
...Aku kembali ke titik sunyi...
...Dimana angin tidak lagi semilir...
...Aku terdiam berbalut sepi...
...Bersama air yang berhenti mengalir...
...****************...
Sean menatap Thalia, ada keraguan yang menyelimuti dirinya. Thalia mengangguk samar, ia yakin Sean bisa menghadapinya. Perlahan Sean menuruti perkataan Thalia. Ia mulai menyimak seorang pria dalam rekaman itu.
"Perhatikan gaya bicaranya Sean, tatapannya, dan juga …"
"Kebiasaannya?" Sean menyambung perkataan Thalia, matanya menatap lekat pria dalam video itu.
David yang masih belum bisa memahami jalan pikiran kedua bersaudara ini hanya bisa menatap mereka bergantian.
Thalia, aku benar-benar tidak memahami dirimu tapi keunikan dirimulah yang membuatku … jatuh hati padamu …,
David masih menatap Thalia dan memperhatikan setiap gerakan Thalia yang begitu menggoda dimatanya.
Kenapa aku begitu … terpesona olehnya, baru kali ini ada wanita yang bisa mengalihkan perhatianku dari pekerjaan …,
Thalia yang merasa diperhatikan David merasa canggung dan memilih untuk mendekati Sean. Thalia juga merasakan hal yang sama pada David, tapi nama Erick seolah terus merajai pikirannya. Setiap kali ia berusaha mengalihkan pikirannya kepada David, khodam penjaganya langsung bereaksi.
Mereka melarang Thalia memikirkan siapapun selain Erick. Tidak Ardi, Rendy ataupun David. Hanya Erick yang boleh menguasai pikiran dan hati Thalia. Rasa tidak nyaman itu menyerang Thalia, sakit dan nyeri kembali ia rasakan.
Thalia berusaha mengontrol dirinya, tapi rasa itu semakin kuat menyerang hingga akhirnya Thalia memutuskan untuk menghubungi Erick.
...----------------...
"Pagi …"
"Pagi juga, sleep well last night?" tanya Erick dengan cepat, sepertinya ia juga merasakan hal yang sama dengan Thalia.
"Slightly disturbed." (Sedikit terganggu.)
"Why? Are you oke?" Erick sedikit khawatir, meski pada saat yang bersamaan kekasih cantik Erick sedang bersamanya.
__ADS_1
"I'm ok, don't worry about me. Dia sudah datang?" Thalia bisa merasakan kehadiran wanita yang mengisi hati Erick itu.
"Iya, udah dulu ya … don't mind me ok?"
"Ok, have fun with her … tangan keatas ya, jangan kemana-mana?!" Thalia berpesan dan menggoda Erick.
"I'm not doing anything Thalia, just a little kiss maybe." Erick menanggapinya dengan senyuman nakal.
"A little kiss? There's no way for sure it was a long and... Full of passion!"
Erick tertawa membaca pesan Thalia, wanita yang selama ini menyita waktu dan pikirannya memang selalu tahu apa yang ada dalam pikirannya.
"I'm not lying, just a little kiss. But with an added bonus."
"See, aku tahu itu Erick. Kamu tahu kan aku bisa ngerasain itu. Kamu nggak akan bisa bohong dari aku." Thalia membalasnya lagi dengan senyuman, meski hatinya juga merasakan sakit.
"Ok, kamu curang harusnya kamu juga punya pacar biar kita bisa saling merasakan."
"Merasakan apa? Our desire? Its dangerous Erick, you know the effec for us right?" Thalia mengingatkan Erick.
"Yeah, i know. Tapi kamu tetap harus mencari seseorang yang bisa mengisi hatimu selain aku. Find it and every thing gonna be normal again."
"Yaa nggak tau juga sih." Erick meragukan usulannya karena memang pada kenyataannya berkali kali mereka mencoba untuk melepaskan diri, berkali kali itu juga mereka failed.
"Forget that beb, someday it will be another way for us to untie this chain."
