Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 85


__ADS_3

Thalia hanya bisa menahan dirinya. Ia mengusap air mata yang terus menetes tanpa henti. Senang, sedih, kecewa bercampur menjadi satu dalam hatinya. Tidak ada kata yang bisa Thalia ucapkan.


"Mellow banget sih aku ini. Dulu sama Rendy nggak pernah secengeng ini. Lha ini liat foto tangan aja dah nangis. Bener-bener aneh." gumam Thalia sambil terus menatap foto di depannya.


Thalia memutuskan menutup ponselnya. Ia tidak mau Ardi memergoki dirinya menangis.


"Yang penting udah tahu kabarnya. Semoga progres nya bagus."


Ardi masuk ke ruangan bersama salah satu manajer pemasaran. Ia tersenyum pada Thalia yang menuruti perintahnya untuk diam di ruangan. Sementara Thalia merasa sebal dengan senyum Ardi.


Cckk, dia pikir saya wanitanya kali … andai bukan karena menghindari Rendy males deh aku ikutin dia …, gerutunya dalam hati.


Ardi menghampiri Thalia setelah manajer pemasaran itu pergi. 


"Sori, lama ya nunggunya?" 


"Nggak kok, apa sudah selesai?" 


"Udah, yuk sekarang temenin aku!"


"Tunggu, mau kemana kita?"


"Nanti juga kamu tahu." jawab Ardi tersenyum.


Thalia penasaran dengan tujuan Ardi mengajaknya. Tapi ia juga malas bertanya lebih jauh ke Ardi. Thalia mengikuti langkah Ardi dan mereka pergi menuju ke suatu tempat. Tidak ada satupun kata yang meluncur dari mulut keduanya. Thalia hanya menunggu dalam diamnya.


Ardi menghentikan mobilnya di sebuah rumah. Thalia memperhatikan rumah itu, ada papan nama bertuliskan Panti Wreda Budi Asih. Tempat itu cukup terawat dan asri untuk sebuah rumah peristirahatan bagi orang-orang jompo yang ditinggalkan anak-anaknya.


"Kenapa kita kesini?" tanya Thalia


"Kita ketemu sama seseorang. Temani aku ya?!" pinta Ardi tanpa menjawab banyak.


Thalia yang masih ragu untuk turun, akhirnya mengangguk tapi sebelum turun Ardi menahan tangannya.


"Thalia, tunggu … aku minta maaf." Ardi menghela nafas dengan berat.


Ia melanjutkan perkataannya lagi, "Kemarin, sikapku memang terlalu. Dan … aku minta maaf untuk itu?!" 


Thalia masih terdiam dan menunggu Ardi menyelesaikan perkataannya yang menggantung. "Bisakah kita seperti biasa lagi, dan kamu maafin sikap lancang aku?" 


"Aku udah maafin kamu kok, dan ya kamu sangat tidak sopan!"


"Yeah, aku tahu dan aku minta maaf. Biasanya wanita-wanita yang aku deketin nggak pernah marah kalo aku perlakuan gitu. Jadi …"


"Jangan menyamakan aku sama wanita lain Ardi! Tidak semua perempuan bisa kamu rayu sama harta benda juga … cumbuan kamu, sorry i have to say that! I told you, mendapatkan saya nggak akan mudah. Saya bukan tipe perempuan yang bisa berubah pikiran dengan cepat. Apalagi masalah hati."


"Ya, i know … sekali lagi maaf. Bolehkah aku menanyakan satu hal?"

__ADS_1


Thalia diam menatap Ardi, "Apa kamu masih mencintai Rendy?"


Thalia dan Ardi saling bertatapan, "Nggak, dia sudah menjadi bagian dari masa lalu saya."


"Tapi kayaknya dia ngarepin kamu kembali. Apa mungkin kalian bakalan rujuk lagi?" tanya Ardi lagi.


"Kami bersama cukup lama, kami punya kisah sebelum menikah juga cukup lama. Kenangan itu nggak akan mudah terhapus di memori saya. Tapi … perpisahan yang menyakitkan cukup untuk menyadarkan saya, kalau saya juga berhak bahagia." 


Jika Ardi menanyakan ini tahun lalu atau tahun disaat Thalia berpisah, bisa dipastikan Thalia tidak akan bisa menahan dirinya untuk menangis. Perpisahan itu adalah pukulan terhebat dalam hidup Thalia. Tapi sekarang, Thalia sudah bertransformasi menjadi sosok wanita dewasa yang lebih kuat. 


Thalia berdamai dengan keadaan. Meski rasa benci terhadap Rendy belum juga bisa Thalia hilangkan. Luka itu terlalu dalam. 


