
Menghadapi Langit butuh kesabaran ekstra bagi Thalia. Setiap ocehan dan tingkah lakunya benar-benar membuat Thalia kewalahan. Bagi Thalia lebih baik menghadapi satu orang dewasa ketimbang satu anak kecil.
"Langit sambil cerita kita bikin helikopternya ya, bisa kan?" pinta Thalia.
"Boleh tapi Tante dengerin Langit bicara, Tante juga harus nurutin apa kata Langit. Buat kebaikan Tante juga lho, ini bayaran Langit ke Tante karena dah mau bantu mereka pulang?!"
" … " Thalia speachless, ia tercengang
Anak sekecil Langit bisa memikirkan tentang bayaran, its amazing. Kamu memang spesial …,
"Oke, fine Tante terima bayaran kamu tapi kita bikin ini dulu ya. Tante mau lihat kamu beneran bisa apa nggak?"
"Tante jangan nyepelein Langit ya, aku bisa bikin tanpa buku itu!" jawab Langit tanpa menoleh sedikitpun pada Thalia.
Tangannya asyik merangkai setiap bagian kecil dari Lego menjadi satu bentuk yang diminta Thalia, helikopter. Tak butuh waktu lama, Langit berhasil membuatnya tanpa melihat panduan.
Thalia tersenyum, Langit memang luar biasa. Dengan bangganya Langit berlari kesana kemari memamerkan hasil rakitannya. Thalia tertawa melihat tingkah polos Langit. Setelah puas berlarian, Langit mendekati Thalia.
"Ini untuk Tante biar tante bisa pergi ke tempat om itu!" katanya sambil menyerahkan rakitan legonya pada Thalia.
__ADS_1
"Good job Langit, makasih ya! Tapi Tante kan nggak bisa bawa helikopter sayang bisanya naik pesawat aja deh." sahut Thalia.
Langit diam dan menatap tajam Thalia. Ia sepertinya kesal dengan jawaban Thalia.
"Tante itu bodoh apa gimana sih, pake itu kucing disebelah Tante! Tante kan bisa ke tempat om tanpa harus naik pesawat, Tante bisa kesana diantar kucing putih itu!"
Thalia kembali dikejutkan dengan ucapan Langit.
What the hell … kucing apa lagi? Ya Tuhan anak ini bikin aku darah tinggi. Tadi bilang pake pesawat sekarang kucing?
"Langit, Tante nggak paham deh. Kita udahan aja ya mainannya, Tante capek mau pulang boleh kan?" tanya Thalia.
"Oke fine, but please jangan bahas om itu lagi ya. Tante nggak suka!" pinta Thalia
Langit memperlihatkan barisan gigi rapinya pada Thalia lalu kembali menjawab, "Sebentar lagi Tante, tunggu aja waktunya udah dekat kok."
Entah bagaimana lagi Thalia harus menghadapi Langit. Thalia memilih diam dan membalas senyum Langit.
__ADS_1
Vina datang membawa tas kecil dari kertas. Ia segera menyerahkan tas itu pada Thalia.
"Baiklah, ini dia barang yang tadi kita bicarakan. Bawa dan urus semuanya, aku nggak mau tahu gimana caranya kamu!" perintah Vina pada Thalia seolah ia salah satu karyawannya.
"Yakin mau buang enam ratus juta kamu begitu aja nih?!" tanya Thalia serius.
"Yakinlah, kan kata kamu materi bisa dicari yang penting ini bisa bantu Langit kembali lagi! Semua bakal aku lakuin!" jawab Vina sambil memandang Langit yang tidak peduli dengan kehadiran mamanya.
Thalia menatap Langit dan kelima sosok di hadapannya. Mereka tersenyum, dan mengucapkan terimakasih. Sejurus kemudian kelima sosok itu menghilang perlahan seolah kembali ke dalam rumah mereka.
Thalia lega setidaknya satu masalah selesai. Sekarang hanya tinggal memikirkan bagaimana cara mengembalikan batu itu ke tempat asalnya. Langit melihat ke arah kantong kertas itu lalu menatap ke arah ibundanya, ia tersenyum dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Ingat janji kamu ke Tante ya, I've got this!"
(Saya sudah mendapatkannya!)
Langit mengangguk pada Thalia, ia kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Vina dan Thalia terkejut.
"Mereka minta makan buat syarat pulang!"
__ADS_1