Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 38


__ADS_3

Mereka kembali ke villa untuk beristirahat sejenak. Makan siang sudah siap dihidangkan oleh para asisten rumah tangga Vina yang berjaga di sana. Langit tampak lahap memakan makanannya. Sean dan Ardi terlibat percakapan yang lumayan serius. Thalia lega melihat mereka bisa akrab dan tidak bermusuhan.


Thalia sendiri hanya memakan makanannya sedikit. Entah mengapa semua makanan yang ada di hadapannya sama sekali tidak menarik. Bukan karena dia tidak lapar tapi sesuatu dalam tubuhnya seolah menolak untuk menerima makanan.


Thalia merasakan sakit yang menjalar aneh di tubuhnya. Perutnya lapar tapi setiap makanan yang masuk ke mulutnya sulit diterima untuk masuk ke dalam tubuhnya. Pikirannya tertuju pada Erick, bayangan Erick seolah menghantuinya.


"Tante nggak makan?" tanya Langit yang tiba-tiba menghampirinya.


"Eh Langit, kamu sudah selesai makannya?"


"Udah, mau Langit suapin nggak Tante?!"


"Kamu mau nyuapin Tante? Emang bisa?" sahut Thalia geli


"Bisa, kasian Tante pasti sakit kan makanya nggak bisa makan? Sini Langit suapin aja. Om itu jahat bikin Tante sakit?!" Langit memaksa Thalia menerima suapan darinya. Thalia terpaksa menerimanya agar Langit senang meskipun perutnya benar-benar menolak makanan masuk.


"Dipaksain Tante, nanti Tante sakit lho!" kata Langit lagi.


Thalia memaksa untuk tersenyum, mulutnya bahkan masih mengunyah makanan saat Langit kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Langit stop! Tante makan sendiri aja!"


Langit tersenyum dan mengangguk, ia kemudian kembali berlarian di halaman belakang rumah. 


Dengan susah payah Thalia berusaha menelan makanannya. Ia sendiri heran kenapa bisa mengalami hal aneh semacam ini. Seumur hidupnya belum pernah sekalipun ia merasakan sakit dan rindu yang begitu mendalam seperti ini.

__ADS_1


Thalia memutuskan membuka ponselnya dan kembali membaca novel milik Erick. Sebuah pesan muncul darinya,


Tidur?


Nggak


Thalia baru sempat membalas pesan yang dikirim Erick siang tadi. Ia kembali melanjutkan membaca, nyeri kembali menyerangnya. Ia kembali membuka notifikasi dan benar saja Erick memberikan balasan.


Weekend nggak jalan?


Ni lagi di puncak, kamu nggak nulis?


Thalia terdiam dan menatap Langit. Terlintas di benaknya untuk menanyakan tentang Erick pada Langit, tapi ia mengurungkan niatnya. Nyeri itu kembali datang, Thalia mengabaikannya kali ini. Ia memutuskan mendekati Ardi dan Sean.


"Bentar lagi, kamu sudah selesai makannya?" tanya Sean


"Hmm, sudah. Aku jalan-jalan dulu bentar." pamit Thalia pada Sean


"Mau aku temani?" Ardi menawarkan dirinya


"No, aku pengen sendiri dulu."


"Ok, hati-hati kalo gitu. Jangan jauh-jauh takut kesasar kamu nanti!" kata Ardi mengingatkan.


Thalia hanya menjawab dengan senyuman. Ia melangkahkan kakinya keluar dari halaman luas yang mengelilingi villa. Rasa nyeri kembali menyerangnya.

__ADS_1


Iiish apa ini, kenapa rasanya datang dan pergi kayak lagu aja!


Thalia kembali membuka aplikasi baca itu dan Menerima pesan Erick. Thalia mulai merasakan keanehan.


Setiap nyeri datang, pesan Erick pasti masuk. Aneh, apa itu kode dari badanku? Kok bisa gitu ya, aku tes lagi deh buat mastiin.


Thalia membaca pesan dari Erick dan kembali membalasnya.


Belum, kamu lagi ngapain?


Jalan-jalan mengusir sepi


Thalia menunggu pesan dari Erick. Ia menutup aplikasi itu dan kembali berjalan menikmati kesejukan kebun teh. Hari belum terlalu sore, suasana kebun teh juga tidak terlalu ramai. Hanya beberapa pemetik teh terlihat sibuk dengan pekerjaannya. 


Belum jauh Thalia berjalan santai, nyeri kembali datang. 


Kan datang lagi, coba kali ini bener nggak dugaanku …,


Ia membuka ponselnya benar saja pesan dari Erick datang lagi.


Kamu jalan sendiri? Nggak ada yang nemenin?


Iya, kenapa? Balas Thalia.


See, nyeri itu sebagai alarm pesan dari Erick. Kok bisa ya, something going weird now! 

__ADS_1


__ADS_2