
Thalia memang tidak mengharapkan ini terjadi pada Sean. Ia sama sekali tidak menduga Sean akan menjadi saksi mata dalam sebuah pembunuhan. Tapi itu bukan Natasya, Thalia yakin itu bukan dia.
"Yang aku lihat bukan Natasya, Sean." ujar Thalia lirih.
Sean mengendurkan pelukan Thalia,"Apa maksudnya Thalia?"
"Yang kau lihat hanya seseorang yang menyerupai Natasya." Thalia mengatakannya sekali lagi.
"Tidak, aku yakin yang aku lihat Natasya?! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Dia bahkan mengancam ku Thalia, dia tahu mobilku ada disana!" Suara Sean tampak tertekan.
"Mengancammu? Dengan apa?" tanya Thalia.
Sean menatap Thalia sejenak, ia lalu membuka laci mejanya dan mengulurkan selembar kertas dengan bercak darah menghiasi di beberapa sudut.
Thalia membaca dan memperhatikan tulisan dalam surat itu. Seseorang dalam tekanan besar dipaksa menulis, goresan dalam setiap hurufnya tampak ragu dan terputus. Seseorang ingin surat itu dibuat untuk Sean.
Thalia membacanya dengan teliti, itu berisi ancaman. Natasya tahu Sean melihatnya dan itu adalah peringatan pada Sean kalau ia akan mendatanginya.
Thalia terbelalak, ini serius. Meskipun ia meragukan jika yang menulis adalah Natasya tapi ini adalah ancaman serius dari pembunuh. Thalia bergegas mengambil ponselnya untuk menghubungi David.
"Hai, David bisakah kau datang kemari secepatnya. Aku butuh bantuan segera!"
David menyanggupi dan meminta Thalia menunggu sekitar satu jam lagi. Ia memang dalam perjalanan menuju rumah Thalia.
"Sean, mandi dulu deh biar segeran dikit. Aku tunggu kamu di ruang makan."
Thalia keluar dari kamar Sean dengan membawa kertas yang diduga surat ancaman dari Natasya. Ia berusaha melihatnya lebih jelas. Thalia membandingkan dengan tulisan Natasya yang pernah disimpannya saat Thalia membutuhkan bantuannya tempo hari.
"Tulisannya berbeda, tebakanku kayaknya bener deh ini orang yang berbeda. Tapi pertanyaannya kenapa dia pake Natasya untuk jadi bonekanya?!"
Thalia kembali memutar otak, ia mengingat lagi wajah pelaku yang ia lihat dalam masa lalu. Ia memejamkan matanya agar bisa mengingat nya dengan jelas.
"Wanita, kulit putih, ponco hitam … pisau keramik, dan … luka?"
Thalia membuka matanya, poin penting terlewatkan olehnya. "Wanita itu punya luka di wajahnya, sedikit tertutup rambutnya tapi itu jelas sekali terlihat! Sisi kiri! Aku yakin itu ada di sisi kirinya!"
"Apa yang ada di sisi kirinya?" Sean datang mendekat, wajahnya terlihat lebih segar dengan rambut basahnya.
"Sean, apa Natasya punya bekas luka di pipi kirinya. Luka jahitan sekitar empat atau lima centimeter?"
"Dia? Seingatku nggak punya, ada apa?"
Thalia terdiam sejenak, "Doppelganger?! Damn, kenapa aku bisa salah mengartikannya?!"
"Doppelganger? Apa itu?"
__ADS_1
"Kembaran gaib, konon dia tidak memiliki bayangan dan pantulan di cermin. Aku melihatnya dalam ingatan masa lalu korban, tapi aku salah mengartikan. Yang aku lihat hanyalah perwujudan doppelganger, mereka mengecohku Sean!"
"Aku tidak mengerti Thalia, apa maksudnya itu?" Sean semakin dibuat bingung oleh pernyataan Thalia.
"Natasya tidak memiliki kembaran kan? Sementara yang aku lihat adalah dirinya!"
Sean mengangguk, "Lalu?"
Thalia kembali menjelaskan, "Aku melihat duplikasi kenanganmu, and that is doppelganger dari Natasya. Pelakunya adalah orang terdekat Natasya dengan luka memanjang di pipi kirinya."
"..." Sean masih tidak mengerti maksud Thalia.
Seseorang masuk dengan tergesa-gesa ke dalam rumah, David datang. Sean terkejut melihatnya. "Thalia kenapa kamu panggil dia?!"
"Sean, ada yang harus aku tanyakan padamu. Penting!" Thalia menunjukkan raut wajah serius.
******
Sean, David, dan Thalia duduk bersama di ruang tengah. David membawa file kasus pembunuhan berantai yang sedang ditanganinya bersama Thalia. Semalam Thalia meminta David untuk membawa semuanya termasuk video rekaman saksi ke rumah. Thalia harus menunjukkannya pada Sean.
