Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 36


__ADS_3

Perjalanan Jakarta Bogor membutuhkan jarak tempuh sekitar 2 jam. Tapi kemacetan setelah keluar tol tidak bisa dihindari membuat perjalanan semakin lama dan membosankan. 


Villa keluarga milik Tante Alena berada di puncak yang menjadi destinasi wisata. Dan ini hari Minggu bisa dibayangkan kemacetan yang terjadi. Ardi dengan sabar mengemudikan kendaraan miliknya melewati kemacetan yang terjadi.


Mobil yang ditumpangi Langit berada di depan mobil Ardi. Sesekali Thalia melihat Langit yang melambaikan tangan dari kaca belakang mobil. Ia tampak senang sekali. 


"Apa Langit baik-baik saja nanti?" tanya Ardi pada Thalia yang tersenyum melihat lambaian tangan Langit.


"Aku harap begitu. Setidaknya mengurangi keaktifan dirinya." jawab Thalia datar.


"Aku nggak ngira lho dia bisa punya teman gaib semacam itu." kata Ardi lagi.


Thalia terdiam, ia menatap kantong kertas tempat dimana bebatuan itu disimpan. Terkadang kita tidak menyadari kalau hidup berdampingan dengan penghuni alam sebelah. 


Mereka para makhluk tak kasat mata memiliki tempatnya masing-masing jika manusia memiliki rumah sebagai tempat tinggal maka mereka bertempat tinggal di pelbagai benda yang mereka sebut dengan rumah.


"Thalia, apa Vina udah nyiapin semua syaratnya?" tanya Sean


"Kemarin bilangnya udah siap semua."


"Eh, syarat apa itu?" tanya Ardi.


"Pengantar mereka pulang, biar anteng nggak ikut lagi." jawab Thalia.


"Harusnya kayak jelangkung dong datang tak dijemput pulang tak diantar. Kenapa kemarin kamu nggak bilang ke mereka Beib?" Pertanyaan Ardi sontak mendapat tatapan tajam dari Sean dan membuat Thalia tertawa.


"Beib? Waah kemajuan kamu ya, sejak kapan dia jadi pacarmu Thalia. Did I miss something?" tanya Sean sambil terus menatap Ardi.

__ADS_1


(apa aku melewatkan sesuatu?)


"What, aku belajar mencintai Thalia apa itu salah?" tanya Ardi


"No, tapi kalian baru bertemu dua kali. And you say Beib?  I mind you calling her that!" Sean seperti mengibarkan bendera perang pada Ardi. Dia begitu melindungi Thalia.


(Kau panggil dia Beib? Aku keberatan kau memanggilnya begitu!)


"Ok, fine jadi aku memanggilnya siapa? Sayang, honey, sweetheart or … something?" Ardi seolah terpancing dengan sikap Sean membuat Sean semakin berang. Thalia yang menyadari kedua pria didepannya bersitegang berusaha mendinginkan suasana.


"Eeits, udah nggak usah diterusin. Sean, come on dia cuma bercanda jangan dianggap serius. And you Ardi please konsentrasi aja nyetirnya ok?"


Ardi dan Sean saling memandang dan tiba-tiba saja tertawa mendengar perkataan Thalia membuat Thalia keheranan.


"Apa, kenapa kalian ketawa apa ada yang lucu?"


"You!" jawab mereka berbarengan.


Mereka berdua kembali tertawa membuat Thalia semakin kebingungan. "Iiish, dasar kalian lelaki bikin pusing kepalaku aja!" gerutu Thalia.


Akhirnya mereka tiba di villa keluarga milik Tante Alena. Matahari sudah tepat berada diatas kepala, tapi suasana sejuk membuat terik matahari tidak terlalu menyengat kulit. 


Langit bergegas turun dari mobil dan mulai berlarian kesana kemari. Dimata orang biasa dia sedang berlari sendiri tapi di mata Thalia, Langit sedang berkejar kejaran dengan kelima sosok teman gaibnya. Mereka tampaknya senang sekali, ini hari terakhir mereka bersama.


Thalia berjalan mendekati salah satu pengasuh Langit, ia menanyakan syarat yang diminta kelima sosok itu.


"Mbak, Bu Vina taruh dimana pesanan saya?" 

__ADS_1


"Ada Bu dibawa sama pak Ujang. Itu dia Bu, orangnya?!" jawab pengasuh Langit seraya menunjuk pada lelaki paruh baya yang hampir seluruh rambutnya telah memutih.


Pak Ujang mendekati Thalia dan menyapanya dengan sopan. "Bu Vina menitipkan ini buat Bu dokter."


Thalia menerima bungkusan yang diberikan pak Ujang. Ia melihatnya sepintas aroma bunga dan kemenyan yang baru kali pertama dia lihat langsung membuatnya mual.


"Pak Ujang bantu saya ya, saya nggak ngerti ginian. Saya cuma perantara aja soalnya!" pinta Thalia.


"Siap Bu dokter, kita berangkat sekarang aja keburu sore." kata Pak Ujang


Thalia mengangguk, ia berkomunikasi dengan kelima sosok itu sejenak. Mereka menunjukkan lokasi asal rumah mereka. Langit pun segera menghampiri Thalia. Ada kesedihan yang terpancar di wajahnya.


"Langit sedih?" tanya Thalia.


Langit mengangguk sambil memeluk Thalia. Ia terus menatap kelima sosok gaib itu, kemudian membenamkan kepalanya dalam pelukan Thalia.


"Mereka harus pulang, Langit sayang mereka kan?"


Langit mengangguk, "Mereka capek mau tidur Tante, dirumah Langit mereka nggak bisa tidur."


"Oke, yuk kita antar mereka pulang!" ajak Thalia sambil menggandeng tangan Langit.


"Tante, boleh Langit minta sesuatu?"


"Boleh, apa itu sayang?"


Langit menatap ke arah Ardi dan Sean sejenak ia lalu meminta Thalia mendekat. Langit kemudian membisikkan sesuatu yang membuat Thalia terperangah.

__ADS_1


"Tante jangan mau sama om itu, nanti ada yang marah. Mereka bisa bikin badan Tante sakit. Langit nggak mau Tante sakit!"


" …. "


__ADS_2