"I hope so, kita nggak bisa selamanya begini kan? Kamu harus menjalani kehidupan kamu dan aku juga harus menjalani kehidupanku disini." jawab Erick.
Thalia kembali merasakan rasa tidak nyaman itu begitu juga dengan Erick, "S*** mereka selalu begini kalo kita bicara tentang perpisahan?!" keluh Thalia.
"Kenapa, badan kamu sakit?"
"Yup, as usual."
"Ok, kita udahan dulu biar nggak semakin menyakiti kita berdua."
"Tunggu, Erick … bisakah kita bertemu sekali aja?! Please." Thalia terbesit untuk bertemu dengan Erick, sesuatu mendorongnya untuk meminta hal konyol itu pada Erick.
"Ketemu?" Erick terkejut melihat pesan balasan Thalia, ia sebenarnya juga sangat penasaran dengan Thalia dan ingin bertemu dengannya. Sejenak ia ragu untuk menjawabnya, tapi akhirnya …,
__ADS_1
"Ok, nanti aku pikirkan lagi. Udah dulu ya, She's waiting for me."
Gadis cantik berkulit putih itu datang mendekati Erick dengan senyumannya. Erick meletakkan ponselnya tanpa menunggu balasan dari Thalia dan menyambut kekasihnya dengan ciuman seperti biasanya.
"Damn, Erick … bisakah kamu menahan dirimu sedikit?! I can feel it!" umpat Thalia.
Yup, Thalia kembali merasakan hasrat yang disebabkan Erick pada kekasihnya. Dan itu sangat menyakitkan. Thalia harus bisa memendam hasrat yang sama.
Bayangkan saja jika setiap weekend Thalia harus merasakan rasa yang menyakitkan selama berbulan-bulan lalu apa jadinya jika ia harus mengalaminya bertahun-tahun menyebalkan sekali bukan?
Menjadi yang kedua adalah pilihan Thalia, tapi sampai kapan? Thalia juga ingin memiliki Erick, ia ingin merasakan pelukan Erick yang sebenarnya bukan hanya dalam dimensi lain.
Bolehkan aku sedikit aja serakah dan meminta semuanya Erick?
...----------------...
Thalia tampak kesal dan kembali meletakkan ponselnya. Ia menahan tangisnya, Sean sedang bermasalah. Ia tidak ingin menambah masalah baru untuk Sean.
"Sebentar Sean, aku ambil air minum dulu buat David. Kamu perhatikan aja dulu video itu."
Thalia beranjak dari duduknya menuju ke ruangan lain, bukan ke dapur. Thalia butuh tempat untuk menangis mengeluarkan rasa sakit yang ia rasakan dari hubungan yang tidak masuk akalnya dengan Erick.
"Damn it! Kenapa dulu kamu harus lepasin mantra itu? Kenapa aku juga baca novel dia? Kenapa dengan bodohnya aku ngikutin kemauan kalian? Penjaga bodoh, kalian yang jatuh hati tapi aku yang harus menderita. Bisakah perjanjian itu dibatalkan!"
"Kamu menangis? Kenapa? Apa ada yang terjadi lagi?" David menyentuh bahu Thalia yang bergetar karena terisak.
Thalia terkejut dan menghapus airmatanya, "David? Kenapa kamu disini?"
"Aku khawatir sama kamu, aku lihat mata kamu memerah tadi dan tebakanku benar kamu nahan nangis rupanya?!"
"Maaf, aku terlalu emosional tadi." jawab Thalia singkat.
David membalik tubuh Thalia perlahan, ia menatap wanita cantik didepannya dengan mata dan hidungnya yang memerah. David mengangkat dagu Thalia agar ia bisa menatapnya jelas.
"Tell me, siapa yang tega membuatmu menangis?"
Pertanyaan David bagaikan air yang disiram diatas tanah tandus. Hati Thalia berdesir jantungnya terasa berdetak lebih kencang, setiap sentuhan dan perkataan David membuatnya nyaman.
Rasa ini … apa aku mulai jatuh cinta lagi?
__ADS_1