Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 72


__ADS_3

File Qiara masih tergeletak dimeja Thalia. Ia menghela nafas panjang, dengan malas Thalia membuka dan menambahkan beberapa catatan sebagai bagian dari rekam medis Qiara.


 File ini nantinya akan disatukan dengan laporan lain yang diminta pihak kepolisian. Selanjutnya entah akan dibawa kemana laporan itu. Thalia hanya menjalankan tugasnya sebagai salah satu dokter yang menangani Qiara.


Thalia kembali teringat pada Qiara, mata terakhir yang ditatap Qiara adalah Thalia yang gagal menyelamatkan nyawanya. Ia kembali menghela nafas panjang, dan memejamkan kedua matanya. Rasa sedih kembali menjalari Thalia. 


Qiara, maafin Tante dokter ya …,


Pintu ruangan prakteknya diketuk, Winda kembali masuk ke dalam ruangan. Ia membawa tumpukan berkas rekam medis milik pasien yang akan ditanganinya.


"Dokter, ini semua file yang dokter minta!"


Thalia yang sedang membuka ponselnya terkejut melihat tumpukan berkas yang dibawa Winda.


"Kok banyak banget gini?"


"Kan dokter yang tadi nyuruh bawa file pasien?"


"Ya tapi kan saya bilangnya cuma hari ini sama besok, Win?!"


"Hari ini kosong dok, besok juga kosong … jadwal dokter seminggu ini kosong?!" 


"Eh, kok bisa gitu Win? Aneh bener?"


"Bu Direktur yang nyuruh dok, beliau minta seminggu ini jadwal untuk dokter dikosongkan dulu. Biar dokter tenang katanya." jawab Winda kalem, ia mulai menata file di meja Thalia.


"Terus ini buat apa Win kalo emang jadwal saya kosong?" Thalia keheranan.


"Ya buat kerjaan dokter aja, saya juga bingung tadi mau kasih dokter yang mana?" 


"Astaghfirullah, Windaaaaa …"


Entah apa yang ada dipikiran Winda tapi hal itu cukup membuat Thalia stres. Tidak semua tumpukan file yang dibawa Winda itu dalam penanganan dirinya. Ada jg pasien dari Prof. Budi.

__ADS_1


"Win, jadwal Prof. Budi kapan?"


"Hari ini ada jadwal dia dok."


"Sampai jam berapa Win?"


"Terakhir jam dua siang, habis itu dia harus isi seminar di tempat dia mengajar."


Thalia melihat jam di dinding. Ada waktu jeda sekitar lima belas sampai dua puluh menit bagi Thalia untuk menemui Prof. Budi.


"Kamu tunggu disini, saya ada perlu bentar sama dia?!"


"Prof. Budi? Oke dok saya tunggu, jangan lama-lama ya dok, agak ngeri saya di ruangan dokter?!" pinta Winda disambut anggukan setuju dari Thalia.


Ruangan Prof. Budi terletak di lantai dua persis di atas ruangan Thalia. Beliau diberi ruangan khusus karena rangkap jabatan sebagai salah satu petinggi rumah sakit. Thalia bergegas menuju ke ruangannya. Beruntung bagi Thalia karena belum ada pasien yang masuk. Thalia mengatur nafasnya sejenak lalu mengetuk pintu ruangan.


"Masuk!" Suara bariton terdengar merespon ketukannya.


"Siang prof." sapa Thalia sesaat setelah membuka pintu.


"Hhmm, dokter Thalia?"


"Iya dok, ehm boleh saya duduk?" tanya Thalia sedikit ragu.


"Oh tentu silahkan, gimana nih kok datang kemari apa ada masalah?" tanya prof. Budi pada Thalia.


"Nggak sih, saya cuma mau ngobrol sama dokter aja?" 


"Kok tumben nih ngajakin saya ngobrol?" Prof. Budi meletakkan penanya dan tersenyum pada Thalia.


"Profesor saya butuh bantuan anda untuk menganalisa masalah saya."


Thalia mulai bercerita. Profesor Budi mengerutkan keningnya, ia benar-benar dibuat penasaran dengan  masalah yang Thalia hadapi. Dengan sabar profesor Budi mendengarkan setiap perkataan Thalia. 

__ADS_1


Ini tentang perasaannya pada Erick. Sebuah cerita yang Thalia anggap aneh dan tabu untuk diungkapkan, mengalir begitu saja dari mulut Thalia.


"Apa menurut profesor saya gila?" tanya Thalia perlahan.


Profesor Budi yang sedari tadi terdiam dan memperhatikan kini menatap Thalia dengan tajam, ia menghela nafas panjang dan melipat kedua tangannya di dada.


"Thalia … ini cerita yang unik, tapi boleh saya nanya nggak?" 


"Tentu."


"Kamu tidak dalam pengaruh obat apa pun kan? Maksudnya, anti depresan?"


"Saya nggak pake obat apapun. Menurut dokter gimana, apa yang saya rasakan cuma ilusi atau bagian dari sindrom?"


"Terkadang suatu keadaan bisa menekan syaraf perasa kita menjadi lebih sensitif. Bisa jadi yang kamu rasakan sekarang hanya bagian dari keinginan alam bawah sadarnya untuk memiliki seorang pendamping."


"Maksud profesor ini hanya sebuah ilusi dari keinginan saya? Lalu gimana dokter bisa jelasin rasa tidak nyaman yang membuat saya juga dia terhubung?" Thalia penasaran.


"Bisa jadi seperti itu Thalia. Tapi tiap kasus mungkin berbeda tidak bisa kita sama ratakan. Tentang rasa itu saya pikir lebih ke arah kekuatan intuisi saja. Kamu memiliki intuisi yang tinggi jadi saat dirimu merasa dekat dengan dia kamu bisa merasakan kehadiran dirinya melalui bisikan dan gerakan hati." Profesor Budi mencoba menjelaskan pada Thalia dari sisi medis yang ia ketahui.


"Tapi prof, kenapa rasa itu sangat nyata? Saya bahkan bisa merasakan emosinya, terkadang saya bahkan bisa melihat dirinya." tanya Thalia lagi.


"Setiap orang memiliki keistimewaan yang unik, dan dirimu salah satunya. Saya dengar kamu bahkan bisa melihat hal-hal yang ada diluar nalar kan? Kekuatan intuisi mu membawamu pada tingkatan yang lebih tinggi ditambah dengan kemampuan alami yang Tuhan berikan itu bikin kamu merasa selalu ada didekatnya. Simpelnya apa yang kamu rasakan lebih mirip telepati yang dimiliki anak kembar."


Jawaban dari profesor Budi belum memuaskan rasa penasaran Thalia. Tapi sebuah ketukan terpaksa mengakhiri pertanyaan untuk profesor Budi.


"Konseling terakhir sudah siap prof, apa saya panggilkan sekarang?" tanya suster asisten profesor Budi.


"Ah, sepertinya konseling saya juga harus selesai prof. Kalo ada waktu saya mau sharing lagi bisa ya prof?" tanya Thalia sambil undur diri.


"Tentu, dengan senang hati." jawabnya dengan senyuman.


Thalia hendak melangkah keluar ketika profesor Budi mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Thalia, beri kesempatan Ardi untuk mendekatimu. Setidaknya dia bisa mengalihkan perhatianmu dari rasa tidak nyaman itu kan?"


Wah satu lagi pendukung kubu Ardi disini, apa tidak ada pendukung Erick?


__ADS_2