Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 119


__ADS_3

Thalia tersenyum dan merasa nyaman dalam dekapan David, suaminya. Namun itu terjadi tidak lama, rasa tidak nyaman itu kembali muncul.


Again? S**t, sudah kuduga ini nggak akan berhasil!


Thalia mengumpat pada para khodam penjaganya yang masih juga tanpa permisi memberikan rasa tidak nyaman. Dan, sebuah pikiran jahat muncul di benak Thalia. Pikiran yang seharusnya tidak dituruti. 


"Erick, waktunya balas dendam … kita lihat apakah kamu masih bisa merasakan aku atau nggak."


Thalia berbalik menghadap David, ia tersenyum karena David masih memejamkan mata, menetralkan rasa lelah akibat pelepasan mereka. Dengan senyuman nakal, Thalia kembali menggoda David dengan memberikan ciuman panas.


Menelusuri leher David, memberikan gigitan kecil di leher dan sekitar telinganya, membangkitkan kembali gairah David. Thalia membiarkan sisi liarnya bekerja, sama seperti saat bersama Erick dalam chat. 


David tersenyum lebar melihat istrinya kembali menggoda dan mengambil perannya menjajah setiap lekuk tubuhnya. Thalia membuka selimut yang menutupi keduanya, dan beralih ke atas tubuh David.


"Thalia, you're amazing like a princess sitting on her horse" bisik David menikmati setiap sentuhan Thalia yang menghujaninya dengan ciuman.


Pikiran Thalia kembali terhubung dengan Erick, membuat Thalia merasakan desire yang berlebih.


"Erick, I hate to feel this. I'm sorry mereka datang begitu saja, maaf kamu harus merasakannya juga. Setidaknya kita impas kan?!" Thalia tersenyum samar dan terus memberikan sentuhan yang membuat David mabuk kepayang.


Kembali lagi kamar pengantin mereka dipenuhi suara-suara ajaib yang membuat keduanya mencapai pelepasan lagi dan lagi. Sepanjang malam.


...----------------...


Di lain tempat, Erick menggaruk kepalanya. Dia sudah membaca beberapa judul novel tanpa ada satupun yang membuat pikirannya nyaman. Menulis pun hanya dapat satu paragraf. 


"Damn … Thalia, kamu nyiksa aku!"


Dengan jengkel Erick mulai bermain game untuk mengalihkan perhatian agar tidak teringat Thalia. Tapi baru lima menit bermain dia membanting ponselnya ke atas tempat tidurnya karena tidak bisa berkonsentrasi hingga akhirnya kalah.


"Duh, begini juga salah … kalian emang sampai berapa kali sih!" Erick kembali mengumpat.


Erick memutuskan pergi ke dapur dan membuat kopi berharap kafein bisa menetralkan rasa itu, dan membawanya ke depan televisi. Berusaha menikmati film sambil menyantap camilan. But it's not working again.


Gelisahnya tidak mampu di tahan karena bagian bawahnya tegang tanpa alasan. Darah mudanya mengalir panas dan bergejolak tanpa alasan yang jelas.


"What the hell are you doing, Thalia?! I'm so desire … damn!"

__ADS_1


Erick tidak punya pilihan lain selain mengakhiri ketegangan yang membuat pusing kepalanya. "Thalia … it makes me crazy! Kalau begini caranya bisa-bisa aku tidur dikamar mandi!"


Erick hanya bisa menatap pasrah wajahnya di depan cermin dan mengumpat ikatan yang tak kunjung hilang sembari melepaskan ketegangan dirinya sendiri.


Bukannya seharusnya dia tidak punya waktu untuk memikirkanku karena sudah bersama dengan pria lain?


Ups …, sorry Erick revenge is fun


...----------------...


Paginya Thalia terbangun saat ia merasakan benda kenyal dan basah menyentuh bibirnya. 


"Morning sweet heart." 


"Sean, jangan ganggu! Aku masih ngantuk!" Thalia masih belum menyadari jika David yang ada disampingnya.


David yang melihat reaksi Thalia yang begitu menggoda di matanya kembali memberikan kecupan kecil di belakang telinga Thalia dan menyusuri lehernya dengan ciuman.


