Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 65


__ADS_3

Thalia bingung harus mengatakan apa pada pihak kepolisian. Menjelaskan sesuatu yang tidak mungkin bisa diterima akal sehat itu tidak mudah.


"Yang jelas itu bukan bagian dari trik sulap ataupun adegan dalam film horor pak." jawab Thalia kalem.


Jawaban Thalia jelas membuat Tante Alena dan pihak kepolisian tersenyum,


"Saya tahu, tapi gimana ceritanya bisa ada kejadian ini?" tanya salah satu anggota kepolisian yang bernama David.


Thalia kembali menatap Ardi dan Tante Alena, ia berharap mereka bisa membantunya.


"Ceritain aja semuanya, biar mereka tahu dan paham." saran Ardi.


Thalia menarik nafas panjang sebelum akhirnya bercerita.


"Bapak-bapak yakin mau dengar cerita saya? Ini sesuatu yang tidak bisa diterima nalar."


"Coba saja cerita, masalah percaya atau tidak biar kami yang tentukan." jawaban mereka membuat Thalia sedikit kesal. Ia malas berurusan dengan orang-orang seperti mereka yang selalu memberikan jawaban ambigu. 


Thalia pun mulai bercerita dari penyakit yang dialami Qiara hingga hal ganjil yang ia lihat. Tapi ia tidak menceritakan apa pun tentang ayah Qiara yang kemungkinan memiliki keterkaitan dengan meninggalnya Qiara.


"Begitulah ceritanya bapak-bapak, terserah mau percaya atau tidak."


"Ini memang sesuatu yang sulit diterima nalar. Jadi dokter Thalia bisa melihat hal-hal seperti itu? Menarik." sahut David.


"Dokter Thalia juga membantu cucu saya dari gangguan makhluk seperti itu pak. Dia memang dokter yang unik." Tante Alena menambahkan.


"Baiklah, sementara cukup. Silahkan kalau dokter kembali bekerja."


"Ok, saya permisi dulu." Thalia berpamitan keluar ruangan.


Ardi menemani Tante Alena yang masih membicarakan kasus Qiara. Thalia menutup pintu ruangan meeting, ia berdiri sejenak dan memejamkan matanya. Berusaha menguatkan dirinya setelah kejadian mengerikan yang baru saja ia alami.


Kamu kuat Thalia … kamu bisa!


Maafin Tante dokter Qiara …,


Thalia kembali ke ruangannya, ia terduduk lemas di kursi dan memandangi kedua tangannya tanpa berkedip.


Padahal tadi sedikit lagi … kenapa aku nggak bisa meraihnya?


Ia mengepalkan kedua tangannya dan menangis. Mata Qiara masih terekam jelas di benaknya. Anak tidak berdosa itu harus melepas nyawanya karena sebuah perjanjian bodoh.


Ponsel Thalia bergetar, Sean memanggil


Thalia, apa semua baik-baik saja?

__ADS_1


"Ya Sean, everything is ok." 


Kau menangis?


"Sedikit."


Apa kau yakin? Aku akan segera pulang.


"No, Sean I'm ok. Kamu selesaikan saja urusanmu disana."


Sean terdiam sejenak, akhirnya ia menjawab dengan berat hati. Sebagai saudara kembar Sean bisa merasakan kesedihan Thalia. Ia mengetahui berita kematian Qiara dari berita di televisi dan juga Ardi.


Baiklah, aku pergi dulu.


"Sean … hati-hati disana, ok?!"


Thalia menutup panggilan. Kepalanya terasa pusing sekali. Perutnya tiba-tiba mual, ia segera berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. 


Thalia …,


Jangan mendekat Amy, kau bisa memperburuk keadaanku … pinta Thalia


Maaf …,


Amy pergi meninggalkan Thalia. Ia sengaja mengusir Amy karena efek bersentuhan dengan makhluk sejenis Amy bisa membuat kondisinya semakin parah. Thalia menahan diri sedari tadi dan akhirnya badannya menyerah.


"Damn, Winda!"


"Eh, kenapa dok kayak habis lihat setan gitu?!" tanya Winda bingung.


"Kamu, yang bikin saya kaget!"