"Jadi …"


"Saya bukan peramal masa depan Ardi, saya tidak mau berandai andai tentang hari esok. Jalani saja hari ini dan nikmati hidup itu lebih baik daripada harus meratapi yang sudah terjadi." 


"Oke, setidaknya aku sudah tahu sekarang aku harus berbuat apa." Ujar Ardi tersenyum. Ia merapikan rambut Thalia yang bahkan tidak berantakan sama sekali.


Ardi, kamu memang pintar cari kesempatan! 


"Ayo kita turun! Jangan sampai dia menunggu?!" ajak Ardi.


Thalia menurut, Ia segera keluar dari mobil. Ardi menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam. Kedatangan Ardi sudah ditunggu oleh pengurus panti. "Mas Ardi!" 


Seorang ibu paruh baya dengan penuh suka cita menyambutnya. Ardi mencium tangan ibu itu dan memeluknya.


Thalia hanya memperhatikan interaksi keduanya. Ibu yang sedang berbicara dengan Ardi beralih menatap Thalia.


"Ini … calon kamu mas?" 


"Eeh, bukan Bu saya teman Ardi! Kenalkan, saya Thalia." Thalia buru-buru mengenalkan dirinya sebelum ibu itu berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya.


"Oh Thalia, namanya bagus secantik orangnya. Ardi kamu pintar memilih calon istri ya?!"


"Eeh, bukan … saya bukan calon istrinya Bu, saya ini …" 


"Ya Bu, makasih pujiannya. Cocok kan sama Ardi." Ardi memotong perkataan Thalia dan tentu saja jawaban Ardi membuat Thalia kembali kesal.


Iish, baru tadi minta maaf sekarang buat ulah lagi! 


"Dokter Thalia cantik, berbaik hatilah sedikit hari ini. Ikuti saja permainanku oke?" bisik Ardi dengan mengerlingkan matanya.


Cck, enak di kamu rugi di saya ini mah!


Ibu itu membawa Ardi dan Thalia menuju ke sebuah ruangan. Thalia memperhatikan sekitarnya. Kebanyakan penghuni panti adalah wanita. Mereka para orang tua yang sengaja dititipkan di panti ini, beberapa bahkan sudah tidak pernah bertemu lagi dengan anak mereka.


Thalia mendapat penjelasan sedikit dari si ibu tadi. Thalia miris, tidak habis pikir kenapa ada anak yang tega membuang wanita yang sudah melahirkan mereka ke dunia. Bahkan sampai melupakannya.

__ADS_1


Mereka berhenti di sebuah kamar. Seorang wanita tua duduk di atas kursi roda dengan selimut warna abu-abu menutupi bagian kakinya. Ia menatap ke luar jendela. Mata tuanya seolah melihat pada kenangan masa lalunya.


"Bu …" Ardi menyapa wanita itu yang belum bergeming dari lamunannya.


"Ardi datang Bu … maaf sudah lama menunggu." 


Wanita tua itu menoleh pada Ardi, "Ardi? Anakku?" Ia menangis.


Thalia terharu, ia tidak menyangka wanita itu adalah ibunda Ardi.


"Iya Bu, ini Ardi. Ibu kangen Ardi kan?!" tanyanya sambil memeluk ibundanya yang terus menangis.


"Maaf ya Bu, Ardi terlalu sibuk di kantor dan baru bisa datang kesini sekarang."


Ibundanya tidak menjawab, ia terus memeluk Ardi dan meraup wajah tampan Ardi. Menyusuri wajah yang ia rindukan. Putranya tercinta.


Perlu beberapa waktu sebelum ibundanya menyadari kehadiran Thalia. Ia menoleh dan menatap takjub Thalia.


"Dia istrimu?!" 


Sontak Thalia terbelalak, ia hendak menjawab saat Ardi mencegah nya. 


"Kenalin Bu, ini calon istri Ardi kami akan menikah dalam waktu dekat. Tolong beri restu ibu ya." 


Apa, dia bilang apa? Ardi, luar biasa saya berasa masuk dalam sebuah novel … Lamaran Kejutan sang CEO!


Kamu harus membayar saya lebih untuk ini Ardi!


 


...----------------...


...selamat malam.......


...terimakasih sudah ngikutin kisah cinta Thalia sampai disini yaa......


...banyak yang nanya is this real story? ...


...kira-kira apa ya jawabannya😁...


...oh ya petualangan Sari session 2 sudah rilis hari ini yaa...silakan mampir jika berkenan......


...selamat beristirahat semuanya🥰...


...cium jauh saya untuk kalian😘...


__ADS_1


__ADS_2