
Ardi dengan nekatnya menerobos masuk ke dalam rumah setelah salah satu asisten rumah tangga membukakan pintu dan segera menuju kamar pribadi Thalia.
"Ardi …" Thalia terkejut dengan kehadiran Ardi yang tiba-tiba di depan kamarnya.
"Kamu nggak nyuruh aku masuk?" tanya Ardi
"Eh, apa tadi kamu bilang? Gila ya kamu mau masuk kamar pribadi orang?" Thalia dibuat kesal dengan tingkah Ardi yang seenaknya sendiri.
"Terus? Nggak baik lho tamu datang dianggurin gini?"
"Ya jangan dianggurin, dijerukin apa disalakin juga boleh!" Thalia mendengus kesal, ia berlalu meninggalkan Ardi.
"Nggak enak bener pilihannya Beib sepet asem semua?!" balas Ardi seraya mengekori Thalia menuju ruang keluarga.
"Ya daripada dijamuin kan pahit malah, mau gitu?"
"Eh, kamu jamu juga ada yang enak lho Beib?"
"Mana ada?!"
"Ada, kau jamu aku dengan cintamu?!" goda Ardi yang dengan sukses membuat Thalia terbelalak mendengarnya.
"Haaaaiiish, otakmu miring?!"
"Miring karena butuh sandaran hati Beib." jawab Ardi tak mau kalah debat.
"Carilah sandaran hati kalo gitu!"
"Sandaran hatiku ya … kamu?!" Ardi kembali mengerlingkan mata pada Thalia dengan sedikit senyuman nakal membuat Thalia gerah.
__ADS_1
Thalia melipat tangan di depan dada dan membalas senyuman Ardi dengan sinis.
"Denger ya, rayuan kamu nggak berlaku untuk aku. Buat wanita lain itu mungkin berhasil but not me, ok?!"
Ardi melengkungkan bibirnya, ia puas bisa menggoda Thalia dan juga memantapkan hatinya bahwa Thalia memang pilihannya.
"Kamu nggak nawarin saya minum nih, saya dah bawain kamu martabak lho?!" tanya Ardi.
Thalia tidak menjawab, ia masih kesal dengan kedatangan Ardi malam-malam. Tapi akhirnya Thalia mengalah dan membuatkan Ardi secangkir kopi hitam.
"Nah gitu dong ... kan gini enak Beib." Ardi meraih cangkir kopinya, ia menikmati aroma kopinya sejenak sebelum meminumnya.
"Besok lagi kalo bertamu yang kira-kira dong, tengah malam buta begini datang kalo digerebek warga gimana dong?!" seru Thalia.
"Ya enak kan langsung di nikahin kita!" jawab Ardi sekenanya.
Thalia membelalakkan matanya lagi, ia khawatir Ardi akan terkena panic attack mengingat fobia yang dialaminya. Thalia memperhatikan Ardi, ekspresi wajah dan gesture tubuhnya.
"Kenapa, kamu khawatir saya kambuh ya?" tanya Ardi yang memang mulai berkeringat dingin.
"Ya kan nggak lucu kamu pingsan disini malam-malam!" jawab Thalia sedikit cemas.
"Tenang I'm ok, udah minum obat sebelum kesini." Ardi menyesap kopinya, sejujurnya ia mulai gemetar.
"Pantesan miring otak kamu!" Thalia kesal karena mulai mengantuk.
"Ya daripada saya kambuh karena mau bicara serius sama kamu ya antisipasi lah … jaga-jaga takut saya pingsan trus kamu curi kesempatan?!" sahut Ardi tanpa peduli wajah Thalia memerah menahan amarah.
Uuuughh, harus aku apain ini orang! Ngapain saya curi kesempatan, masih normal kali!
__ADS_1
"Kalo dah habis kopinya pulang deh, nggak enak sama tetangga." pinta Thalia.
"Ini Jakarta orang - orang nggak akan ambil pusing lagian disini perumahan elit, yang penting kita nggak bikin huru hara para tetangga juga no problem." sahut Ardi.
Thalia membenarkan perkataan Ardi dalam hati, begitulah daerah tempatnya tinggal. Antar tetangga bahkan tidak saling mengenal lagi. Saling tegur sapa pun jarang mereka lakukan. Mereka hanya mengetahui siapa tetangga mereka justru dari asisten rumah tangga masing-masing.
"Terserah apa kata kamu, tapi cepat pulang saya capek butuh istirahat buat besok."
Ardi menatap Thalia dengan wajah serius, Thalia yang mulai merasa ada gelagat aneh dari Ardi langsung menjaga jarak.
Eh, kok dia natap gitu bikin saya jadi takut nih … pada kemana sih orang?!
"Thalia, boleh saya bicara serius?"
"Tentang apa?"
"Kenapa kamu terus menolak saya? Apa menurutmu aku nggak cukup baik buat dampingi kamu?" tanya Ardi masih dengan wajah serius.
"Saya nggak bilang nolak kamu kan? Tapi saya juga nggak bilang aku menerima kamu." jawab Thalia tenang.
"Jadi peluang untukku ada?"
Thalia dan Ardi saling bertatapan, "Cobalah rebut hatiku dari dia. Itu tantangan buat kamu, mas Ardi?!"
"Maksud kamu, Erick?"
"Hhmm, kamu terlambat dia sudah lebih dulu membuka pintu hati saya. Kalo kamu memang berniat mendekati saya, bersainglah dengannya." Thalia memberikan tantangan pada Ardi.
Ardi bukan orang yang mudah digertak, tantangan Thalia disambut Ardi baik. Ardi menyanggupi tantangan Thalia. Ia pun tersenyum dan berpamitan tanpa banyak bicara. Ardi berjalan keluar menuju mobilnya, ia berbalik menatap Thalia yang masih berdiri di depan pintu dan tersenyum.
__ADS_1
Aku pasti akan menang, lihat saja Thalia … aku akan merebutmu dari lelaki itu!