"Maaf dok, pintunya nggak tertutup jadi saya masuk aja. Dokter sakit? Masuk angin kah? Kok muntah2 gitu?" 


"Nggak kok, ya kamu bayangin aja liat darah segitu banyaknya dan kamu lihat …"


Thalia menghentikan perkataannya, ia hampir saja kelepasan bicara.


"Lihat apa dok?" Winda penasaran kenapa Thalia berhenti.


"Lihat kamu lah!"


"Dokter bisa aja nih, emang saya jurig!" Winda mengerucutkan bibirnya karena kesal pada Thalia.


Thalia tertawa, ia ingin segera pulang. Tubuhnya sangat lelah. Thalia segera mengemasi barangnya, ia berjalan beriringan dengan Winda.

__ADS_1


"Win, saya mau kesana dulu. Kamu duluan aja."


Ruang jenazah tampak ramai, disanalah jasad Qiara berada. Thalia melangkahkan kakinya untuk melewati ruangan itu. Ia berhenti tak jauh dari ruang jenazah. Beberapa orang dari media massa tampak mewawancarai pak Rahmat. Dan beberapa orang lain mengincar informasi dari anggota kepolisian.


Thalia melihat ibunda Qiara datang dan berteriak histeris. Ia belum bisa menerima kenyataan kalau putri kecilnya meninggal dunia. Seorang lelaki yang umurnya Thalia perkirakan sebaya dengan ibunda Qiara datang mendekati.


Salah satu kerabat tampak memeluk lelaki itu dan mengatakan sesuatu. Lelaki itu menangis tapi Thalia justru melihat sebaliknya, ia tidak menangis lelaki itu bahagia. Aneh.


Kelihatannya itu ayahnya Qiara … luar biasa, dia harusnya ikutan drakor pinter banget sandiwaranya!


Thalia terus memperhatikan lelaki itu dari kejauhan. Energi hitam tampak menyelimuti lelaki itu. Thalia semakin yakin jika itu adalah ayahnya. 


Pengecut, membunuh untuk menyakiti!


Lelaki itu tampaknya menyadari jika diperhatikan, ia memandang ke arah Thalia. Tiba-tiba saja ia berjalan mendekati Thalia. Mereka berhadapan, aura negatif yang keluar dari badan lelaki itu terasa menekan Thalia.


"Anda, dokter Thalia? Saya Lukman ayah Qiara" tanyanya sambil mengulurkan tangan.


"Thalia."


"Terimakasih, saya dengar anda berusaha menyelamatkan putri saya, meskipun … Qiara tetap harus pergi." 


Lukman terlihat menunjukkan raut wajah kesedihan tapi Thalia melihatnya berbeda. Ia berbohong, ada guratan senyum di sudut bibirnya.


"Kenapa anda melakukannya?" tanya Thalia dengan menatap tajam mata Lukman.


"Maaf, apa maksud dokter?"


"Anda bisa bisa bersandiwara di depan banyak orang, tapi tidak dihadapan saya."


Mata mereka beradu, Thalia bisa melihat sesuatu yang aneh ada di mata Lukman. Ayah Qiara berusaha menekan Thalia dengan ilmu hitam yang dimilikinya, tapi Thalia tidak bergeming. Ia tetap bertahan.


Lukman tersenyum sinis pada Thalia, ia tahu sedang berhadapan dengan orang yang tidak biasa.


"Lebih Anda melakukan tugas sebagaimana seharusnya, dan jangan campuri urusan keluarga kami!" 


Lukman beranjak dari tempatnya meninggalkan Qiara. Thalia mengatakan sesuatu yang membuatnya berhenti melangkah.


"Wanita jelek berbaju merah itu, kamu mengirimkannya untuk Qiara kan?"


Lukman berbalik dan menatap tajam Thalia. "Sebaiknya anda diam dan menjauh jika tidak ingin terluka."


Lukman kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Thalia. Ia kembali mendekati ibunda Qiara dan ikut berpura pura menangisi kepergian putrinya. Thalia tersenyum sinis padanya, dan pergi meninggalkan tempat itu.


Menjerat dirimu sendiri dengan hal seperti itu? Pilihan yang bodoh!

__ADS_1


 


__ADS_2