"Ada apa ini sebenarnya Thalia?" Sean mulai cemas, namun Thalia tidak menjawab.
"David, aku rasa kamu harus lihat ini!" Thalia memberikan secarik kertas surat ancaman milik Sean.
David menerimanya dan membacanya perlahan, ia terkejut lalu menatap Sean.
"Wah, aku sama sekali nggak nyangka semuanya akan mengerucut pada satu nama yang tak terduga Thalia?!" David menanggapi cerita Thalia dengan serius.
"Ini baru dugaan David, aku melihat pelakunya dalam retrokognisi. Tapi, aku tidak meyakini kebenarannya." Thalia mulai membuka penglihatannya pada David.
"Kamu nggak yakin dengan penglihatan mu, kenapa?" tanya David.
"Karena aku baru menyadari bahwa yang aku lihat adalah bagian dari memori Sean. Kami terkoneksi karena kembar, tanpa aku sadari memori Sean tentang Natasya masuk dalam retrokognisi."
"Sean bermasalah dengan Natasya dan memori kami terhubung. Yang aku lihat disana adalah doppelganger dari Natasya."
"Doppelganger? Apa itu? Thalia, haruskah aku percaya ini semua? Ini sama sekali nggak masuk akal buatku?!" kata David kebingungan.
Doppelganger bisa dibilang sebagai kembaran diri kita sendiri. Jika dikaitkan dengan hal gaib konon doppelganger tidak memiliki bayangan dan tidak memantul pada cermin dan air. Sebagian masyarakat percaya jika kita bisa melihat kembaran kita maka itu artinya kesialan dan penyakit bahkan kematian akan menghampiri.
"Dave, kamu yang meminta saya masuk ke masa lalu dan kamu bilang itu tidak masuk akal? Lalu gimana sama temuan pisau itu? Apa itu juga nggak masuk akal?" Thalia balik bertanya.
"Maaf tapi … ini terlalu rumit bagiku."
"Jadi, apa kita mau berhenti saja?"
__ADS_1
"No, bukan itu … ehm, baiklah aku akan mendengarkan penjelasanmu. Tell me your opinion?!"
"Fenomena doppelganger pada kasus ini unik. Ini sebenarnya bisa jadi petunjuk. Tadinya aku mengira Natasya pelakunya tapi entah mengapa aku sendiri meyakini itu bukan dirinya." Thalia mulai menjelaskan.
"Sampai Sean bercerita padaku tentang Natasya, dan tentang dirinya yang menjadi saksi pembunuhan yang dilakukan Natasya ... atau tepatnya seseorang yang mirip dengan Natasya."
"Aku tidak mengerti Thalia, penjelasan mu membuatku ..."
"Bingung?"
"Ya, bisa dibilang begitu."
"Dave, tidak selamanya retrokognisi itu benar. Dan aku membuktikannya sendiri, doppelganger telah mengelabui penglihatan ku."
"Kenapa? karena Sean dan aku terkoneksi. Sean bermasalah dengan Natasya, pikirannya terhubung denganku saat aku melakukan retrokognisi. Hasilnya? Aku melihat Natasya disana." Thalia mencoba menjelaskan kembali.
"Lalu bagaimana dengan apa yang dilihat Sean, gimana kamu bisa jelasin itu?"
Thalia menghela nafas panjang, ia menatap Sean sendu. Berat tapi harus dilakukannya.
"Yang dilihat Sean mungkin benar Natasya tapi versi dirinya yang lain."
"Versi lain?"
"Ini hanya dugaan ku saja, kemungkinan Natasya mengidap ... schizophrenia."
"Apa? No Thalia kamu salah! Natasya tidak mungkin mengidap penyakit mengerikan itu?!" Sean menolak asumsi Thalia.
"Apa kau yakin Sean?"
Sean diam, jauh dari lubuk hatinya Sean juga ragu dengan perkataannya sendiri.
"Kamu sempat mengeluhkan sikap aneh Natasya. Apa kau lupa?"
"Yang aku lihat dalam reka ulang masa lalu adalah Natasya. Tapi itu belum pasti dan aku tidak mau menyimpulkan sebelum kita menemukan fakta. Natasya dalam bentuk doppelganger yang kulihat memiliki luka dipipi kirinya."
"Tapi Natasya nggak punya luka!" Sean berusaha membelanya.
"Kamu benar, Natasya tidak memiliki luka. Itu sebabnya aku menduga itu orang lain."
"Dave, bisa kamu buka video yang kemarin aku lihat? Sean harus melihatnya sendiri."
David mengangguk dan memutarkan video yang dimaksud Thalia. Ia mengarahkan video itu pada Sean, dan Sean terkejut.
"Thalia … ini?!"
__ADS_1
"Lihat baik-baik Sean, sampai akhir. Dan jelaskan pada kami berdua yang sebenarnya!"