Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 34


__ADS_3

Thalia menatap layar ponselnya yang telah meredup dan mati. Tatapannya kosong, keinginannya bertemu dan menghubungi Erick begitu besar. Ia kembali jatuh cinta tanpa sebab. Bahkan rasa cinta yang ia rasakan melebihi saat ia pertama jatuh hati pada Rendy.


Aneh, ini benar-benar aneh! Aku bahkan nggak tahu rupanya, suaranya, bahkan ketemu aja nggak pernah kenapa jadi menggila begini! Ini ada yang salah, pasti salah! Mana ada orang nggak pernah ketemu bisa jatuh hati …, batin Thalia dalam lamunannya.


"Thalia, halo … are you ok?" tanya Sean yang tiba-tiba saja ada disebelah Thalia.


Thalia terkejut, ia menatap Sean tapi pikirannya masih tertuju pada Erick.


"Oh Sean, aku kira kamu …"


"Siapa, hantu?" tukas Sean menyelidik.


"Bukan, aku cuma kaget aja. Aku kira tadi kamu, dia?" jawab Thalia.


"Dia? Dia siapa tell me?!" pinta Sean yang semakin curiga dengan gelagat aneh yang ditunjukkan Thalia.


"Dah lupain, it just my delusion!"


(itu hanya khayalanku)


"Whaaat, delusion? You must be joking right. You are a psychologist!"


(apa, khayalan? kamu bercanda bukan. kamu seorang psikolog!)

__ADS_1


"Memangnya seorang psikolog nggak boleh berkhayal? Kamu lucu sekali Sean?!" Thalia kesal dan memukul Sean dengan bantal yang bisa diraihnya.


"Oke, stop! Gimana tadi sama Ardi, dia nggak macam-macam kan sama kamu?"


"Nggak, aman kok cuma ada sedikit insiden." jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.


"Insiden, apa maksudmu?" tanya Sean penasaran.


Thalia kemudian menceritakan yang terjadi. Bagaimana Ardi menahan dirinya dengan sangat keras melebihi kemampuannya untuk melawan fobianya sendiri. Thalia juga menceritakan kepanikannya saat Ardi terserang panik attack sebagai efek dari pertahanan tubuhnya dari fobia yang dideritanya.


"Jadi dia ketergantungan obat anti depresan? Kenapa aku jadi takut ngelepas kamu pergi hanya berdua sama Ardi?" Sean khawatir setelah mendengar cerita Thalia.


"Kayaknya nggak sih dia baru pake obat itu sekitar empat lima bulan belakangan ini. Mungkin serangannya cukup parah jadi dia pake obat itu." sahut Thalia.


"Jika pemakaian berlebih semua obat pasti bahaya Sean, anti depresan termasuk obat keras efeknya bisa nyebabin tremor, juga sindrom serotonin. Tapi effexor XR termasuk aman digunakan, jarang ada yang ngelaporin efek samping yang parah."


"Baguslah, aku khawatir aja kalo sampai ada apa-apa sama kamu. Udah makan?" tanya Sean


Thalia menggelengkan kepala. Sean mengajaknya makan di salah satu restoran milik temannya. Mereka menghabiskan malam Minggu yang panjang dengan bercanda dan berkumpul bersama teman-teman Sean. 


Dan itu sangat membantu Thalia melupakan sejenak pikirannya tentang Erick.


****

__ADS_1


Keesokan paginya Thalia dan Sean telah bersiap. Rencananya Vina, Langit dan juga Ardi akan menjemput mereka sekitar jam tujuh pagi.


"Kamu dah bawa bebatuan itu?" tanya Sean.


Thalia mengangguk, kelima sosok itu seolah tahu jika mereka akan kembali ke tempat asalnya. Mereka muncul dan kini berada disisi kanan dan kiri Thalia.


Kami pulang sekarang? tanya mereka


"Iya, semoga nggak ada halangan. Apa kalian senang?" tanya Thalia 


Kami senang Thalia, terimakasih atas bantuannya …, jawab kelima sosok itu


Jangan lupakan permintaan kami, bunga dan juga kemenyan …, kata mereka mengingatkan Thalia


Thalia tersenyum, kemudian berkata " kalian membuatku jadi dukun tercantik disini, tolong jangan minta lagi yang aneh-aneh ok?" 


Mereka berlima tertawa melihat ekspresi Thalia,


Itu sudah lebih dari cukup Thalia …,


Thalia lega dan bisa tersenyum lepas.


Good, setidaknya bebanku berkurang satu setelah ini selesai. Tinggal menemukan tempat Amy dikubur …, batin Thalia

__ADS_1


__ADS_2