
David mengajak Thalia untuk kembali ke kantornya. Ia harus menyerahkan barang bukti yang ditemukan Thalia untuk diuji Laboratorium forensik.
Thalia menunggu David di ruangannya. Ruangan David berada terpisah dari yang lain dan untuk keluar masuk ruangan hanya bisa menggunakan finger print yang sudah terdaftar dalam sistem.
CCTV yang terpasang di dalam ruangan David membuat semua kegiatan terpantau jelas. Thalia membuka ponselnya, kesibukan membantu David membuatnya melupakan Erick.
"Sibuk ya?" tanya Thalia.
"Nggak, kamu lagi ngapain?"
"Biasalah, udah makan belum?"
"Udah, kamu?"
"Belum."
"Makanlah nanti kamu sakit."
Thalia hanya tersenyum melihat pesan Erick. Perhatian kecil darinya cukup membuat hati Thalia senang. Ia tidak pernah meminta lebih meski ia sangat menginginkan Erick. Thalia sadar posisinya.
"I Miss you …" Thalia mengetikkan pesan untuk Erick.
Sebuah pesan tentang perasaannya yang mendalam. Thalia merindukan sosok yang tak pernah bisa ia raih. Ia membuka galeri fotonya, hanya itulah pengobat rindu bagi Thalia. Berat tapi ini pilihannya.
David kembali masuk ke ruangannya, ia membawa beberapa berkas penyelidikan terkait pembunuhan berantai.
"Maaf lama ya? Ada yang harus aku cek dulu tadi."
"Oh, nggak apa kok?" Thalia melirik jam tangannya sudah hampir jam 4 sore.
"Apa masih lama? Aku belum kasih tahu Sean kalau pulang terlambat." tanya Thalia.
"Sean? Pacar?"
__ADS_1
Thalia tertawa, "My twins."
"Oh, aku kira pacar kamu. Mungkin sedikit lama, malam mungkin?" David lega, ia sempat memperhatikan Thalia melalui CCTV saat Thalia berkirim pesan dengan Erick.
"Eh, malam? Tapi …"
"Kami berburu dengan waktu, jangan sampai ada korban ke enam." David berusaha menahan Thalia lebih lama disisinya.
Thalia berpikir sejenak, "Ok, lagian besok Sabtu saya juga libur. But, you have to pay me for this!" (Kamu harus bayar saya lebih untuk ini.)
"Sure, nothing is free right?" (Tentu, tidak ada yang gratis kan?)
Thalia tersenyum begitu juga dengan David yang berhasil membuat Thalia lebih lama bersamanya. Setidaknya hari ini ia puas menatap wajah cantik Thalia.
"Jadi apa yang perlu aku lihat?"
David masih asyik menatap wajah Thalia, yang tetap cantik di matanya meski hanya dipoles dengan make up tipis.
"David … " Thalia memanggil namanya tapi David tidak bergeming. Pikiran David berfantasi bersama Thalia.
"Eh, iya … sorry saya, ehm … forget that?!" David tergagap.
" …"
Kenapa dia, apa ada yang salah sama aku?
"Ini hasil investigasi kami dari beberapa saksi. Coba kamu lihat, apa ada yang janggal dari pernyataan mereka." David menyodorkan tumpukan kertas hasil penyelidikan ia dan timnya.
"What the hell, sebanyak ini? Ini butuh semalaman! Gosh, it makes me crazy?!" Thalia memijat kepalanya yang bahkan tidak gatal.
"Sulit ya?!"
"Apa nggak ada video rekamannya? Or something yang bisa aku lihat? Kalau hanya dari kertas terkadang saya nggak bisa lihat. Kemampuan saya terbatas."
__ADS_1
"Ada, bentar aku suruh orang buat ambil. Apa kamu yakin bisa melihat dari video itu?!"
"Ekspresi seseorang lebih bisa dibaca dari visual, aku bisa langsung tahu siapa yang berbohong, siapa yang berkata jujur, hiding something or benar-benar nggak tahu apa-apa."
"Ok."
David meminta anak buahnya untuk membawakan video rekaman dari saksi melalui interkom, sementara Thalia mempelajari hasil wawancara secara tertulis.
Satu persatu Thalia membaca dan meneliti setiap perkataan yang tertulis. Ia baru bisa meraba-raba saja. Dan menemukan satu kejanggalan dari keterangan salah satu saksi.
Ini … pernyataan nya aneh bertolak belakang , disatu sisi dia mengiyakan tapi disisi lain dia terlalu … tunggu, nama ini sepertinya nggak asing …, Thalia mulai was-was.
"David, bisa aku lihat videonya sekarang?"
"Sebentar, lagi diantar kesini. Apa ada yang kamu curigai?"
"Ehm, mungkin … aku mau pastiin aja."
Thalia kembali membaca dan memilah mana yang harus mendapat atensi lebih mana yang tidak. David ikut memperhatikan Thalia, hatinya juga ikut berdebar bukan karena kasusnya tapi karena Thalia.
Seseorang masuk dengan membawa video rekaman yang dibutuhkan Thalia. David membuka dan mulai memutarnya untuk Thalia.
"Bisa putarkan saksi atas nama ini?" pinta Thalia.
David mengerutkan keningnya, ada pertanyaan yang ingin disampaikan tapi urung ia ungkapkan. Tak lama kemudian, David memutarkan keterangan saksi dengan nama yang dimaksud Thalia.
Thalia memperhatikan dengan seksama, ia sungguh berharap apa yang diperkirakan itu salah. Thalia mengenali saksi itu, ia pernah berhubungan dengannya. Dan ia benar-benar terkejut setelah melihat rekaman video.
Ya Tuhan … sepertinya yang aku takutkan benar adanya.
...----------------...
...mohon maaf...slow up ya teman2 badan mulai demo lagi🙏...
__ADS_1
...jadi galau ini mau nulis...MET istirahat di Minggu malam🙂...