Hormon feromon yang dilepaskan Thalia semalam rupanya masih tersisa membuat David kembali tergoda dengan tubuh telanjang Thalia yang hanya ditutupi selimut.


Thalia terkejut, ia baru sadar itu bukan Sean. "Dave?"


"Yup, It's me honey not Sean." David menjawab dan terus menyusuri bahu Thalia yang polos memberinya gigitan kecil yang membuat seluruh tubuh Thalia meremang.


"Dave it's too early … " Thalia berusaha menghentikan David tapi tubuhnya mengkhianati dirinya. Yang keluar dari mulutnya ******* dan erangan kecil, mengiringi sentuhan David yang semakin intens di balik selimut.


"I don't care, beb, I want you now."


David memberikan sentuhan dan memperlakukan Thalia dengan lembut di setiap titik sensitif nya membuat tubuh Thalia semakin panas. "I love u Thalia."


"Dave …,"


David menyambar bibir Thalia, menikmati setiap sesapan manis yang ia inginkan semakin dalam dan dalam … menuntut Thalia memberikan lebih. Gigitan kecil yang basah di ceruk leher dan sentuhan David pada bagian depan membuat Thalia mabuk kepayang dan melepaskan suara-suara indah yang menggoda David.


"You're mine now and forever." bisik David sembari memberikan gigitan kecil pada telinga Thalia.


"I love you David." Thalia mengerang merasakan sentuhan demi sentuhan David yang semakin liar. Mereka saling menyentuh dan mengusap hingga akhirnya keduanya melepaskan semua pada titik puncak yang basah.

__ADS_1


"Thank you Thalia, I love you so much."


"I love you too, Dave."


Pagi yang basah dan lengket dilewati keduanya untuk pertama kalinya sebelum akhirnya mereka kembali tertidur karena kelelahan.


...----------------...


Erick yang akhirnya bisa tertidur pulas setelah lewat dari jam dua belas malam tiba-tiba saja terbangun. Kepalanya dipusingkan dengan suara erangan wanita yang ia kenali suaranya.


"What the hell, jam berapa ini?!"


Erick kembali mengumpat dan memaki dirinya yang kembali tersadar dari tidurnya. Pikiran kotor dan bayangan kelebatan Thalia kembali muncul membuat dirinya pusing.


"Gila! Mau sampai kapan saya begini?!"


Erick berusaha mengabaikannya dan berusaha kembali tertidur, tapi sekali lagi suara Thalia yang menggoda bahkan sentuhannya terasa nyata membuat Erick mau tidak mau merasakan ketegangan lagi di bagian bawahnya.


"Damn Thalia, again? It's so early!"


Erick merasakan nafasnya memburu, ia merasakan hasrat Thalia. "I hate this moment, Thalia!"


"Dia juga merasakan yang sama dulu, I'm sorry Thalia … andai egoku untuk memasukkan mantra dalam tulisan bisa aku tahan, semua ini nggak akan terjadi pada kita." Erick menyesali kebodohannya yang memasukkan mantra keluarga dalam cerita.


Kepala Erick terasa pusing menahan hasratnya yang muncul tanpa permisi. Mulutnya terus mengeluarkan kata-kata makian dan umpatan merutuki kebodohannya.


"Kalau begini terus bisa-bisa aku pindahin kasur sekalian ke kamar mandi! Duh, mana sabun habis lagi … damn Thalia mau berapa kali lagi saya harus mandi!"


Dan hari itu Erick pun membatalkan janjinya dengan sang kekasih. Dirinya takut jika hasrat itu muncul tanpa permisi karena Thalia.


"S***, puasa deh hari ini. Bisa-bisa anak orang cuil gegara kamu Thalia!"


Dalam alam bawah sadarnya, Thalia hanya tersenyum. Ia tahu Erick sedang tersiksa dan memaki dirinya sendiri.


"I'm sorry Erick, kamu kan yang suruh aku cari penggantimu? Jadi … nikmati saja!"


 

__ADS_1


__ADS_2