadil tersenyum, dan menepuk punggung Sean. "Thalia, kami pulang dulu ya?! Hubungi aku segera kalo Sean mengeluh mual dan pusing hebat."


"Ok, makasih mas."


Thalia mengantar dokter Fadil dan istrinya sampai depan rumah. Sebelumnya ia meminta pada Bi Inah untuk membuatkan jus tomat untuk membantu meredakan mabuk.


Jus tomat dapat menambah vitamin dan mineral pada tubuh yang terkontaminasi oleh alkohol, di mana hidrat pada tomat, kandungan madu dan fruktosa dalam jus tomat juga dapat membantu menghilangkan sisa alkohol pada tubuh.


Thalia masuk ke kamar Sean dengan sebotol madu di tangannya. Ia mendekati Sean dan menyuapkan dua sendok makan madu pada Sean. Kali ini adiknya yang berbeda hitungan menit itu menuruti Thalia tanpa banyak bicara.


Thalia membantu Sean kembali berbaring. Sejenak ia menghela nafas panjang, "Ada apa sama kamu Sean? Seumur hidup aku baru kali ini kamu nyentuh minuman gitu? Apa ada yang mau kamu ceritain?"


Sean menatap Thalia sendu, ada kesedihan yang tersirat dari matanya. Thalia tahu sesuatu itu berkaitan dengan kasus David. Sean terdiam dan memilih untuk membalikkan badan menghindari tatapan Thalia.


"Tidurlah Sean … kita bicara besok setelah keadaanmu membaik."


Bi Inah masuk membawa segelas jus tomat, "Lho den Sean tidur?"


"Belum, taruh disini aja bi. Nanti juga dia minum kok. Dia butuh itu buat ngilangin mabuknya." Thalia meminta Ni Inah pergi meninggalkan mereka berdua.


"Sean, diminum jusnya. Aku keluar ya?!" Thalia tidak berharap Sean menjawabnya, ia segera keluar dari kamar, memberi waktu pada Sean untuk menenangkan dirinya.

__ADS_1


Sean, aku tahu ini berat untukmu tapi … kamu harus bicara sebelum semuanya terlambat!


 


__ADS_2