
Thalia melanjutkan perjalanan santai sendirinya di kebun teh. Ia berhenti sejenak menikmati segarnya udara sore di perkebunan. Dulu ia dan Rendy beberapa kali sempat menghabiskan waktu di daerah puncak.
Ingatan Thalia melayang pada saat awal pernikahannya bersama Rendy. Mereka selalu pergi ke puncak saat weekend tiba, sebelum badai datang melanda pernikahan mereka. Thalia menghela nafas panjang, ia kembali menutup rapat ingatannya. Thalia tidak ingin mengingat masa lalunya bersama Rendy.
Nyeri itu kembali datang menandakan pesan dari Erick datang, Thalia membuka ponselnya dan benar saja notifikasi muncul dengan nama penanya, Kamboja Merah.
Nothing, forget that
You're so funny … Thalia membalasnya
Boleh aku tanya sesuatu yang pribadi?
Sure, tanya aja … Thalia menjawab lagi.
Berapa usiamu? You're single or …
Thalia tersenyum melihat pertanyaan Erick, "Aku paling nggak suka ada pertanyaan seperti ini, I'm sorry i will not answering this!" gumamnya sendiri. (maaf aku nggak akan menjawab pertanyaan ini!)
Ia kembali melangkahkan kakinya menyusuri rerimbunan pohon teh. Rasa sakit kembali mendera Thalia tapi kali ini berbeda, Thalia kedatangan tamu tak diundang.
Bulu kuduknya berdiri, nyeri bagaikan tertusuk jarum dingin kembali menyapanya. Aroma bunga khas yang ia benci tercium sangat menyengat. Thalia menghentikan langkah kakinya saat ia melihat kelebatan aneh di depan sana.
__ADS_1
Jaraknya sekitar satu atau dua meter darinya. Thalia memundurkan langkah kakinya perlahan. Ia mengamati sekitar. Sepi, sunyi, tidak ada lagi pemetik teh yang terlihat. Sepertinya Thalia terlalu jauh berjalan jalan.
Mbak … disini …, sebuah suara wanita jelas sekali terdengar di telinga kirinya.
Thalia sontak mencari sumber suara yang tadi memanggilnya, "Mbak? Aneh aku belum pernah dipanggil mbak sebelumnya? Siapa yang memanggilku?"
Mbak, diatas sini …, suara itu kembali terdengar.
Kali ini Thalia benar-benar yakin suara itu bukan manusia. Thalia memberanikan dirinya melihat keatas, tepatnya pada pohon rimbun yang ada di sampingnya.
Benar saja sesosok wanita berpakaian putih lusuh tengah asik duduk di salah satu batang pohon yang cukup besar. Kakinya tidak terlihat hanya rambutnya tergerai panjang menutupi wajahnya yang Thalia yakin pasti mengerikan.
"S****, baru aja terbebas dari kelima anak itu dan sekarang kamu?! You must be joking! Apesnya aku jalan-jalan sendirian!"
Thalia tidak mengindahkan panggilan wanita berbaju putih itu, ia langsung berbalik dan bergegas pulang menyusuri jalan yang tadi ia lalui.
"Thalia! Kamu nggak apa-apa kan, aku khawatir kamu hilang disini?!" Sean rupanya mencari Thalia, ia khawatir setelah tidak melihat saudara kembarnya di sekitar villa.
"Aku nggak apa-apa Sean, aku bukan anak kecil yang bisa diculik Wewe gombel kan?" jawab Thalia mencoba bercanda.
"Kau pikir itu lucu Thalia?! Jangan bercanda, aku takut kamu diculik orang bukannya itu lebih menakutkan?!" tanya Sean balik
__ADS_1
"Yup, kamu benar orang jaman sekarang lebih mengerikan ketimbang setannya ndiri!"
Mereka saling berpandangan lalu tertawa bersama. Thalia dan Sean kembali pulang ke villa. Langit rupanya bosan ia merengek minta pulang. Akhirnya mereka memutuskan untuk segera turun dan kembali ke Jakarta.
"Apa Langit bakal baik-baik saja?" tanya Sean melihat Langit buru-buru masuk ke dalam mobil.
" Sepertinya begitu tapi, aku pastiin dulu deh apa dia baik-baik saja? Aku menangkap sesuatu yang lain di Langit." Thalia menjawab pertanyaan Sean sambil berjalan menuju mobil Langit.
"Langit, bisa buka jendela untuk Tante?" pinta Thalia sambil mengetuk kaca mobil
Langit tidak bergeming. Thalia kembali mengetuk kaca jendela mobil dan membujuk Langit untuk keluar.
"Langit bisa buka kacanya, tolong Tante mau bicara?!"
"Tante, aku disuruh pulang! Ayo Tante cepat, Langit takut!" sahut Langit sambil menutupi wajahnya dengan bantal kecil yang ia bawa dari rumah.
"Takut? Sama siapa sayang?" tanya Thalia keheranan.
Langit kemudian menunjuk pada satu arah dan Thalia mengikuti arah yang ditunjukkan Langit. Thalia terkejut bukan kepalang, itu sosok wanita tadi yang ia temui di kebun teh.
Wanita itu menatap Langit nyalang. Rambutnya yang kusut menutupi wajahnya sedikit dan hanya menyisakan sebelah mata yang menyala merah. Thalia geram, dan dengan tegas ia mengancam sosok itu.
__ADS_1
Ya Allah sampai kapan aku begini! gerutunya dalam hati.
Hei kamu, yang pakai baju tidur jelek begitu! Pergi deh nggak usah gangguin kita, pergi sekarang atau aku kasih kamu ke macan aku?!