Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 30


__ADS_3

Ardi dengan santai mengatakan tujuannya ke salah satu lokasi yang biasa disewa untuk acara garden party pernikahan. Ia bahkan tidak menoleh sedikitpun ke arah Thalia yang kesal padanya.


"Kamu fobia menikah tapi malah cari tempat menikah? Sebenarnya kamu ini fobia beneran apa mau ngerjain saya sih?!" 


Ardi tertawa melihat Thalia yang kesal dengan sikapnya. Ia tidak menjawab, ia memilih untuk menikmati alunan musik klasik yang suaranya menenangkan dirinya. 


Thalia memperhatikan sikap yang ditunjukkan Ardi. Perlahan ia mulai mengerti apa yang dilakukan Ardi. Musik klasik menenangkan dirinya, Ardi sedang mengobati dirinya sendiri.


Penderita Gamophobia biasanya sangat anti dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan pernikahan, tapi Ardi justru dengan sengaja melibatkan dirinya dengan sesuatu yang menyangkut pernikahan.


Thalia jadi sedikit curiga jangan-jangan Ardi hanya berpura-pura sakit dan ini adalah rencana Tante Alena. Thalia pun memilih diam, dan menatap ke luar jendela.


 Thalia mengingat masa lalunya betapa ia begitu bahagia saat mempersiapkan pernikahannya dengan Rendy. Ia ingin semuanya sempurna saat itu, setiap detail ia perhatikan hingga sebuah pernikahan mewah dan sakral digelar dengan indahnya. 


Ia menjadi wanita tercantik nan sempurna dimata Rendy saat itu. Kata-kata menggoda dan memuji dibisikkan Rendy sepanjang acara membuat Thalia tersipu. Kata-kata yang kini bagaikan belati tajam yang menembus jantungnya jika diucapkan. Airmata Thalia meluncur tanpa bisa terbendung lagi. 


"Thalia, are you ok?" tanya Ardi yang rupanya memperhatikan perubahan sikap Thalia.


Thalia buru-buru menghapus jejak air mata di pipinya lalu menjawab tanpa menoleh pada Ardi.


"I'm fine." jawabnya lirih


Ardi terus menatap Thalia berharap wanita cantik itu berbalik menatapnya. Tapi harapannya sia-sia, hingga mereka tiba di tempat yang dituju Thalia tidak merubah posisinya.

__ADS_1


Lamunan Thalia buyar ketika Ardi menyentuh tangannya,


"Dokter Thalia!" 


"Eeh, ada apa? Kita sudah sampai?" tanya Thalia yang terkejut saat tangan Ardi menyentuh lengannya.


"Is there something you want to tell me?"


(Apa ada yang ingin kau katakan padaku?)


"No, kenapa kamu nanya gitu?"


Ardi menatap Thalia dengan tajam, lalu tersenyum dengan manisnya membuat Thalia terheran heran.


"Nothing, forget that. Ayo turun aku udah telat ini?!"


"Pak Ardi, selamat datang di resort kami." sapa seorang wanita cantik berusia tiga puluhan.


"Maaf saya terlambat, bisa kita mulai?" jawab Ardi.


Ardi dan wanita itu langsung terlibat dengan pembicaraan mereka tentang sebuah pernikahan. Thalia hanya mendengarkan mereka, dari percakapan mereka Thalia baru tahu jika Ardi tengah menyiapkan pernikahan untuk adik sepupunya.


Untuk seorang penderita Gamophobia Ardi cukup bisa mengontrol ketakutan dalam dirinya. Thalia kagum dengan kemampuan Ardi mengatasi kelemahannya. Akhirnya obrolan yang terasa membosankan untuk Thalia pun berakhir. Wanita itu berpamitan pada Ardi dan juga Thalia.

__ADS_1


Ardi yang semula tersenyum dan berdiri melambaikan tangan pada wanita itu tiba-tiba saja terduduk dengan cepat, tangannya mengepal menahan rasa sakit, keringat dingin membasahi tubuhnya, dadanya terasa sesak dan kepalanya berputar. Thalia panik.


"Ardi, lihat saya! Tenang, bernafas dengan perlahan!" 


Ardi masih belum bisa mengontrol tubuhnya, nafasnya terdengar semakin berat, tangannya menekan kuat dadanya menandakan nyeri yang teramat sangat.


"Apa kamu minum obat depresan, tell me?!" tanya Thalia


Ardi mengangguk, "Dimana kamu simpan obat itu, apa dimobil?!" tanya Thalia lagi


Ardi kembali mengangguk, Thalia bergerak cepat dengan menyambar kunci mobil Ardi. Ia sebelumnya meminta kepada salah seorang pelayan untuk menjaga Ardi yang semakin pucat.


Thalia berlari dan segera kembali ke area parkir. Dengan sigap Thalia mencari obat depresan yang biasa diminum Ardi dan ia menemukannya di dalam tas kecil milik Ardi yang tertinggal.


"Effexor XR … ini dia! S*** kenapa dia nggak bilang terus terang kemarin kalo pake anti depresan!" gerutu Thalia.


Thalia bergegas kembali dengan membawa sebotol pil anti depresan. Ardi sudah dijaga oleh dua orang pegawai resort. Ardi tampak sangat kacau, Thalia memberinya satu pil dan Ardi segera meminumnya. Tak lama kemudian kondisinya berangsur membaik.


"Apa apaan itu Ardi? Kamu memaksa dirimu melebihi batasan yang seharusnya! Kamu mau mati atau mau jadi gila?!" tegur Thalia setelah Ardi tenang.


"That's my way to cure myself."


(Itu caraku menyembuhkan diriku sendiri.)

__ADS_1


" … "


 


__ADS_2