Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 37


__ADS_3

Thalia terperangah ia bingung harus berkata apa. Darimana Langit bisa mengetahui hal itu apa benar Langit termasuk anak indigo atau memang hanya ocehan anak kecil biasa. Pertanyaan itu terbesit dalam benak Thalia. 


"Siapa yang bikin Tante sakit sayang, kan Tante dokter bisa nyembuhin sendiri kalo sakit?" tanya Thalia penasaran.


"Dia yang bilang!" jawab Langit sambil menunjuk ke arah lain.


Thalia berbalik, dan menatap ke arah yang ditunjuk oleh Langit. Ia terkejut bukan kepalang sejak kapan ada  dua harimau putih dan seorang pria muda di belakangnya.


Ya Allah apa lagi ini … kapan aku bisa lepas dari hal kayak gini!


"Siapa yang bilang, coba kasih tahu Tante lagi?"


"Mereka, Tante lihat mereka kan?" jawab Langit polos.


Sean yang memperhatikan ekspresi terkejut Thalia segera menghampirinya.


"Ada masalah?" tanya Sean


"Hhmm, sedikit. Lupain kita jalan sebelum sore. Yuuk Langit Tante udah capek nih!" 


Thalia segera menggandeng tangan Langit dan mengabaikan keberadaan tiga sosok baru yang dilihatnya. Hatinya berdebar-debar membayangkan apalagi yang harus dihadapi.


Duh Gusti, apalagi kali ini … aku kudu gimana coba ngadepin dua kucing besar itu? Saya dokter manusia bukan dokter hewan!

__ADS_1


Suara Auman kedua harimau itu terdengar keras ditelinga Thalia membuatnya bergidik ngeri. Ia memejamkan matanya dan seketika membayangkan dua harimau yang siap menerkam dirinya.


"Tante jangan takut, mereka kan teman Tante dari kecil!" kata Langit dengan santainya


Aduh, anak kecil satu ini kenapa selalu bikin aku keki! Gimana nggak takut kalo mereka sampai lompat trus makan aku kan nggak lucu Langit! Umpat Thalia dalam hati.


Thalia hanya bisa tersenyum dan mengusap lembut kepala Langit. Ia fokus mengikuti kelima sosok gaib yang berada di depannya sebagai penunjuk jalan pulang. Langit semakin menggenggam tangan Thalia erat, ia mulai tegang dan stres. Thalia mengusap lembut tangan Langit. 


"Jangan khawatir, mereka harus pulang sayang!"


Mereka tiba di sebuah tempat Yang berada tak jauh dari villa Tante Alena. Sebuah batu besar dengan semak yang menaungi di dekatnya. Kelima sosok itu menunjukkan tempatnya pada Thalia.


Thalia mengeluarkan batu yang menjadi rumah mereka termasuk batuan yang telah berubah menjadi liontin. Pak Ujang membantu Thalia meletakkan kembali batuan itu ke tanah sesuai arahan salah satu dari kelima sosok itu.


Terimakasih dokter Thalia, terimakasih Langit …, 


"Kalian baik-baik ya disini, jangan kemana-mana! Nanti kalo Langit kangen Langit kesini nengokin kalian!" Ucapan Langit sontak membuat semua yang ada disana terkejut apalagi Ardi dan Pak Ujang.


"Den Langit, jangan gitu atuh! Masa mau kesini lagi sih?" ujar Pak Ujang


Langit tertawa, "Kan mereka temen Langit masa nggak boleh ditengokin. Kalo mereka sakit gimana pak Ujang?" jawabnya polos.


Pak Ujang hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung mau bilang apa lagi pada anak majikannya.

__ADS_1


"Udah kita pulang yuk dah sore, biarin mereka istirahat!" ajak Thalia


Langit mengangguk, lalu melambaikan tangannya pada kelima sosok gaib itu yang kini tengah duduk diatas batu besar sambil menikmati aroma bunga dan kemenyan seolah itu makanan yang sangat nikmat.


Thalia tersenyum dan ikut melambaikan tangan. Satu masalah gaib selesai tinggal masalah yang lainnya menunggu Thalia.


"Tante, boleh nggak Langit minta kucing Tante satu aja!"


Thalia menggelengkan kepalanya, "No, Langit udah janji kan sama Tante kemarin? Langit harus tepati janji!"


"Tapi Langit suka kucing itu Tante!"


"Langit harus nurut Tante dulu ya, kasian mama Vina nanti."


"Tapi kalau Langit sudah nurut boleh kan Langit minta hadiah?" tanya Langit


"Boleh, minta aja sama Mama Vina pasti dikasih kok." jawab Thalia.


"No Tante, Langit minta hadiahnya sama Tante Thalia aja!"


"Eh, kenapa ke Tante? Tante nggak punya uang sebanyak mama Vina?!"


"Langit cuma minta kucing Tante itu satu aja!"

__ADS_1


Ya Allah, ni anak boleh aku jitak nggak sih anak kamu Vin!


__ADS_2